Krisis Internal dan Pergerakan Baru Israel di Kawasan

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

Berita pergerakan terbaru menunjukkan petualangan militer Rezim Zionis Israel di perbatasan Palestina pendudukan. Dalam hal ini berbagai sumber pemberitaan melaporkan pergerakan luas militer Israel di wilayah perbatasan Suriah dan Mesir. Bersamaan dengan pergerakan militer Israel di wilayah perbatasan ini, petinggi militer Israel membenarkan pemanggilan 22 brigade cadangan. Mereka mengingatkan bahwa Knesset juga setuju dengan pemanggilan ribuan pasukan cadangan militer rezim ini.

 

Menurut laporan Koran Maariv, komisi kebijakan luar negeri dan keamanan Knesset menyepakati pengerahan ribuan serdadu cadangan militer rezim ini yang tergabung di 22 brigade. Berdasarkan undang-undang militer Israel, pasukan cadangan selama satu tahun harus mengikuti wajib militer selama 25 hari, namun serdadu-serdadu ini telah mengakhiri masa wajib militernya dan kembali dipanggil untuk melaksanakan tugas.

 

Babak baru pergerakan militer Israel di kawasan dan berlanjutnya kebijakan haus perang serta arogan Israel menunjukkan bahwa rezim ilegal ini tengah mempersiapkan peluang bagi kemajuan politik penjajahannya di kawasan dengan meningkatkan aksi militernya dan memicu ketakutan.

 

Israel adalah sebuah rezim penjajah dan kini juga tengah berusaha memanfaatkan kondisi di negara Arab yang sedang menghadapi krisis internal untuk meningkatkan arogansinya di kawasan. Masalah ini kian membuka opini publik tentang eksistensi rezim Zionis yang berdiri di atas asas perang, kekerasan dan penjajahan.

 

Pada dasarnya Israel sebuah rezim yang tidak meyakini adanya perdamaian dan memandang perundingan dan perjanjian damai sebagai sarana untuk memajukan kebijakan haus perangnya. Sikap Israel yang selalu tidak komitmen dapat disaksikan di perjanjian Camp David antara rezim ini dan Mesir yang sedikit banyak menjamin kepentingan Tel Aviv di Kairo. Ini mengindikasikan dengan jelas bahwa perjanjian damai dengan Israel bukannya menghentikan arogansi rezim ini, bahkan membuat Tel Aviv kian keras kepala dan congkak untuk melanjutkan kebijakan haus perangnya.

 

Pelanggaran kedaulatan Mesir oleh Rezim Zionis Israel dalam beberapa bulan terakhir dan pelanggaran zona udara negara ini serta bombardir kawasan perbatasan Mesir yang mengakibatkan korban tewas dan terluka di pihak militer Mesir menguatkan hal ini. Sekali lagi harus disadari dengan benar bahwa Rezim Zionis Israel tidak pernah akan mematuhi perjanjian damai apapun. Ini suatu kebenaran dan telah dibuktikan oleh sejarah.

 

Pengamat politik memandang bahwa babak baru arogansi Israel di kawasan sangat terkait dengan kondisi internal rezim ini baik politik maupun ekonomi. Apalagi kini mulai santer beredar berita tentang kemungkinan runtuhnya kabinet koalisi Israel dan digelarnya pemilu dini. Dalam kondisi seperti ini Israel benar-benar dihadapkan pada kondisi sangat sulit. Untuk itu, Israel guna memalingkan opini publik dari parahnya kondisi internal yang mereka hadapi mulai melakukan pendekatan dan persatuan di antara kubu politik dengan harapan mampu mengurangi eskalasi friksi internal.

 

Namun dalamnya friksi dan perang kekuasaan antara kubu politik Israel terkait mekanisme menangani kebijakan arogansinya dan ketakutan mereka atas dampak dari politik petualangan mereka masih belum mampu membawa keluar rezim ini dari kondisi krisis saat ini.

 

Yang pasti, setiap aksi petualangan Rezim Zionis akan menuai reaksi keras dari rakyat kawasan. Sikap Suriah dan Mesir yang menekankan akan menjawab setiap pelanggaran Israel menguatkan realita bahwa aksi petualangan Israel di kawasan akan menjadi sebuah kekalahan lain yang memalukan bagi rezim ilegal ini. (IRIB Indonesia/MF)

Tags:

Comments

Name
Mail Address
Description