Pembantaian Massal Sabra dan Shatila dan Dokumen Keterlibatan AS

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

 

Tiga puluh tahun berlalu sejak tragedi pembantaian para pengungsi Palestina di kamp Sabra dan Shatila. Untuk pertama kalinya, dokumen-dokumen berkaitan dengan pertemuan para pejabat Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel terungkap yang mengindikasikan keterlibatan AS dalam kejahatan bengis itu.

 

Berdasarkan dokumen yang dirilis di hari-hari peringatan pembantaian Sabra dan Shatila, Amerika Serikat terlibat dalam pembunuhan ribuan warga Palestina di kamp pengungsian. Mantan perdana menteri Israel Ariel Sharon, yang saat itu menjabat sebagai menteri peperangan rezim Zionis, juga terlibat dalam kejahatan sadis yang terjadi pada 1982 tersebut.

 

Terungkap lima dokumen baru berkaitan dengan perisitwa di tanggal 15 hingga 20 September 1982 yang mengungkap rahasia keterlibatan Amerika Serikat dalam pembantian terhadap 3.300 warga Palestina dan Lebanon di Sabra dan Shatila.

 

Dokumen itu diungkap oleh Seth Anziska, seorang kandidat doktor di Universitas Columbia Amerika dan dipublikasikan oleh New York Times 16 September 2012. Menurutnya, ketika peran Israel sudah tidak dapat dipungkiri lagi dalam peristiwa tersebut, selama ini aksi-aksi Amerika dalam hal ini juga tidak dipahami dengan baik. Seth menemukan dokumen rahasia tentang percakapan antara para pejabat Amerika Serikat dan Israel pada saat pembantaian berlangsung.

 

Dalam artikel yang berjudul "A Preventable Massacre"  itu, Seth menyinggung percakapan antara Benyamin Netanyahu (Menteri Peperangan Israel) dan utusan Amerika Serikat untuk Timur Tengah Morris Drapper.  

 

Disebutkan bahwa pada tanggal 17 September 1982, yaitu pada puncak tragedi pembantaian warga sipil di Sabra dan Shatila, Draper bertemu dan berdialog dengan Sharon. Dalam  percakapan itu, Sharon mengatakan, "Apakah Anda takut bahwa ada pihak yang berpikir bahwa Anda berkolusi dengan kami? Bantah saja. Kami membantahnya."

 

Pembantaian di Sabra dan Shatila terjadi pada Kamis 16 September 1982 dan terus berlangsung hingga hari Jumat dan berakhir Sabtu pagi. Militer Zionis bekerjasama dengan milisi Phalangis melanjutkan pembantaian bahkan pada malam hari.

 

Dalam percakapan dengan Draper, Sharon menegaskan bahwa Israel tetap akan membunuh warga Palestina itu dan menuntut Amerika Serikat untuk tidak ikut campur. Draper pun mereaksi masalah ini dengan menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak berniat untuk menyelamatkan warga Palestina itu.  

 

Beberapa tahun sebelum Draper meninggal pada tahun 2005, ia menyatakan pernah mengatakan kepada Sharon: "Anda harus malu. Situasi ini benar-benar mengerikan. Mereka membunuh anak-anak! Kendali kondisi (kala itu) benar-benar di tangan Anda dan karena itu Anda bertanggung jawab atas wilayah itu."

 

Pada tanggal 18 September, Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan meluapkan kemarahan dan kebenciannya atas pembantaian di Sabra dan Shatila. Menteri Luar Negeri AS George P. Shultz kemudian mengakui bahwa "AS ikut bertanggung jawab." Dia memanggil Duta Besar Israel Arens dan mengatakan "Ketika Anda menguasai sebuah kota dengan kontrol militer, Anda bertanggung jawab atas apa yang terjadi, dan sekarang kami menyaksikan pembantaian."

 

Beberapa hari sebelum pembantaian Sabra dan Shatila, berdasarkan kesepakatan yang telah ditandatangani antara Dubes AS untuk Lebanon, Philip Habib dan kelompok PLO, menurut rencana pasukan multinasional yang terdiri dari 800 marinir Amerika Serikat bersama pasukan Perancis dan Italia tiba di Beirut untuk mengawasi keluarnya pasukan PLO dari kamp-kamp.  

 

Menurut rencana militer Israel juga keluar dari wilayah Lebanon secara bersamaan. Akan tetapi Israel tidak menepati janji dan bercokol di Lebanon. Di sisi lain, sebelum berakhirnya batas waktu, tepat dua sebelum tragedi di Sabra dan Shatila, pemerintah Amerika menarik mundur semua pasukannya dari Lebanon dengan cepat agar persiapan pembantaian terwujud. (IRIB Indonesia/MZ)

Baca artikel Seth Anziska di sini

Tags:

Comments

Name
Mail Address
Description