Bayang-bayang Perpecahan dan Pemilu Legislatif Libya

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

Rakyat Libya mulai memberikan suaranya untuk memilih 200 kursi parlemen dalam pemilu demokratis pertama di negara itu setelah puluhan tahun dikuasai oleh rezim Muammar Gaddafi. Pemungutan suara bersejarah tersebut dimulai pada Sabtu pagi (7/7) pukul 08:00 waktu setempat, dan dibayangi oleh kekerasan dan aksi sabotase di bagian timur Libya.

 

Menurut laporan militer Libya, seorang petugas pemilu tewas setelah pria bersenjata menyerang helikopter yang membawa kertas-kertas suara di timur kota Benghazi pada Jumat. Undang-undang pemilu nasional Libya menempatkan 60 kursi di wilayah sebelah timur dan 102 lainnya di barat, sedangkan sisanya, 38 kursi, ditempatkan diseluruh negeri.

 

Namun, sejumlah pihak dari revolusioner dan pemimpin pro-otonomi di bagian timur Libya menuntut jatah yang lebih besar, serta menyerukan masyarakat untuk memboikot pemilu dan mengancam akan menghambat proses pemungutan suara.

 

Krisis yang ada ini membuat sejumlah pejabat daerah khawatir atas pemilu yang aman dan tenang. Sementara itu, mekanisme pembagian jatah di parlemen memicu berbagai friksi yang saat ini tengah berkembang di Libya. Mereka yang memprotes pembagian kursi parlemen menegaskan, jatah di parlemen harus dibagi rata di antara kubu politik. Dalam beberapa hari ini, kubu oposisi menekan pemerintah dan berusaha meraih konsesi lebih besar dengan memblokade dua pangkalan minyak dan menghentikan pengeboran minyak di dua pangkalan tersebut.

 

Kerusuhan terbaru di Libya sangat mempengaruhi ekspor minyak mentah negara ini. Jasa transportasi laut menyatakan, lebih dari separuh kapasitas ekspor minyak mentah Libya terhenti dan ekspor minyak mentah negara ini turun sekitar 300 ribu barel perhari. Di sisi lain, kelompok pro pemerintahan federal  tetap menekankan tuntutan mereka serta mengancam jika pemerintah tidak memperhatikan tuntutan mereka selain memboikot pemilu, kelompok ini juga siap melakukan huru hara guna menganggu jalannya pemilu parlemen di Libya.

 

Sementara itu, para petinggi Libya menilai partisipasi di pemilu parlemen kali ini merupakan kewajiban nasional dan mereka mengajak seluruh rakyat untuk meramaikan pemilu kali ini. Tak hanya itu, mereka berjanji berusaha menghapus diskriminasi dan sentralitas yang ada di era rezim terdahulu.

 

Para pengamat memprediksikan mekanisme pembagian kursi parlemen akan berujung pada perang saudara antara wilayah timur dan barat Libya. Sementara itu, parlemen Libya memiliki 200 anggota dan bertanggung jawab membentuk pemerintahan baru serta menentukan dewan perevisi undang-undang dasar dan menyusunnya kembali.

 

Sejumlah pengamat memperingatkan kondisi saat ini di Libya, khususnya konspirasi busuk pihak asing untuk memecah belah negara ini. Menurut mereka posisi strategis dan kekayaan alam melimpah Libya menjadi sasaran empuk asing untuk memecah belah negara ini.

 

Masih menurut para pengamat, imperialis dunia telah menjalankan strategi yang memang telah disusun sejak lama untuk memecah belah kesatuan Libya. Strategi ini menunjukkan bahwa pihak asing telah berencana membagi Libya menjadi lima wilayah ferderal yang meliputi, Brega, Tripoli, Misrata, Jabal Nafusa dan Fezzan.

 

Sepertinya rencana memecah belah negara-negara Afrika dimulai dari Sudan dan secara bertahap diterapkan ke wilayah lain. Pemecah belahan negara kawasan akan berujung pada lemahnya pemerintah pusat dan terbukanya peluang asing untuk menguasai negara ini. Sistem kesukuan di Libya dan tuntutan mereka untuk mendapat jatah di pemerintahan berubah menjadi polemik rumit. Menurut keyakinan para pengamat, satu-satunya jalan untuk menghadapi konspirasi regional dan trans-regional adalah dengan menggalakkan persatuan dan kewaspadaan. (IRIB Indonesia/MF)

Tags:

Comments

Name
Mail Address
Description