Dinding Hambatan Perundingan Iran-Barat

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

Perundingan antara Iran dan kelompok 5+1 baru saja berakhir pekan lalu. Tampaknya sejumlah agenda masih mengganjal dan kedua pihak bersepakat untuk melanjutkan pertemuan di Moskow pada 18-19 Juni mendatang.

 

Tehran memandang perundingan akan mencapai kemajuan signifikan jika kedua belah pihak menjunjung prinsip saling percaya dan menghargai sebagai koridor umum.Terkait hal ini, wakil Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran menilai kemajuan perundingan ditentukan oleh aksi praktis yang dilakukan pihak lawan.

 

Ali Bagheri dalam wawancara spesial dengan televisi chanel 2 Iran menyinggung proses perundingan yang berjalan alot antara Iran dan kelompok 5+1 dalam beberapa tahun terakhir. Selama ini, tutur Bagheri, prasyarat dan tekanan merupakan penghambat utama tercapainya kesepakatan antara kedua belah pihak.

 

Menyinggung pengakuan kelompok 5+1 terhadap hak legal Iran sebagai penandatanganan NPT dan anggota IAEA untuk memanfaatkan energi nuklir sipil yang dikemukakan di Istanbul, wakil sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran itu mengatakan, "Kami menegaskan kami akan serius jika pihak Barat menunjukkan keseriusannya untuk melangkah setahap demi setahap secara ril dan jelas. Tapi memasuki arena sanksi bukan hanya tidak membuahkan hasil, bahkan potensi kewibawaan bangsa Iran semakin nampak."

 

Iran adalah anggota penandatangan traktat NPT, dan hanya bertindak mengenai masalah nuklirnya sesuai dengan kesepakatan tersebut. Inilah pijakan Tehran berunding dengan kelompok 5+1. Namun sejumlah politisi dan media berupaya mencoreng program nuklir Iran dengan menggembar-gemborkan kebohongan bahwa Iran mengarahkan aktivitas nuklirnya untuk tujuan damai.

 

Dengan dalih mengkhawatirkan program nuklir Iran, segelintir negara Barat terutama AS merupakan negara produsen terbesar senjata nuklir, sekaligus penyuplai hulu ledak nuklir bagi Israel. Terang saja, sikap mereka bertentangan dengan traktat NPT.

 

Republik Islam Iran tidak pernah berambisi untuk memproduksi senjata nuklir. Laporan terbaru Dirjen IAEA, Yukiya Amano kembali menegaskan indikasi tidak adanya aktivitas yang mengarah pada produksi senjata nuklir di Iran. Penyelidikan yang dilakukan inspektur IAEA terhadap 16 pusat nuklir dan 10 tempat terkait lainnya menunjukkan tidak ada tanda-tanda penyimpangan dari status sipil menuju militer dalam program nuklir Iran.

 

Bagi Barat sendiri, perundingan Baghdad memberi pesan penting mengenai resistensi Iran dalam memperjuangkan haknya sebagai penandatangan traktat non-proliferasi nuklir dan anggota IAEA. Selain itu, kesepakatan kedua belah pihak untuk melanjutkan perundingan menunjukkan terjadinya peningkatan pengakuan Barat terhadap hak Republik Islam Iran dalam menggunakan haknya memanfaatkan energi nuklir untuk tujuan damai.

 

Sejatinya, dinding hambatan besar yang senantiasa menghalangi tercapainya kesepakatan tentang nuklir sipil Iran adalah sikap Barat sendiri yang menekankan kepentingan politis yang tidak jelas haluannya daripada menjadikan NPT sebagai pijakan dalam perundingan. (IRIB Indonesia/PH)

Tags:

Comments

Name
Mail Address
Description