Ekonomi Muqawama: Kemajuan Industri Pertahanan Iran

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

 

 

Kini lembaran sejarah Revolusi Islam Iran telah memasuki usia ke 34 dan selama ini bangsa Iran berjuang keras melawan konspirasi serta represi musuh. Bangsa ini juga kenyang dengan pengalaman makar musuh, bahkan sempat menggelar perang pertahanan suci selama delapan tahun membendung agresi mantan diktator Irak, Saddam Husein. Namun demikian bangsa ini berdiri tegak dan melawan seluruh konspirasi musuh.

 

Tak diragukan lagi, sektor ekonomi juga menjadi arena perang dan sebuah bangsa yang mampu keluar sebagai pemenang di medan ini sejatinya telah memperkokoh mata rantai muqawama di bidang pertahanan. Ekonomi muqawama dan penekanan Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei terkait masalah ini cukup signifikan. Ekonomi muqawama juga sangat membantu perjuangan rakyat Iran dalam melawan konspirasi arogan dunia khususnya Amerika Serikat.

 

Di bagian yang lalu kami telah menyajikan topik ini melalui berbagai sisi dan kini kami akan menyajikan pembahasan ekonomi muqawama dari sisi yang lain khusus menyoroti muqawama dengan poros peningkatan kemampuan pertahanan dengan memanfaatkan kapasitas sumber daya dalam negeri.

 

Pasca kemenangan Revolusi Islam Iran, kubu arogan dunia berusaha menundukkan bangsa Iran dengan menggunakan berbagai strategi busuk. Salah satunya adalah perang yang dipaksakan Saddam Hussein terhadap Iran. Berkat persatuan dan perlawanan gigih rakyat Iran, perang delapan tahun ini akhirnya dimenangkan Iran. Pengalaman perang merupakan keuntungan tersendiri bagi Iran sehingga bangsa ini kian percaya diri atas kemampuannya menghadapi musuh.

 

Republik Islam Iran selama 34 tahun ini mencapai kemajuan signifikan di sektor pertahanan laut, udara dan darat. Keberhasilan ini dicapai Iran dalam kondisi dijatuhi sanksi ekonomi oleh Barat sejak kemenangan Revolusi Islam hingga kini. Bahkan Iran tidak mendapat peralatan dan senjata militer yang mereka beli dengan uang tunai dari Amerika Serikat serta negara-negara Eropa. Sikap Barat ini ditujukan untuk menghancurkan Revolusi Islam dan mengembalikan Iran ke kondisi sebelum revolusi.

 

Para pakar dan teknisi Iran juga bangkit melawan tekanan musuh dan perlawanan ini membuahkan hasil besar berupa kemandirian. Bukti nyata adalah keberhasilan sektor pertahanan yang dicapai dengan memanfaatkan sumber daya lokal serta mampu menjebol sejumlah teknologi yang selama ini dimonopoli negara maju. Upaya ini di tahun-tahun terakhir kian pesat, khususnya di ketika AS meningkatkan sanksinya terhadap Tehran. Industri pertahanan Iran di saat seperti ini mengadendakan produksi sofware dan peralatan militer lainnya dengan mengandalkan teknisi dalam negeri. Kini para teknisi Iran telah berhasil merancang peralatan militer penting dunia dengan bertumpu pada kemampuan lokal dan memproduksinya.

 

Selain itu, produksi berbagai roket dan rudal dengan beragam daya pelacak serta jelajah yang disertai kemampuan radar tinggi, pembuatan suku cadang helikopter dan jet tempur dan sistem radar, reparasi, pemeliharaan dan modernisasi senjata, penggapaian teknologi maju di perang gerilya dan elektronik merupakan hasil besar yang dicapai Iran di tengah sanksi Barat. Kemampuan Iran menundukkan dan menangkap sentinel canggih Amerika Serikat RQ170 tahun lalu di wilayah timur negara ini menunjukkan kemampuan Iran di perang elektronik.

 

Kemajuan lain yang dicapai Iran di bidang pertahanan adalah kemampuannya dalam menjaga wilayah teretorialnya. Bahkan Iran juga mengirim armada lautnya untuk menggelar operasi di perairan internasional termasuk di Laut Mediterania dan menjaga keamanan lalu lintas kapal di perairan Laut Oman mulai dari Selat Hormuz hingga Samudera Hindia. Kehadiran armada laut Iran hingga lebih dari 2000 km dari wilayah perairan negara ini serta di perairan internasional juga menunjukkankekuatan angkatan laut Iran.

 

Capaian lain seperti produksi perahu terbang yang memiliki kemampuan menjalankan operasi laut dengan kecepatan tinggi dan pembuatan kapal perusak Jamaran menambah deretan keberhasilan sistem pertahanan Iran. Kapal Perusak Jamaran termasuk dalam kategori kapal perang anti serangan udara, daratdan kedalaman laut dengan sistem peralatan canggih. Rancangan dan pembuatan kapal perang ini melibatkan banyak pakar dan teknisi dari puluhan universitas serta pusat riset sains dan industri. Kapal perusak Jamaran dilengkapi dengan sistem canggih yang hanya dimiliki oleh beberapa negara tertentu.

 

Iran juga berhasil membuat kapal selam mini dan menengah seperti Ghadir dan Fateh. Kapal selam Fateh berbobot 600 ton dan termasuk tipe kapal selam menengah Republik Islam Iran, yang diperkirakan akan dikerahkan untuk menjaga wilayah perairan negara bersama dengan kapal selam Ghadir. Sama seperti Ghadir, kapal selam Fateh juga memiliki kemampuan bermanuver di perairan dangkal. Fateh mampu menjalankan misi hingga lima pekan di kedalaman lebih dari 200 meter.

 

Selain itu, di masa-masa sulit, Iran masih sempat memproduksi kapal perang berat dan ringan termasuk Landing Craft  yang berbobot 1000 ton, Hovercraft yang memiliki kemampuan menampung 26 orang serta dua ton beban dengan kecepatan 80 km perjam. Hovercraft ini juga memiliki kemampuan radius operasi sejauh 600 km tanpa memerlukan pengisian ulang bahan bakar. Masih banyak lagi keberhasilan angkatan laut Iran termasuk pembuatan perahu perang yang dilengkapi pelontar roket.

 

Salah satu doktrin pertahanan di Iran adalah peningkatan kemampuan menangkal serangan musuh baik di bidang perang lunak atau perangkat keras militer. Pasca Perang Pertahanan Suci di dekade 90-an, Iran memulai riset pembuatan kapal selam di berbagai kelas sesuai dengan kebutuhan negara ini. Produksi kapal selam merupakan salah satu hasil dari jihad ilmiah Iran selama satu dekade. Meski mini, kapal selam ini memiliki kemampuan cukup untuk menambah kemampuan pertahanan Iran.

 

Selain produksi berbagai kapal perang, Iran juga berhasil memproduksi sejumlah jet tempur, radar, pesawat tanpa awak serta rudal jelajah Zafar.Program produksi massal rudal jelajah maritim baru bernama "Zafar" diresmikan oleh Kementerian Pertahanan dan Dukungan Angkatan Bersenjata Iran, Brigjen Ahmad Vahidi.

 

Tipe pertama rudal "Zafar" itu juga telah diserahkan oleh Brigjen Vahidi kepada panglima Angkatan Laut Pasukan Garda Revolusi Islam Iran (Pasdaran), Laksamana Ali Fadavi. Vahidi kepada wartawan mengatakan, "Seperti yang telah kami umumkan sebelumnya, produksi massal rudal Zafar telah dimulai hari ini (Sabtu, 4/2). Rudal ini adalah tipe rudal anti-kapal, jarak dekat dan dengar menggunakan sistem kendali radar. Rudal ini mampu menghancurkan target sedang hingga kecil dengan keakuratan tinggi."

 

Salah satu keunggulan rudal jarak dekat ini, menurut Vahidi, adalah flesibilitasnya untuk dipasang di berbagai jenis perahu cepat dan kapal patroli Iran, serta memiliki sistem penangkal perang elektronik. Rudal ini sepenuhnya hasil kerja keras para ahli militer dalam negeri Iran. Lebih lanjut Vahidi menjelaskan, "Setelah ditembakkan, rudal ini akan menurunkan ketinggiannya dan setelah itu memasuki posisi jelajah sehingga tidak terdeteksi musuh dan pada tahap berikutnya adalah menemukan target pada ketinggian sangat rendah." Menyangkut kecepatan penggunaan rudal tersebut, Vahidi menandaskan, rudal Zafar dapat ditembakkan dalam setiap tiga detik baik secara per unit, maupun multi-shot.

 

Sementara itu, negara Barat khususnya Amerika Serikat ketika menyaksikan kemampuan militer Iran mulai kasak-kusuk dengan menyebar propaganda di kawasan bahwa Republik Islam merupakan ancaman bagi keamanan kawasan. Iran menjawab propaganda Barat tersebut dengan menegaskan bahwa doktrin militer negara ini adalah untuk pertahanan.

 

Di sisi lain, AS beserta sekutunya selama beberapa tahun menempatkan berbagai sistem anti rudal dan menjual miliar dolar senjata serta  jet tempur ke negara Arab di Teluk Persia berusaha menciptakan ketegangan di kawasan. Tak hanya itu, untuk melemahkan perlawanan bangsa Iran, Washington tak segan-segan menerapkan sanksi ekonomi berat dan sepihak kepada Iran. (IRIB Indonesia)

Tags:

Comments

Name
Mail Address
Description