Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Sheikh Abdullah Saleh, wakil Sekjen Amal Islami Bahrain mengatakan, meskipun rezim Al Khalifa melancarkan kebijakan militeristik dengan menerima masuknya warga asing dari delapan negara untuk memberangus protes rakyat, tapi warga Bahrain tetap melanjutkan protes menyuarakan hak mereka.

Iran akan meningkatkan produksi dan ekspor minyaknya hingga dua kali lipat pada era pasca sanksi.

Senin, 09 Mei 2016 08:49

Kecanggihan Kapal Perang PT PAL

Oleh: A. Malik Ibrahim

 

Wakil Presiden M. Jusuf Kalla (JK) hari Minggu ini melepas ekspor perdana kapal perang buatan PT PAL Indonesia ke Filipina, sesuai dengan pesanan kementerian pertahanan negara tersebut.

Presiden Barack Obama dalam pidatonya pada acara wisuda mahasiswa Universitas Howard, mengakui masih adanya rasisme dan ketidaksetaraan di Amerika Serikat, dan mengatakan banyak langkah perlu diambil dalam hal ini.

Bersamaan dengan tersebarnya berita perluasan kerjasama strategis Tel Aviv-Riyadh, mantan ketua dinas rahasia Israel (Mossad) juga membenarkan kerjasama tersebut.

Minggu, 08 Mei 2016 17:27

Nasib Keanggotaan Turki di Uni Eropa

Keanggotaan Turki di Uni Eropa masih terganjal hingga kini akibat penentangan keras negara-negara Barat.

Salman bin Abdulaziz, Raja Arab Saudi, terus melakukan perombakan kabinet negara ini dalam tikungan politik sangat tajam. Pada Sabtu (7/5), Raja Salman menyatakan bahwa perubahan tersebut dalam kerangka program reformasi ekonomi 2030 Arab Saudi.

Penulis bernama Susan Cain yang sukses dengan buku Quiet: The Power of Introverts in a World That Can’t Stop Talking, mengatakan bahwa dirinya sering mendengarkan pernyataan bahwa memiliki sifat introvert adalah hal yang buruk.

 

Namun, dia memiliki kepercayaan bahwa seseorang dengan sifat introvert memiliki kekuatan yang mengantarkan mereka pada sesuatu yang hebat.

Minggu, 08 Mei 2016 07:36

Krisis Irak dan Peringatan PBB

Jan Kubis, utusan PBB di Irak memperingatkan kondisi kemanusiaan di negara ini. Kubis seraya memperingatkan kondisi kemanusiaan di Irak yang semakin parah meminta elit politik dan masyarakat sipil negara ini berusaha menyelesaikan kebuntuan terkini.

Recep Tayyib Erdogan, Presiden Turki kembali menekankan reformasi undang-undang dasar untuk mengubah sistem politik negara ini dari parlementer menjadi kepresidenan. Fars News melaporkan, Erdogan pada Jumat (6/5), mengatakan, sistem parlementer saat ini akan menciptakan krisis. Oleh karena itu, dia mengusulkan sistem kepresidenan kepada masyarakat untuk disetujui.