Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Minggu, 05 Juni 2016 17:41

Upaya Musuh Manipulasi Prestasi Operasi Fallujah

Upaya Musuh Manipulasi Prestasi Operasi Fallujah

Ahmad Jamal, juru bicara menteri luar negeri Irak mengkritik sejumlah negara Arab Teluk Persia karena menjelek-jelekkan operasi pembebasan kota Fallujah dari pendudukan kelompok teroris Takfiri Daesh.

 

Ahmad Jamal Ahad (5/6) saat mereaksi klaim dubes Arab Saudi di Baghdad terkait peran Iran di operasi pembebasan Fallujah menyatakan, ungkapan kekhawatiran diplomat sejumlah negara Arab terkait operasi pembebasan Fallujah mencengangkan. Ahmad Jamal menekankan, pemerintah Irak satu-satunya otoritas yang mampu mengambil keputusan pemanfaatan penasehat militer dari sekutunya bagi kemenangan perang di Fallujah.

 

Atas permintaan pemerintah Haider al-Abadi, perdana menteri Irak, penasehat militer Iran memasuki negara ini dan memberikan jasa konsultasi militer kepada militer Irak di perang melawan Daesh di kota Fallujah. Kinerja Iran mengindikasikan kebijakan transparan Tehran di bidang perang anti terorisme.

 

Bersamaan dengan prestasi militer, pasukan rakyat dan kabilah Provinsi al-Anbar di operasi pembebasan kota Fallujah dari pendudukan Daesh, para sponsor fenomena buruk ini dengan bersandar pada metode usang dan dalam koridor politik pecah belah, memilih strategi pencitraan buruk.

 

Klaim Thamer al-Sabhan, dubes Arab Saudi di Baghdad terkait pendekatan sektarian Iran di Fallujah merupakan puncak pencitraan buruk dan mengindikasikan kemarahan Riyadh terhadap peran positif Tehran di perang kontra terorisme serta kehadirannya di samping militer dan pasukan relawan rakyat Irak dalam menghancurkan Daesh.

 

Selain dubes Arab Saudi, media Arab yang berafiliasi dengan musuh-musuh Irak bersatu, merilis berita palsu dan menilai kehadiran penasihat militer Iran di Irak tidak menguntungkan negara ini serta menurut anggapan mereka, Iran menerapkan kebijakan sektarian. Media ini juga menuding Iran mendukung terorisme. Musuh bangsa Irak dan media yang berafiliasi dengan mereka termasuk Al-Arabiya dan Aljazeera menggulirkan dakwaan palsu dengan niat mengobarkan agitasi di antara bangsa Irak serta memprovokasi mereka memusuhi Republik Islam Iran.

 

Media ini melalui pendekatan terencana dan dengan tujuan mengobarkan perang antar-mazhab, mencitrakan milisi Syiah (al-Hashd al-Shaabi) membantai warga Ahlu Sunnah selama operasi pembebasan Fallujah. Padahal Faisal al-Isawi, salah satu komandan pasukan kabilah Irak baru-baru ini saat diwawancarai televisi Aljazeera menilai tak berdasar klaim televisi ini terkait laporan penumpasan warga sipil di Fallujah. Ia menyatakan, "Hal ini tidak pernah terjadi dan jika setiap warga yang keluar dari Fallujah ditanya, maka semuanya akan menjawab bahwa pasukan Irak memperlakukan mereka dengan baik."

 

Partisipasi pasukan relawan rakyat di operasi pembebasan Fallujah, menunjukkan pandangan trans-etnis Syiah terhadap isu-isu terkait wilayah Sunni yang duduki Daesh. Solidaritas dan membela tanah air serta integritas negara merupakan landasan kinerja al-Hashd al-Shaabi. Irak negara independen dan memiliki kedaulatan tunggal, seluruh etnis berada di bawah satu payung mengedepankan kepentingan nasional ketimbang kepentingan kelompok.

 

Mengingat prisip penting dan vital ini, pemerintah Irak memandang dirinya sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas transformasi nasional dan rencana dakwaan palsu serta pencitraan buruk tidak akan pernah membuat musuh bangsa Irak khususnya Arab Saudi mencapai ambisinya. Yang mempersatukan bangsa Irak di medan pertempuran melawan Daesh di Fallujah dewasa ini adalah adanya ancaman serius terhadap integritas wilayah Irak di mana negara-negara seperti Arab Saudi dengan mensponsori kelompok teroris terus mengejar ambisinya. (MF)

 

 

Selanjutnya di kategori ini: « Reformasi Ekonomi Irak

Add comment