Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Minggu, 05 Juni 2016 12:01

Babak Baru Pelecehan dan Hegemoni Israel di Al-Quds

Babak Baru Pelecehan dan Hegemoni Israel di Al-Quds

Berita baru menyebutkan Zionis menuntut serangan lebih besar ke Masjid al-Aqsa. Zionis ekstrim sejak beberapa pekan lalu, melalui jejaring sosial, menuntut partisipasi luas warga Zionis dalam serangan besar-besaran ke Masjid al-Aqsa pada hari Ahad (5/6).

 

Hari Ahad bertepatan dengan peringatan pendudukan Baitul Maqdis timur ke 49 oleh militer Israel di tahun 1967.

 

Dalam hal ini, kabinet rezim Zionis di peringatan pendudukan Baitul Maqdis timur ke-49 mengkonfirmasi alokasi bujet 220 juta dolar bagi perluasan proyek distrik Zionis dan judaisasi Baitul Maqdis.

 

Israel pada tahun 1948 menduduki sebagian wilayah Palestina termasuk Baitul Maqdis timur dan mengumumkan eksistensi ilegalnya melalui konspirasi dan dukungan pemerintah Barat khususnya Inggris. Selanjutnya Israel mengobarkan perang di kawasan pada tahun 1967 yang dikenal dengan perang enam hari. Hasil dari perang enam hari ini adalah pendudukan wilayah lain Palestina serta sebagian wilayah negara Arab seperti Baitul Maqdis timur, Jalur Gaza, Tepi Barat Sungai Jordan, sebagian Gurun Sinai Mesir dan Dataran Tinggi Golan Suriah.

 

Langkah agresif rezim Zionis tidak terbatas pada aksi-aksi pendudukan dan konspirasi, pada tahun 1980, parlemen Israel meratifikasi keputusan menganeksasi Baitul Maqdis ke dalam wilayah rezim ilegal ini. Tak hanya itu, parlemen rezim Zioni kemudian mengumumkan bahwa Baitul Maqdis ibukota Israel dan menyeru berbagai negara dunia yang memiliki kedutaan besar di Palestina pendudukan untuk merelokasinya dari Tel Aviv ke Baitul Maqdis.

 

Seruan ini menuai reaksi keras opini publik dan eskalasi protes bahkan mendorong mayoritas negara Eropa dan Amerika Serikat secara praktis menolak memindahkan kedutaan besarnya ke Baitul Maqdis.

 

Sementara itu, antara tahun 1948-1967 ketika perang bulan Juni meletus, rezim Zionis memindahkan gedung parlemen (Knesset), museum, kantor perdana menteri dari Tel Aviv ke Baitul Maqdis barat.

 

Aksi arogan Israel tidak terbatas pada aksi perusakan dan ekspansi di Baitul Maqdis, bahkan tempat suci umat Islam khususnya Masjid al-Aqsa senantiasa menjadi target pelecehan rezim ilegal ini. Aksi pelecehan tersebut selama beberapa bulan terakhir semakin gencar.

 

Pergerakan baru Israel melancarkan aksi provokatif dengan memasuki kompleks Masjid al-Aqsa dan melakukan perusakan di tempat suci ini membuktikan langkah provokatif rezim ilegal ini seperti tindakan mantan perdana menteri Ariel Sharon di tahun 2000 terhadap situs suci ini.

 

Sejatinya saat itu, aksi pelecehan Ariel Sharon terhadap Masjid al-Aqsa menuai reaksi keras dan memicu babak baru intifada al-Aqsa yang membuat rezim Israel semakin lemah dan kebingungan.

 

Bangsa Palestina menunjukkan bahwa mereka tidak menerima aksi rezim Zionis melecehkan sakralitas Islam dan eskalasi protes anti Zionis selama beberapa bulan terakhir dalam mendukung al-Quds, yang dinilai tokoh Palestina sebagai gerakan untuk mempersiapkan babak baru intifada, yakni intifada al-Quds atau intifada ketiga, membenarkan realita ini.

 

Di sisi lain, dukungan global terhadap al-Quds semakin luas dimensinya dan dalam hal ini UNESCO secara resmi menyatakan dukungannya terhadal al-Quds serta warisan bersejarah di kota ini. (MF)

 

Add comment