Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Sabtu, 04 Juni 2016 12:48

Pertemuan Hollande dan Sekjan NATO

Pertemuan Hollande dan Sekjan NATO

Sekjen Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), Jens Stoltenberg Jumat (3/6) bertemu dengan Presiden Perancis, Francois Hollande.

 

Pertemuan tersebut dibicarakan berbagai isu. Saat jumpa pers, Hollande mengklaim bahwa penempatan sistem anti rudal NATO di Eropa bukan menghadapi Rusia, namun difokuskan untuk menghadapi ancaman dari luar Eropa dan utara Atlantik. Menurut Hollande sistem anti rudal ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan Rusia, bukan mengancam Moskow serta tidak berdampak pada kapasitas defensif strategi Rusia.

 

Presiden Perancis mengatakan, "Ini adalah yang harus kita sampaikan sebelum sidang NATO yang rencananya digelar di Warsawa dalam waktu dekat." Sidang Warsawa akan digelar 8-9 Juli 2016 dengan dihadiri anggota NATO di Polandia. Selain itu, sidang Dewan NATO-Rusia juga digelar dalam waktu dekat di Warsawa. Menurut sekjen NATO, orientasi efensif Rusia dan terorisme merupakan agenda sidang mendatang organisasi ini. Ia mengklaim bahwa Rusia memilih sikap ofensif dan mengancam negara tetangga.

 

Ini merupakan pertama kalinya presiden Perancis menunjukkan sikap terkait penempatan sistem anti rudal Amerika dan NATO di Eropa serta secara transparan membelanya. Sejatinya penempatan sistem anti rudal di Eropa timur kini tercatat sebagai salah satu friksi utama Rusia dan NATO di Eropa. Sekjen NATO pun aktif membela penempatan sistem ini dan berbeda dengan kritik Rusia, ia mengklaim bahwa hal ini bukan ancaman bagi Moskow. Meski demikian Moskow mengkritik keras berlanjutnya penempatan sistem anti rudal khususnya di negara-negara tetangga Rusia.

 

Menurut Rusia, perluasan sistem anti rudal Amerika dan NATO yang memiliki kapasitas pelacakan rudal nuklir strategis Rusia, sama halnya dengan langkah untuk mematahkan kemampuan nuklir Moskow. Hal ini menimbulkan protes berulang petinggi militer dan politik Rusia. Dalam hal ini, Presiden Rusia, Vladimir Putin berulang kali menyebut penempatan sistem anti rudal AS dan Eropa di Eropa sebagai sebuah ancaman.

 

Di sisi lain, seiring dengan naiknya Barack Obama sebagai presiden AS, kita menyaksikan dimulainya kembali rencana penempatan sistem anti rudal negara ini di Eropa dalam bentuknya yang baru. Awalnya sistem anti rudal ini akan ditempatkan di Eropa selatan dan timur dalam empat tahap hingga tahun 2020. Namun kemudian rencana ini diubah dan penempatan sistem ini menjadi tiga tahap serta ditempatkan di Turki, Rumania dan Polandia. Menurut rencana baru ini, penempatan sistem rudal tersebut bakal rampung hingga tahun 2018.

 

Untuk saat ini tahap awal rencana tersebut telah terealisasi, sementara tahap kedua secara resmi dioperasikan pada 12 Mei 2016 di pangkalan militer Deveselu, 180 km barat daya Bucharest dengan dihadiri sekjen NATO dan pejabat tinggi Rumania, Amerika serta NATO.

 

Sementara itu, AS pada 14 Mei 2016 memulai penempatan sistem anti rudalnya di pangkalan militer Redzikowo, utara Polandia dan di dekat pantai Laut Baltik. Dengan demikian,meski adanya protes berulang Rusia, Amerika dan NATO tanpa mengindahkan protes yang ada, terus melanjutkan program penempatan sistem anti rudalnya.

 

Sikap Hollande yang mendukung penempatan sistem anti rudal di Eropa mengindikasikan Paris mengiringi kebijakan NATO dan Amerika dalam melawan Rusia. Hal ini tentu saja akan memicu ketidakpuasan Moskow. (MF)

 

Add comment


Security code
Refresh