Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Sabtu, 04 Juni 2016 11:18

Prospek Gelap Perundingan Damai Palestina-Israel

Prospek Gelap Perundingan Damai Palestina-Israel

Berbagai kubu Palestina menilai penyelenggaraan Konferensi Paris untuk menyelesaikan isu Palestina sebuah langkah yang kontradiksi dengan kepentingan bangsa Palestina.

]

Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas), Jihad Islam, dan Front Pembebasan Rakyat Palestina merilis statemen bersama dan menekankan, prakarsa Paris bagi perdamaian di Palestina bertolak belakang dengan prinsip nasional Palestina dan tujuan dari konferensi ini adalah kembali ke perundingan perdamaian sia-sia dengan rezim Zionis Israel.

 

Kubu ini meyakini muqawama sebagai solusi tunggal melawan rezim penjajah al-Quds dan menyatakan, perundingan damai hanya menguntungkan Tel Aviv.

 

Bangsa Palestina meyakini langkah Paris menyelenggarakan perundingan damai sekedar upaya menyibukkan bangsa ini untuk melupakan hak mereka termasuk menghapus hak kepulangan pengungsi Palestina ke tanah air mereka.

 

Ahmad al-Majdalani, anggota dewan eksekusitf Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) saat mereaksi dimuilainya konferensi Paris mengatakan, rezim Zionis Israel tidak memiliki program untuk perdamaian di bumi Palestina.

 

Konferensi perdamaian Paris untuk menyelesaikan isu Palestina dimulai hari Jumat. Menteri Luar Negeri Perancis, Jean-Marc Ayrault dalam sebuah statemennya mengakui bahwa perundingan langsung antara Israel dan Palestina tidak efektif. Jean-Marc Ayrault sebagai tuan rumah konferensi perdamaian Paris hari Jumat mengklaim Perancis ingin membantu Israel dan Palestina agar berhasil meraih hasil positif di perundingan mereka.

 

Elit Perancis gencar menebah propaganda bahwa Perancis giat mencari solusi untuk memulai perundingan damai Palestina-Israel. Paris mengumpulkan menlu kekuatan besar dunia, namun di sisi lain Perancis tidak mengundang perwakilan Israel dan Palestina. Hasil dari konferensi seperti ini sangat jelas, yakni kegagalan.

 

Perancis di saat menjadi tuan rumah konferensi perdamaian tanpa kehadiran perwakilan Palestina dan Israel, Amerika Serikat sebagai sekutu utama Tel Aviv senantiasa menolak upaya perundingan langsung kedua pihak.

 

Saat ini propaganda dan kampanye Konferensi Paris cukup besar, namun begitu mayoritas elit media meyakini bahwa upaya Paris untuk menghidupkan kembali perundingan antara Israel dan Palestina pasti gagalnya, karena Israel tidak akan memandang hasil apapun dari perundingan.

 

Dalam hal ini, ketua Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa di konferensi Paris mengakuti bahwa implementasi kesepakatan Oslo, kesepakatan yang ditandatangani antara Otorita Ramallah dan Israel di tahun 1993 di ambang kehancuran.

 

Federica Mogherini, ketua Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa yang hadir di konferensi Parsi menggulirkan statemen terkait masa depan perundingan damai serta hubungan negara-negara Arab dengan rezim Zionis Israel.

 

"Kami tidak berencana memaksakan apapun, namun harus dikatakan bahwa tanpa koridor regional dan internasional berbagai pihak pun tidak akan bersedia hadir di meja perundingan," papar Mogherini.

 

Mogherini dalam kesempatan tersebut juga mengkritik sikap Israel terhadap bangsa Palestina termasuk pembangunan distrik Zionis. "Kebijakan pembangunan distrik Zionis dan perusakan rumah warga Palestina, kekerasan dan provokatif jelas sangat merusak masa depan kesepakatan damai," paparnya. (MF)

Add comment


Security code
Refresh