Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Jumat, 03 Juni 2016 16:11

Konferensi Paris, Klaim dan Trik Baru Barat untuk Masalah Palestina

Konferensi Paris, Klaim dan Trik Baru Barat untuk Masalah Palestina
Menjelang diselenggarakannya Konferensi Perdamaian Timur Tengah di Paris, rezim Zionis Israel menyatakan tidak mengakui konferensi ini dan tidak peduli dengan hasilnya.

Dore Gold, Pejabat Kementerian Luar Negeri hari kamis (2/6), sehari sebelum dilaksanakannya Konferensi Perdamaian Timur Tengah di Paris menyebut penentangan rezim ini dengan rencana perdamaian Paris dan mengatakan, "Upaya Perancis untuk menghidupkan kembali dialog perdamaian antara Zionis Israel dan Otorita Palestina pasti gagal dan Israel tidak akan peduli dengan hasilnya."

Benyamin Netanyahu, Perdana Menteri Zionis Israel pekan lalu pasca lawatan Jean-Marc Ayrault, Perdana Menteri Perancis ke Palestina pendudukan (Israel) menolak usulan Perancis untuk memulai kembali perundingan damai dan mengatakan, "Israel menolak mediasi pihak lain untuk menyelesaikan masalah Palestina."

Sekalipun demikian, Mahmoud Abbas, Pemimpin Otorita Palestina menyambut baik pelaksanaan Konferensi Damai Paris. Menurutnya, Israel takut akan upaya perdamaian demi membentuk pemerintahan berdaulat Palestina. Oleh karenanya, mereka menolak Perundingan Damai Paris dan berusaha agar perundingan ini gagal.

Konferensi Perdamaian Paris rencananya diselenggarakan pada 30 Mei di Paris, namun dikarenakan sebagian delegasi belum siap, maka diundur hingga hari ini, Jumat (3/6). Dalam perundingan ini akan hadir menteri-menteri luar negeri dari 20 negara.

Perancis sedang berusaha menyelenggarakan perundingan damai ini tanpa kehadiran wakil dari Palestina dan rezim Zionia Israel. Sementara Amerika sebagai sekutu rezim penjajah al-Quds, senantiasa mendorong dilakukannya perundingan langsung kedua pihak dan menolak usulan perundingan yang menyertakan pihak-pihak lain.

Sekaitan dengan hal ini, faksi-faksi Palestina jelas menolak rencana damai Barat. Sementara para pembela rezim Zionis Israel dengan pelbagai cara dan usulan berusaha mengulur waktu agar cita-cita bangsa Palestina untuk membentuk pemerintahan berdaulat di Bait al-Maqdis menjadi terlupakan.

Sejatinya, pasca kesepakatan damai Oslo pada 1993 bangsa Palestina sudah tidak lagi percaya dengan rencana perundingan damai yang diusulkan Barat. Karena semua rencana ini tidak pernah serius mengeluarkan warga Zionis dari daerah pendudukan tahun 1967, dikembalikannya para pengungsi Palestina dan pembentukan pemerrintahan independen di al-Quds al-Syarif.

Dengan dasar ini, warga dan faksi-faksi Palestina meyakini rencana perundingan damai Perancis hanya bertujuan mempermainkan mereka dan menjamin kepentingan rezim Zionis Israel lebih besar. Karena perundingan ini, lagi-lagi, tidak memperhatikan hak-hak bangsa Palestina, khususnya terkait para pengungsi dan tahanan. Itulah mengapa mereka melihat perundingan ini sama saja dengan usulan Amerika dan perundingan perdamaian Timur Tengah selama 25 tahun terakhir. Yang lebih buruk lagi, semua perundingan ini bahkan tidak mampu menghentikan kejahatan Zionis Israel di kawasan Palestina pendudukan.

Add comment


Security code
Refresh