Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Rabu, 01 Juni 2016 15:18

Kritik Pedas Trump terhadap Media Amerika

Kritik Pedas Trump terhadap Media Amerika

Kandidat finalis Partai Republik dalam pemilu presiden Amerika Serikat mengecam keras media. Donald Trump dalam jumpa pers di kota New York baru-baru ini mengatakan, media sangat menipu dan tidak adil, dan seharunya malu dengan kinerjanya tersebut.

 

Trump menggambarkan media sebagai penipu dan licik. Ia mengatakan, media politik menipu masyarakat dengan cara yang sulit dipercaya. Perseteruan kandidat kontroversial dari Partai Republik ini dengan media kembali ke peristiwa beberapa bulan lalu; yaitu ketika Trump menolak untuk berpartisipasi dalam sebuah debat televisi dan memprotes cara tanya jawab seorang pembawa acara perempuan.

 

Selain itu, kebanyakan media Amerika, bahkan sekelompok majalah milik kubu konservatif di negara ini menulis artikel yang mengkritik keras sikap Trump. Kelompok media tersebut meliput luas slogan dan retorita keras Trump terhadap imigran, Muslim dan perempuan. Hal ini tentunya membuat marah kandidat miliarder dari Partai Republik tersebut.

 

Di sisi lain, pernyataan pengamat politik AS William Kristol yang menyebut akan adanya kandidat independen untuk Partai Republik, telah membuat geram Trump sebagai satu-satunya bakal calon presiden AS dari Partai Republik.

 

Dalam serangkaian pesan melalui akun Twitter-nya, seperti dilansir CNN, Senin, 30 Mei 2016, Trump menyebut Kristol sebagai pengecut yang memalukan dan palsu. Kristol yang dikenal sebagai Bill ini, juga merupakan editor majalah konservatif Weekly Standard.

 

Trump mengatakan, "Partai Republik harus cerdas dan kuat jika ingin menang pada November mendatang (saat digelarnya pemilihan presiden). Jangan biarkan orang kelas ringan memunculkan kandidat independen yang tidak mungkin menang."

 

Trump menanggapi publikasi negatif terhadap dirinya dengan menyebut media sebagai penipu dan tidak adil. Dengan cara seperti ini, ia ingin memeperkenalkan diri sebagai wakil masyarakat. Menurutnya, protes sebanyak mungkin terhadap institusi mapan termasuk media akan mampu mendorong popularitasnya di kalangan masyarakat biasa.

 

Pada umumnya, kandidat-kandidat pemilu Amerika terpaksa bertindak hati-hati dalam berurusan dengan media. Hal ini disebabkan kurangnya sumber-sumber finansial dan ketergantungan mereka kepada kalangan berduit. Mereka menghindari isu-isu sensitif dan bahkan biasanya memuji media untuk mencegah serangan dari para insan media.

 

Namun hal itu ternyata tidak berlaku bagi Trump. Kekayaan yang dimilikinya telah mengizinkan kandidat dari Partai Republik ini untuk mengabaikan dominasi media di Amerika dalam membentuk opini publik di negara ini. Pada saat yang sama, pendekatan agresif Trump di semua isu, dan pidatonya yang jelas dan transparan telah menyebabkan nama dan fotonya lebih banyak dimuat di media dibandingkan dengan para pesaingnya dalam setahun terakhir ini.

 

Di luar Amerika, ketenaran Trump juga sebanding dengan Hillary Clinton yang memiliki pengalaman delapan tahun sebagai "first lady," delapan tahun sebagai senator dan empat tahun menjabat sebagai Menteri Luar Negeri AS.

 

Meski demikian, Trump di internal dan luar Amerika memiliki reputasi buruk dalam beberapa isu. Sebagai contohnya, kandidat kontroversial tersebut dikenal sebagai penentang imigran, minoritas dan perempuan serta menentang Cina, Iran, Arab Saudi, bahkan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

 

Nama buruk Trump pada umumnya terkait dengan para elit, cendekiawan dan lapisan kelas atas Amerika. Sementara ia yakin untuk meraih kursi presiden, ia harus menarik simpati dan dukungan seluas-luasnya dari masyarakat kelas bawah dan orang-orang yang tidak puas dengan kinerja pemerintah. Tampaknya perseteruan Trump dengan media akan berlanjut hingga penyelenggaran pemilu presiden pada bulan November mendatang. (RA)

 

Add comment


Security code
Refresh