Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Rabu, 01 Juni 2016 07:56

Menyorot Lawatan Sekjen NATO ke Polandia

Menyorot Lawatan Sekjen NATO ke Polandia

Sekjen Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), Jens Stoltenberg mengkonfirmasi keputusan organisasi ini untuk meningkatkan kehadiran defensifnya di Eropa timur.

 

Jens Stoltenberg Senin (30/5) saat jumpa pers bersama Presiden Polandia, Andrzej Duda di Warsawa mengungkapkan keputusan NATO untuk meningkatkan kehadirannya di negara Eropa timur. Ia menambahkan, program ini rencananya diterapkan dalam bentuk multinasional serta bergilir. Demikian dilaporkan Reuters.

 

Sampai saat ini belum ada keputusan terkait jumlah pasti pasukan dan lokasi untuk program ini.

 

Stoltenberg mengatakan, keputusan terkait masalah ini akan diambil oleh kepala negara anggota di sidang beberapa pekan mendatang di Warsawa. Masih menurut Stoltenberg, saat ini tengah dikaji usulan dari para komandan strategis dan arsitek militer NATO, karena mereka mengusulkan menempatkan sejumlah brigade dari pasukan NATO di berbagai negara termasuk Polandia dan negara kawasan Baltik.

 

Seraya menakankan poin bahwa NATO akan menempatkan pasukannya di Polandia, Stoltenberg menandaskan, jumlah pasti pasukan tersebut akan diumumkan ketika keputusan diambil.

 

Sekjen NATO mengklaim bahwa seluruh program militer NATO bersifat defensif dan di program ini batas kemampuan serta kesiapan pasukan diuji.

 

"Mengingat seluruh program pelatihan NATO telah dirancang sebelumnya dan sangat transparan, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan dalam kasus ini," papar Stoltenberg.

 

KTT negara anggota NATO akan digelar 8-9 Juli di Warsawa dan ditujukan untuk memberikan jaminan keamanan kepada negara-negara Timur yang menjadi anggota organisasi ini.

 

Sepertinya NATO berencana melanjutkan kebijakan agresifnya dengan dalih ancaman dari Rusia. Kebijakan ini berupa penguatan kehadiran militernya di Eropa timur. Dengan demikian harus ditunggu keputusan penting yang bakal diambil dalam KTT NATO mendatang dalam kasus ini.

 

Poin penting adalah statemen sekjen NATO ini bertepatan dengan tuntutan dewan parlemen NATO. Dewan Parlemen ini meminta negara-negara anggota menambah bujet militernya untuk menghadapi kebijakan Rusia serta memperluas kerjasama di antara mereka. Dipastikan statemen sekjen NATO ini dan tuntutan dewan parlemen menuai reaksi keras dari Moskow.

 

Sementara itu, Rusia beberapa waktu terakhir telah mengungkapkan kekhawatirannya atas eskalasi kehadiran NATO di Laut Hitam di zoa timur organisasi ini. Dalam hal ini, Wakil tetap Rusia di NATO, Alexander Grushko seraya memperingatkan organisasi ini terkait keputusannya memperluas pengaruh militernya di dekat perbatasan air dan udara Rusia, menuding NATO meningkatkan tensi di Luat Hitam. NATO sebagai pakta pertahanan utama Barat tercatat sebagai rival Rusia.

 

Mengingat berbagai bukti saat ini, sepertinya konfrontasi antara Rusia dan NATO akan semakin panas dan berujung pada reaksi keras dari kedua pihak. Dengan sendirinya hal ini berpotensi meningkatkan konfrontasi militer di antara kedua pihak.

 

Sejatinya NATO meningkatkan aksi provokatifnya terhadap Rusia selama dua tahun terakhir. Di antara langkah tersebut adalah pengoperasian enam pusat komando di negara-negara tetangga Rusia di Eropa timur. Selain itu, NATO tetap melancarkan ekspansi ke arah timur meski mendapat penentangan dari Rusia. Keanggotaan Montenegro di NATO merupakan awal resmi dari transformasi di kasus ini.

 

Presiden Rusia, Vladimir Putin berulang kali memperingatkan aksi provokatif NATO dan menekankan bahwa mengingat setiap aksi NATO, Moskow akan mengambil langkah yang diperlukan untuk menghadapi pengaruh organisasi ini.

 

Bagaimana pun juga sikap NATO yang menginjak-injak resolusi 1997 terkait tidak menempatkan secara permanen pasukannya di Eropa timur mendorong Rusia meningkatkan aktivitas militernya di perbatasan barat yang berdekatan dengan negara-negara Eropa timur seperti Polandia dan negara kawasan Baltik serta di Laut Hitam.

 

Moskow meyakini bahwa NATO harus menghapus kecurigaannya terkait Rusia sebagai ancaman serius bagi mereka. Meski demikian kecil kemungkinan para pemimpin NATO akan setuju, oleh karena itu, sepertinya para pemimpin organisasi ini akan melanjutkan aksi provokatifnya di Eropa dengan meratifikasi kehadiran lebih besar pasukan mereka di Eropa timur. (MF)

 

Add comment


Security code
Refresh