Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Senin, 30 Mei 2016 17:32

Kecemasan Presiden Turki atas Kekalahan Daesh

Kecemasan Presiden Turki atas Kekalahan Daesh

Presiden Turki dalam pidatonya di acara perayaan peringatan Penaklukan Konstantinopel (Istanbul) ke-563, menyinggung krisis Suriah dan menuding Republik Islam Iran, Rusia dan Amerika Serikat sebagai pendukung terorisme dan pembunuh anak-anak Suriah. Recep Tayyip Erdogan mengatakan, dengan membunuh anak-anak, kalian tidak akan bisa menang terhadap Daesh (ISIS/IS).

 

Presiden Turki lebih lanjut menegaskan, satu-satunya solusi atas krisis Suriah adalah penggulingan Bashar al-Assad dari kekuasannya. Pernyataan terbaru Erdogan tersebut dinilai banyak kalangan sebagai kecemasannya atas kekalahan kelompok teroris Takfiri Daesh di medan-medan tempur Suriah.

 

Penegasan kembali Erdogan bahwa mundurnya Assad sebagai cara tunggal untuk menyelesaikan krisis Suriah diungkapkan ketika sekutu-sekutu Turki dalam transformasi politik Suriah sudah tidak begitu yakin lagi bahwa mundurnya Assad sebagai opsi tunggal untuk menyelesaikan persoalan di negara Arab itu.

 

Tuduhan Presiden Turki terhadap Iran, Rusia dan sekutunya sendiri; yaitu AS sebagai pembunuh anak-anak Suriah dilontarkan ketika Erdogan menutup mata atas berbagai kejahatan rezim Zionis Israel termasuk genosida rezim ini terhadap anak-anak Palestina. Kini pertanyaannya, apa sebenarnya yang membuat Presiden Turki begitu cemas sehingga ia secara terang-terangan "menyerang" negara-negara kawasan dan sekutunya sendiri?

 

Para pengamat menyakini penyebab kekhawatiran Erdogan bisa ditemukan dalam transformasi internal Turki dan perkembangan di kawasan Timur Tengah. Di tingkat internal Turki, Erdogan secara tidak langsung telah memaksa Ahmet Davutoglu, Perdana Menteri-nya untuk mengundurukan diri, padahal ia adalah "arsitek" kebijakan luar negeri Turki selama satu dekade terakhir. Oleh karena itu, Erdogan tidak memiliki strategi pasti untuk kebijakan luar negerinya, sehingga ia harus mengandalkan strategi di masa lalu dalam perimbangan Timur Tengah, yaitu menegaskan kembali penggulingan Assad sebagai solusi krisis Suriah.

 

Kini Turki telah kehilangan sekutu asing terbesarnya dalam perimbangan di Suriah menyusul transformasi terbaru di internal negara itu dan kemenangan suku Kurdi Suriah terhadap Daesh di wilayah utara negara Arab ini.

 

Perubahan pendekatan AS untuk menyelesaikan krisis Suriah dan penegasan terhadap penentuan nasib negara ini oleh rakyat Suriah sendiri menunjukkan revisi pandangan kekuatan-kekuatan trans-regional untuk menyelesaikan krisis Suriah. Perubahan pendekatan inilah yang membuat cemas dan marah Presiden Turki.

 

Presiden Turki menilai kemenangan suku Kurdi di berbagai wilayah utara Suriah ada hubungannya dengan pencapaian kekuasaan Partai Buruh Kurdistan Turki (PKK). Erdogan menyebut PKK sebagai teroris dan mendirikan berbagai peradilan keamaanan di seluruh Turki dengan dalih memerangi partai ini, bahkan kebijakan itu hingga pencabutan imunitas anggota-anggota partai di Parlemen Turki.

 

Di bagian lain pidatonya, Presiden Turki mengatakan, operasi anti-PKK di dalam dan luar negeri akan dilanjutkan hingga anggota partai ini sepenuhnya lenyap. Semua hal ini dianggap sebagai bagian dari kekhawatiran Erdogan atas perkembangan internal dan transformasi di kawasan.

 

Kekalahan kelompok teroris Daesh di medan perang Suriah dan kekhawatiran atas menurunnya pengaruh dan tekanan Turki dalam perimbangan Timur Tengah saat ini menjadi alasan utama atas kecemasan Erdogan terhadap penyerahan hasil permainan kekuatan dan pengaruh Turki dan Arab Saudi di Timur Tengah dan masyarkat internasional.

 

Erdogan berharap –seperti tahun lalu, dengan pemanfaatan politik dan promosi peringatan Penaklukan Konstantinopel untuk menarik opini publik, ia telah mampu mendorong partainya menang dalam pemilu parlemen– kali ini juga bisa mengambil manfaat politik dari perayaan tersebut untuk melancarakan proyeksi atas krisis dan ketidakamanan internal Turki serta untuk menjustifikasi kegagalan kebijakan luar negerinya; yaitu kebijakan-kebijakan yang selama ini telah menyedot biaya besar dan politik dari rakyat Turki. (RA)

 

Add comment


Security code
Refresh