Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Sabtu, 28 Mei 2016 08:00

Ini Sikap Obama soal Proses Perdamaian di Afghanistan

Ini Sikap Obama soal Proses Perdamaian di Afghanistan

Presiden Amerika Serikat, Barack Obama menyatakan, perundingan damai Afghanistan tidak akan terjadi dalam waktu dekat dan Taliban dengan pemimpin barunya akan terus melanjutkan perang.

 

Ia juga mengatakan, Taliban akan menyadari bahwa mereka tidak mampu menguasai Afghanistan dan solusi tunggal bagi mereka adalah perundingan damai yang dipimpin oleh bangsa Afghanistan sendiri.

 

Ia mengungkapkan, jika perundingan damai Afghanistan digelar, Amerika dan masyarakat internasional pasti mendukungnya. Statemen presiden AS terkait proses perundingan damai Afghanistan mengindikasikan sikap pesimis Obama atas prakarsa Washington sidang kuartet perdamaian di mana tujuan yang telah diprediksikan sebelumnya gagal total. AS, Cina, Pakistan dan Afghanistan adalah anggota sidang kuartet perdamaian.

 

Sidang kuartet perdamaian Afghanistan yang digulirkan AS sekitar lima bulan lalu, setelah menggelar lima pertemuan hingga kini gagal mempersiapkan peluang dan membujuk Taliban agar bersedia hadir di sidang damai. Di sidang damai Afghanistan keempat direncanakan pemerintah Pakistan mengundang kelompok bersenjata anti Kabul untuk berpartisipasi di perundingan damai dalam koridor dialog kuartet, namun dengan dalih yang tak jelas, misi Islamabad tersebut gagal.

 

Seiring dengan kritik dan protes yang semakin besar terhadap Pakistan, Departemen Luar Negeri Islamabad menyatakan bahwa melibatkan Taliban di perundingan damai Afghanistan bukan hanya tanggung jawab Pakistan.

 

Terbuka peluang bahwa pemerintah Pakistan selain gagal mendorong Taliban ke perundingan damai akibat terpecahnya milisi ini pasca kematian Mullah Mohammad Omar, tidak adanya kerjasama Islamabad dalam masalah ini akan memicu pembalasan Amerika terkait mekanisme penyerangan jet tempur F-16 ke Pakistan.

 

Selama beberapa pekan lalu, isu penjualan jet tempur F-16 oleh Amerika ke Pakistan memicu tensi di hubungan kedua negara. Kongres AS menentang sikap Gedung Putih terkait penyerahan jet tempur F-16 dalam koridor bantuan finansial dan militer kepada Pakistan untuk memerangi terorisme dan meminta Islamabad membayar kontrak pembelian jet tempur ini.

 

Mini Pakistan mengundang milisi bersenjata anti Kabul mengindikasikan bahwa anggota sidang kuartet perdamaian menilai penting peran Islamabad dalam menghidupkan perundingan damai ini.

 

Mungkin karena tidak adanya kerjasama serius Pakistan dalam masalah ini, Presiden Afghanistan Ashraf Ghani seraya mengungkapkan rasa pesimisnya atas bantuan Islamabad di proses perundingan damai menyatakan bahwa perdamaian di negaranya akan dijamin di medan pertempuran.

 

Di saat perundingan kuartet perdamaian gagal mengajak Taliban, Obama pun mengingat terbunuhnya Mullah Akhtar Mansour, mantan pemimpin milisi ini di wilayah Pakistan dalam serangan udara Washington, mengaku pesimis atas terealisasinya program Gedung Putih terkait perundingan damai Afghanistan, paling tidak untuk waktu dekat.

 

Muncul prediksi bahwa pasca terbunuhnya Mullah Akhtar Mansour, isu perundingan damai Afghanistan semakin rumit. (MF)

 

 

Add comment