Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Selasa, 24 Mei 2016 13:53

Resistensi dan Perjuangan dalam Perspektif Rahbar

Resistensi dan Perjuangan dalam Perspektif Rahbar

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei bertepatan dengan peringatan pembebasan kota Khorramshahr dari pendudukan rezim Baath Irak ke 34, menghadiri acara wisuda taruna Sepah Pasdaran Universitas militer Imam Hossein.

 

Rahbar di acara ini menyampaikan pidato menjelaskan rasio al-Quran dan Islam tentang Jihad Akbar yang berarti resistensi dan tidak mengekor pada front imperialis serta keharusannya di pemerintahan Islam. Keharusan dari setiap revolusi untuk mempertahankan cita-cita mulianya adalah kaderisasi dan transfer cita-cita ini kepada generasi baru serta dalam hal ini Revolusi Islam Iran juga tidak terkecuali.

 

Salah satu faktor terlupakannya nilai dan cita-cita sebuah revolusi di usianya yang hanya beberapa dekade adalah kian menjauhnya cendikiawan dan generasi muda dari cita-cita revolusi serta tidak adanya kaderisasi bagi masa depan. Revolusi Islam mengingat cita-cita mulianya dikenal sebagai revolusi budaya dan oleh karena itu, revolusi ini sangat membutuhkan upaya untuk tetap menghidupkan cita-citanya dan kaderisasi bagi generasi mendatang ketimbang revolusi lainnya.

 

Berbagai lembaga budaya di Republik Islam Iran sejak awal kemenangan revolusi dibentuk untuk menjelaskan cita-cita revolusi serta mentransfernya kepada generasi mendatang. Sepah Pasdaran (IRGC) dengan tujuan mempertahankan Revolusi Islam di berbagai dimensi militer, politik dan budaya telah membentuk berbagai pusat pendidikan dan universitas guna mendidik pemuda di berbagai bidang pengetahuan dan militer.

 

Imam Khomeini, pendiri Republik Islam Iran dan Ayatullah Khamenei menekankan pentingnya tawakkal kepada Allah di segala urusan dan meyakini bahwa rahasia kemenangan pemuda Iran di perang yang dipaksakan selama delapan tahun, khususnya pembebasan kota Khorramshahr adalah tawakkal kepada Allah Swt.

 

Imam Khomeini pasca pembebasan Khorramshahr dari pendudukan Saddam Hussein melalui ungkapan bersejarahnya mengatakan, "Khoramsharh dibebaskan Allah Swt." Sementara itu, Ayatullah Khamenei di depan taruna Sepah Pasdaran Universitas Imam Hossein menyebut contoh dari hasil resistensi dan perjuangan melawan musuh adalah tawakkal kepada Tuhan.

 

Seraya mengisyaratkan upaya gagal front arogan selama 38 tahun terakhir dalam menumpas Revolusi Islam meski mereka telah memanfaatkan beragam metode dan konspirasi, Rahbar menyebut hal ini sebagai contoh nyata mengikuti rasio perjuangan dan resistensi yang dibarengi dengan tawakkal kepada Tuhan. Beliau menekankan bangsa Iran tetap aktif di medan dan banyak pemuda yang bersedia mengorbankan diri di jalan Revolusi.

 

Ayatullah Khamenei menyebut konfrontasi melawan front arogan dunia sebagai Perang Asimetris dan menandaskan, perang asimetris ini kedua pihak memiliki kemampuan dan sumber kekuatan sementara pihak lawan tidak memilikinya. Sumber kekuatan pemerintah Islam adalah tawakkal kepada kekuasaan Tuhan, percaya kepada kemenangan dan kekuatan orang-orang beriman.

 

Pejuang muda Iran selama delapan tahun Perang Pertahanan Suci melawan musuh yang didukung 58 negara dari blok Timur dan Barat. Musuh mendapat dukungan politik, militer, finansial, intelijen dan media dari kedua blok besar dunia. Sementara itu, para emir Teluk Persia mengucurkan bantuan 70 miliar dolar kepada rezim Saddam Hussein.

 

Di sisi lain, pemuda Iran selama perang delapan tahun yang dipaksakan ini telah menunjukkan contoh dari kemenangan di sebuah perang asimetris. Dengan tawakkal kepada Tuhan dan janji kemenangan kubu kebenaran terhadap front batil, pemuda Iran menorehkan kekalahan telak kepada rezim Saddam.

 

Puncak kekalahan ini adalah pembebasan Khorramshahr. Perang asimetris ternyata belum tuntas dengan berakhirnya perang delapan tahun. Musuh Revolusi Islam khususnya Amerika Serikat terus berusaha merusak revolusi ini melalui sektor ekonomi, politik dan budaya. Pemuda Iran di perang asimetris ini berhasil meraih banyak prestasi besar di bidang sains dan teknologi modern.

 

Ayatullah Khamenei mengingatkan perang asimetris di berbagai dimensinya dengan nama Jihad Akbar dan mengungkapkan, "Dewasa ini sangat kecil potensi perang militer tradisional terhadap Republik Islam Iran, namun isu Jihad Akbar masih tetap eksis." Jihad Akbar memiliki rasio al-Quran dan Islam. Jihad ini berarti resistensi dan tidak mengekor kepada kaum kafir serta musyrik.

 

Rahbar seraya menekankan bahwa Jihad Akbar juga termanifestasi di sektor politik, ekonomi, budaya dan seni mengingatkan, di semua sektor ini harus tunduk pada agenda kerja Islam dan al-Quran ketimbang mengekor pada front kafir serta musyrik. (MF)

 

Add comment


Security code
Refresh