Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Kamis, 02 Juni 2016 11:07

Perdamaian di Palestina, Perdamaian untuk Dunia

Perdamaian di Palestina, Perdamaian untuk Dunia

Oleh: Ina Salma Febriany

 

Suasana khidmat memenuhi Auditorium Adhyana, tempat diselenggarakannya konferensi tingkat dunia bertajuk International Conference Islamic Media (ICIM) di Wisma Antara, 25- 26 Mei 2016. Konferensi ini diikuti oleh berbagai media Islam di dunia, termasuk Palestina.

 

 

Kegiatan ini bertujuan supaya seluruh media Islam bersatu; menyelamatkan Al-Quds Ash-Sharif, Palestina. Sebagaimana kita ketahui bersama, isu pengepungan Masjidil Aqsa oleh tentara zionis Israel, telah berlangsung lama dan tak kunjung usai.

 

Tak cukup pengepungan dan ‘pengakuan’ bahwa wilayah Al-Quds As-Sharif adalah milik Israel, seluruh penduduk Palestina lengkap dengan tempat tinggal, sarana pendidikan, fasilitas kesehatan hancur dirusak oleh Israel. Inilah yang menyebabkan para penggiat media Islam melangsungkan konferensi ini untuk merumuskan tawaran solutif agar bumi Palestina kembali ke tangan kaum Muslimin.

 

Acara ini diawali dengan pembacaan ayat suci Alquran surah Al-Hujuraat. Pembacaannya disampaikan secara syahdu dan penuh kekhusyu’an dari sang qari. Suaranya membuat ratusan hadirin menangis. Tangisan cinta tentang duka di Palestina yang hingga detik ini tak kunjung ditemukan solusi dan titik temunya.

 

Air mata penuh harapan dari segenap kaum muslimin Indonesia agar Palestina merdeka, damai dan mampu hidup lebih tenang dan layak. Seusai qari membacakan beberapa ayat dari surah Al-Hujurat, acara dibuka langsung oleh wakil Menteri Luar Negeri, Abdurrahman Mohammad Fachir.

 

Dalam sambutannya, beliau menyambut baik konferensi ini. Dirinya turut mendukung penuh upaya media Islam untuk membebaskan Palestina dan Al-Quds dari kekejaman zionis Israel. Konferensi ini juga turut dihadiri oleh beberapa pemimpin redaksi dan organisasi media dari 50 negara, beberapa diantaranya Palestina, Turki, Malaysia, Singapura, Saudi Arabia, UK dan Amerika Serikat.

 

Tidak hanya dihadiri oleh tamu-tamu dan jurnalis dalam dan luar negeri, konferensi ini juga turut dimeriahkan oleh pemerhati media dan para akademisi yang bergelut di bidang media dan penyiaran. Beberapa di antaranya adalah utusan dari Universitas Islam Attahiriyah (UNIAT), Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ Jakarta) juga beberapa mahasiswa dan mahasiswi dari Universitas Padjajaran, Bandung.

 

Dukungan dan apresiasi penuh dari Wakil Menteri Luar Negeri, membuat hadirin bertambah semangat untuk lebih fokus terhadap nasib penduduk Palestina dan wilayah sekitarnya. Terlebih, konferensi  ini disampaikan langsung oleh para pembicara internasional yakni Imaam Shamsi Ali (Pendiri Nusantara Foundation; USA), Dr. Daud Abdullah (Direktur Middle East Monitor; UK), Sheikh Ahmad Shoyyan (Pemimpin Redaksi Majalah Al-Bayaan; Saudi Arabia), dan Ahmad Ashaaf (Pemimpin Redaksi Berita Palestina WAFA; Palestina).

 

Selepas pembacaan ayat suci Alquran dan sambutan dari wakil menteri luar negeri, konferensi yang didukung penuh oleh LKBN Antara, Republika dan beberapa media Islam lainnya ini dikejutkan oleh penampilan yang sangat luar biasa dari dua tamu istimewa; Bapak Taufik Ismail yang dengan lantang dan menyayat hati membacakan puisi berjudul ‘Palestina; Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu,’ hingga berhasil membuat Prof Dr Nabila Lubis bercucuran air mata, kala dirinya harus menerjemahkan puisi tersebut ke dalam bahasa Arab.

 

Antusiasme peserta mendengarkan puisi yang dibacakan oleh penyair nasional itu membuka mata kita semua bahwa kasus Palestina adalah isu dunia yang harus diselesaikan bersama-sama; yang dalam hal ini semoga saja media sebagai pembentuk opini dunia mampu merealisasikannya.

 

Mengapa Media Islam Harus Bersatu?

 

Pemimpin Redaksi berita Palestina dan Badan Informasi (WAFA), Jamil Dababat, mengatakan pelanggaran Israel terhadap jurnalis Palestina meningkat 28 persen pada periode belakangan terakhir. "Menurut statistik resmi Palestina melaporkan bahwa 19 wartawan Palestina dibekuk di penjara-penjara Israel," kata Dababat.

 

Dababat turut menjelaskan, sepanjang tahun, sejumlah besar wartawan Palestina menderita tembakan langsung dari tentara Israel. Karenanya, apa yang telah dilakukan oleh tentara Palestina telah terdaftar sebagai serangkaian pelanggaran HAM oleh otoritas militer Israel terhadap resiko jurnalis Palestina.

 

Sungguh sangat beresiko dengan pertaruhan antara hidup dan mati yang sangat tinggi jika menjadi jurnalis-jurnalis lokal Palestina. Dababat berharap, Palestina mampu merdeka dengan bantuan-bantuan dari para penggiat dan pemerhati media Islam. Mengapa media? Sebab media mampu menjadi jembatan informasi dalam skala minor serta mampu membentuk opini dunia dalam skala mayor.

 

Hal ini sangat penting mengingat pemberitaan-pemberitaan palsu, jauh dari kebenaran dan kejujuran tentang kondisi sebenarnya yang dialami rakyat Palestina bertebaran. Lebih mengejutkan lagi, masih banyak kaum muslimin yang berkiblat pada berita-berita luar negeri yang tidak jujur dalam memberitakan kasus Palestina. Mereka menelan berita itu utuh, tanpa tabayun, mencari perbandingan apalagi memfilternya. Ini sangat berbahaya.

 

Direktur Pemberitaan LKBN Antara Aat Surya Safaat mengatakan, melalui ICIM, LKBN Antara dan sejumlah media lain akan berperan menggaungkan pembebasan Al-Aqsha dan Palestina. "Keberadaan media penting dalam membentuk opini dunia. Mari kita gemakan konferensi ini mulai hari ini," ujar Aat dalam konferensi pers ICIM di kantor Mer-C, Jakarta.

 

Aat menyampaikan umat Islam lemah secara opini media. Dia meyakini penyelenggaraan ICIM yang akan diikuti media-media dari 50 negara dapat menjadi sarana efektif memperjuangkan bangsa Palestina sesuai hasil KTT Luar Biasa Organisasi Kerjasama Islam di Jakarta 6-7 Maret 2016.

 

Senada dengan Aat, Dewan Pengawas Konferensi Internasional Media Islam (ICIM) Yakhsyallah Mansur mengatakan bahwa media memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk pandangan dunia. "Media memiliki kekuatan yang tak kalah dahsyat daripada hukum untuk mempengaruhi pemikiran dan perilaku sebagian besar orang," kata Yakhsyallah

 

Namun, ia menyesalkan bahwa hampir semua media saat ini didominasi oleh orang-orang yang memiliki kepentingan untuk menghancurkan umat Islam dan menciptakan citra buruk Islam.

 

Yakhsyallah menambahkan jika kaum Muslim bersatu, ini bisa menjadi kekuatan dan insyaAllah akan mendapatkan bantuan Allah. Karena kekuatan dan bantuan Allah turun dengan persatuan umat Islam.

 

Dia menambahkan kesatuan potensi umat Islam akan jauh lebih menyebar ke masyarakat internasional, jika didukung kuat oleh media Islam."Media mengambil peran penting dalam kehidupan umat manusia saat ini. Karena media merupakan kekuatan dalam mempengaruhi opini dan ide-ide dari dunia, "tambahnya.

 

Kendati tidak mudah, tetapi umat Islam harus terus berusaha, dan tidak putus asa dalam melakukan rekonsiliasi, perbaikan, dan perjuangan yang tidak pernah surut. Untuk itu, ia menekankan diselenggarakannya ICIM ini adalah untuk meluruskan segala bentuk gambaran yang buruk dari beberapa media. Pemutarbalikkan fakta, pemberitaan yang tidak benar, dan krisis kejujuran dari para jurnalis media di Indonesia harus segera dihentikan.

 

Karenanya, hasil dari konfrensi yang terbagi menjadi tiga komisi ini salah satunya adalah membentuk tim jurnalisme warga (citizen journalism). Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan melatih kemampuan meliput dan menulis untuk warga Palestina tentang situasi terkini yang mereka alami kemudian dikirim kepada media-media Islam berskala lokal maupun internasional. Hal ini sangat penting untuk mencegah terjadinya berita-berita fiktif yang secara langsung merugikan rakyat Palestina.

 

Sekali lagi, upaya ini memang tidak mudah mengingat keterbatasan teknologi yang juga dialami penduduk Palestina, namun bukan tidak mungkin jika seluruh media Islam bersatu, melatih kemampuan penduduk sekitar untuk turut meliput dan memberitakan kejadian yang sebenarnya, opini dunia yang sebelumnya buruk perlahan akan berubah menjadi lebih baik.

 

Satu hal yang pasti, upaya ini dilakukan agar perdamaian di bumi ini kembali tercipta tanpa jajahan dan kezaliman negara lain. Salah satunya dengan menyelamatkan dan membebaskan Palestina. Sebab, perdamaian di Palestina adalah perdamaian yang (sebenarnya) diidam-idamkan oleh seluruh warga dunia. (Republika Online)

Add comment


Security code
Refresh