Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Minggu, 20 Desember 2015 15:45

Bencana Mina, Salah Urus Saudi !

Bencana Mina, Salah Urus Saudi !

Ibadah haji merupakan simbol persatuan sekaligus kongres umat Islam internasional yang datang dari seluruh penjuru dunia. Pada acara ritual haji, para jemaah berputar mengitari Kabah dan menjalankan manasik haji yang telah diletakan pondasinya oleh Nabi Ibrahim. Tahun ini sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, umat Islam berdatangan ke tanah wahyu untuk menunaikan ibadah haji. Meskipun jumlah jemaah haji tahun ini lebih sedikit dari sebelumnya karena adanya pembangunan di kawasan Mekah, tapi ibadah haji tahun ini menjadi tahun paling berdarah dengan korban terbanyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

 

 

Terjadinya insiden berdarah ketika jemaah haji sedang menunaikan ritual ibadah bukan kali ini saja terjadi. Sejak awal, rangkaian ibadah haji sudah ditandai berbagai peristiwa getir yang menjadi sorotan media masa internasional. Peristiwa ambruknya crane di Masjidil Haram melukai hati umat Islam dari penjuru dunia. Insiden berdarah ini menyebabkan lebih dari seratus orang wafat, dan puluhan lainnya cidera. Selanjutnya, terjadi insiden di stasiun kereta api, kebakaran di hotel dan yang terakhir tragedi Mina yang menyebabkan lebih dari 4.000 orang meninggal dunia dan cidera.

 

Tragedi Mina menjadi sorotan media massa internasional, terutama media-media nasional bangsa-bangsa Muslim di dunia.Semua perhatian tertuju mengenai faktor penyebab terjadinya tragedi Mina. Berbagai analisis muncul mengenai friksi di tubuh pejabat Arab Saudi, terutama antarpangeran yang berebut kekuasaan, kelemahan manajerial Arab Saudi dalam pengelolaan haji karena pemerintah Al Saudi fokus terhadap perang Yaman, dan pihak yang cenderung menyalahkan takdir dan lainya.

 

Ironisnya, di tengah kondisi jemaah haji dan keluarganya yang berduka akibat tragedi Mina, sebagian pejabat Arab justru melemparkan telunjuk tudingan menyalahkan pihak jemaah haji sendiri. Kepala Komite Pusat Haji, Pangeran Khaled Faisal mengklaim sejumlah jemaah haji Afrika sebagai penyebab tragedi Mina. Menjawab statemen tersebut, di media sosial salah seorang pengguna internet bertutur, "Seorang perempuan Kenya penjual ikan selama sepuluh tahun menabung uangnya demi menunaikan ibadah haji. Kini pemerintah Saudi menyalahkan mereka sebagai penyebabnya?"

 

Tapi, apa yang menjadi perhatian sebenarnya mengenai faktor penyebab tragedi Mina, yang tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab Dinasti Al Saud sebagai pengelola ibadah haji yang harus menjamin keselamatan jemaah haji.

 

Keamanan yang meliputi keamanan nyawa manusia merupakan hak paling dasar dari hak asasi manusia.Tidak ada seorang pun yang secara sengaja ataupun transaksional diperbolehkan mengancam keamanan orang lain. Al-Quran sangat menghargai nilai nyawa manusia. Bahkan kitab suci samawi ini menegaskan bahwa membunuh seorang mukmin setara dengan membunuh seluruh umat manusia.

 

Kemuliaan manusia dan larangan menyerang orang lain juga diatur dalam ketentuan internasional.Piagam HAM Islam pasal 2 ayat satu menyatakan, "Kehidupan adalah anugerah ilahi, dan hak setiap manusia yang wajib dijamin oleh setiap orang, masyarakat dan negara. Hak ini harus dijaga dan dipertahankan dari setiap serangan apa pun...".

 

Seluruh negara berkewajiban untuk melindungi setiap warga negaranya masing-masing dari setiap ancaman keamanan. Demikian juga setiap negara harus melindungi warga negara asing yang mengunjungi negaranya dari setiap serangan dan teror. Keamanan kunjungan ke Arab Saudi untuk menunaikan ibadah haji yang dilakukan warga negara dari berbagai negara dunia jelas memiliki kedudukan khusus dan sensitif. Karena dilakukan secara massal dan demi tujuan ibadah yang mulia.

 

Terkait hal ini, Allah swt dalam al-Quran surat Al Imran ayat 97 berfirman, "Adanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam."

 

Berdasarkan prinsip dan aturan internasional, Arab Saudi sebagai tuan rumah ibadah haji bertanggung jawab terhadap keamanan seluruh jemaah haji yang datang dari berbagai negara dunia. Oleh karena itu, pemerintah Al Saud harus mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menunaikan kewajibannya itu sesuai ketentuan internasional dengan mematuhi standar keamanan dan prosedur pengamanan, serta hak dan kebebasan setiap jemaah haji.

 

Sesuai prinsip dan aturan internasional, setiap negara tidak boleh melakukan intervensi baik langsung maupun tidak langsung terhadap kedaulatan negara lain. Dari sini, tanggung jawab keamanan setiap warga negara asing yang mengunjungi Saudi berada di tangan pemerintah Al Saud. Arab Saudi sebagai tuan rumah ibadah haji harus menjalankan tanggung jawabnya melindungi keamanan setiap warga asing yang mengunjungi negaranya.

 

Sejumlah laporan menunjukkan bahwa personil yang dikerahkan untuk mengamankan penyelenggaraan ibadah haji tahun ini sejak Raja Salman berkuasa mengalami penurunan drastis dari 60.000 personil menjadi 20.000 orang. Dilaporkan perang Yaman sebagai penyebab utamanya. karena sebagian pasukan dikerahkan untuk menyerang Yaman.

 

Saksi mata melaporkan, sebagian personil yang dikerahkan sebagai tim keamanan dalam ibadah haji tahun ini adalah para pemuda yang tidak memiliki pengalaman untuk mengendalikan situasi dalam kondisi darurat.

 

Ahmed Abu Bakar, pria asal Libya berusia 45 tahun yang menunaikan ibadah haji bersama ibunya mengungkapkan kesaksiannya mengenai tragedi Mina. "Massa berdesak-desakan. Polisi [Saudi] menutup seluruh jalur masuk dan keluar ke arah kamp haji, kecuali satu yang dibuka. Polisi yang bertugas di lapangan sangat tidak berpengalaman. Bahkan, mereka tidak mengenal dengan baik arah dan jalur jemaah haji di sekitar," ujar Ahmed Abu Bakar.

 

Seorang jemaah haji lain dari Mesir berusia 39 menuturkan pengalaman pahitnya mengenai tragedi Mina tahun ini. "Saya menyaksikan sejumlah polisi bergerombol beberapa orang dan tidak ada yang mereka lakukan!", ujar Mohamamed Hossein. Jemaah haji Mesir ini melanjutkan ceritanya mengenai perlakuan kasar polisi Saudi terhadap dirinya karena kewarganegaraannya sebagai orang Mesir. "Ke sini kamu ! lihat jenazah warga Mesir ini !" ujar seorang polisi Saudi menunjuk ke arah Hossein.  Jemah haji Mesir ini berkata, "Mengapa mereka menghina kami begitu rupa? Kami datang ke sini sebagai jemaah haji, dan tidak meminta yang lain !"

 

Saksi mata lainnya menceritakan tentang tragedi Mina. "Ketika kami berada di jalan 204, orang Saudi menempatkan mobil di jalur keluar jamarat. Akibatnya jemaah haji tidak bisa dengan mudah keluar dari jalan arah jamarat. Penutupan tidak biasa yang sangat jelas ini menyebabkan kondisi sulit."

 

Saksi mata ini melanjutkan kesaksiannya, "Sebagian jemaah pingsan karena kepanasan dan sebagian lainnya tiada, karena tindakan salah urus pihak keamanan Saudi. Sebagian besar yang terluka wafat, karena kehausan dan tidak berdaya. Jika pertolongan segera diberikan kepada jemaah haji ketika itu, maka banyak yang akan tertolong. Para jemaah haji ketakutan, kepanasan, kehausan dan memerlukan air, tapi pemerintah Saudi tidak menyediakannya.Berulang kali helikopter tebang di atas jemaah haji, tapi tidak melakukan tindakan apapun. Di sisi lain, CCTV terus-menerus merekam kejadian yang menunjukkan pengawasan, tapi tidak ada yang datang terjun untuk memulihkan keadaan,".

 

Berbagai kesaksian tersebut menunjukkan bahwa para petugas haji Saudi tidak serius dalam menjalankan tanggung jawabnya menjaga keamanan jemaah haji yang sedang menunaikan ibadah. Manajemen buruk pengelola haji tersebut menyebabkan terjadinya tragedi besar di dunia Islam tahun ini. Wajar kiranya, jika umat Islam dari berbagai negara dunia memprotes penyelenggara haji. Langkah hukum yang ditempuh sebagai hak mereka terhadap Arab Saudi untuk mempertanggung jawabkan seluruh perbuatannya tersebut.

 

Apabila umat Islam berdiam diri dan membiarkan tragedi Mina tahun ini berlalu tanpa tindakan keras terhadap Saudi, siapa yang akan menjamin tahun depan tidak akan  terjadi peristiwa serupa. Melihat rekam jejak kelam sebelumnya, tragedi Mina bukan kali ini terjadi. Enam tragedi serupa terulang sebelumnya dengan korban wafat sekitar 5.000 orang. Lalu, masihkah umat Islam membiarkannya berlalu tanpa pertanggung jawaban Saudi atas tragedi Mina tahun ini ?(IRIBIndonesia/PH)  

Media

Add comment


Security code
Refresh