Permintaan Maaf Pejabat AS Tidak Berguna
Seorang penulis dan analis politik Afghanistan memprotes sikap bungkam dunia atas penistaan al-Quran dan kitab suci lainnya. Namun, setelah adanya permintaan para imam shalat Jumat di berbagai masjid untuk menggelar unjuk rasa yang lebih luas, ia memperkirakan gelombang demonstrasi akan terus berlanjut.
Muhibullah Sharif kepada televisi al-Alam pada Rabu (22/2) mengatakan, aksi penistaan yang terus terjadi ini menunjukkan bahwa pasukan Amerika Serikat meremehkan keyakinan rakyat Afghanistan dan umat Islam serta tidak berniat mengubah sikap mereka untuk menghargainya.
Dia memperkirakan gelombang protes terhadap aksi tercela pasukan AS itu akan semakin besar mengingat banyaknya seruan para imam masjid untuk menggelar demonstrasi.
Analis Afghanistan juga memprotes sikap pasif dunia dan menandaskan, di dunia ini seakan-akan tidak ada telinga yang mendengar dan nurani yang bangkit terkait pembakaran kitab suci ini. Hal itu berarti rakyat Afghanistan ditinggalkan sendiri menghadapi masalah ini. Namun kita yakin bahwa bangsa Afghanistan dengan keinginan kuat akan mampu menghadapinya.
Sharif juga memprotes sikap pemerintah Kabul dengan mengatakan, kita tidak dapat menuntut banyak dari pemerintah kecuali hanya pernyataan resmi yang menuntut pasukan AS dan NATO untuk tidak melakukan aksi tercela lagi.
Terkait permintaan maaf Komandan Militer AS di Afghanistan Jenderal John Allen, Ia menegaskan, permintaan maaf seperti itu sebelumnya telah sering didengar rakyat Afghanistan, namun penistaan demi penistaan terus dilakukan.
Pada Senin malam, pasukan AS di Lapangan Udara Bagram di luar Kabul membakar al-Quran dan materi keagamaan lainnya seperti sampah. (IRIB Indonesia/RA/PH)