Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Setahun yang lalu, 19 Oktober 2014, seorang reporter Amerika, Serena Shim, tewas dibunuh di Turki saat sedang melaporkan secara langsung situasi di medan tempur, di kota perbatasan Suriah, Kobani. Serena Shim melakukan penyelidikan terhadap ribuan prajurit asing yang telah menyeberangi perbatasan Turki untuk turut bergabung dalam perang proxy di Suriah. Seperti dilaporkan oleh kantor berita Realities Watch Lebanon(15/11).      Serena Shim. Kala itu sedang dalam proses membongkar bukti-bukti yang menunjukkan bantuan yang diberikan Barat kepada ISIS. Hingga kini, bukti-bukti yang dikumpulkan Serena masih belum diketahui karena semua rekaman yang berhasil ia kumpulkan dan semua barang-barang yang ada bersamanya termasuk passport dan cincin pernikahannya disita oleh pemerintah Turki bersamaan dengan kematiannya.Serena Shim hendak kembali ke Lebanon untuk merayakan ulang tahun anaknya kala itu. Setelah menyerahkan semua bukti keterlibatan Barat sebagaimana ia menunjukkan bagaimana Turki membantu ISIS dalam laporan-laporan sebelumnya, sebenarnya Serena berniat untuk pensiun dan kembali berkumpul dengan suami, kedua anak, orang tua, serta dua saudarinya.      Jenazah Serena ShimSerena Shim dan sepupunya Judy Irish dilaporkan dibunuh melalui dalih kecelakaan truk yang melaju berlawanan arah di jalan raya. Bagaimanapun juga, keluarga Shim yang mengetahui persis duduk perkara dan bahwa Serena memiliki bukti mengenai keterlibatan Barat dalam membantu teroris di Suriah, mengatakan bahwa kecelakaan tersebut dimanipulasi oleh pemerintah Turki.     Keluarga Shim memprotes berbagai keganjilan yang terjadi pada “kecelakaan” Serena Shim yang antara lain menyatakan bahwa pertama setelah kejadian, pemerintah Turki menyatakan tidak bisa menemukan truk yang telah menabrak mobil yang disewa dan dikendarai Shim. Namun kemudian pemerintah Turki mengklaim bahwa truk yang menabrak Shim adalah sebuah truk semen, bahkan menunjukkan foto truk tersebut.     Kejanggalan kedua adalah, Shim dan Judy Irish sepupunya mereka berdua dibawa ke rumah sakit berbeda yang terpisah jarak sejauh 25 mil setelah “kecelakaan” terjadi. Lalu keganjilan berikutnya adalah, Shim dikatakan meninggal di tempat kejadian, namun kemudian berubah dinyatakan meninggal karena gagal jantung setelah sekitar satu jam dari kecelakaan.     Keluarga mencurigai Shim dibawa ke sebuah fasilitas militer rahasia sebelum dibawa ke rumah sakit.Serena Shim banyak mempublikasikan bahwa Turki telah membantu ISIS dengan memfasilitasi perjalanan ribuan tentara bayaran ke perbatasan Suriah, serta memberi fasilitas perawatan medis untuk mereka. Beberapa peristiwa penting diplomatik dan militer terjadi pada saat itu, termasuk bantuan pengiriman senjata dari Amerika Serikat untuk para pemberontak di Suriah. Salah satu paket bantuan senjata itu kemudian dikonfirmasi telah dicegat dan jatuh ke tangan ISIS serta diunggah dalam sebuah video Youtube, yang lantas menerima perhatian media internasional. Terlepas dari kenyataan bahwa Shim adalah seorang warga negara Amerika dan tewas setelah media Amerika berfokus pada wartawan lain yang tewas dipenggal ISIS, dalam kematian Shim, Presiden AS Barack Obama tidak mengeluarkan komentar apapun. Departemen Luar Negeri AS justru mengabaikan berbagai pertanyaan yang mengalir mengenai apakah pemerintah AS akan menyelidiki kematian salah satu jurnalis warga negaranya ataukah tidak. Hal ini dilansir WTF News.     Yang lebih mengherankan dari semua ini adalah, tidak ada satupun organisasi mainstream media Amerika yang memberitakan kematian warga negara Paman Sam tersebut yang terjadi secara “tidak wajar” kala sedang bertugas di zona konflik hebat kala itu.Hanya dua hari menjelang kematiannya, Shim melakukan siaran langsung di televisi yang menyatakan bahwa dirinya kini menjadi incaran penyelidikan Badan Intellijen Turki (MIT) yang menuduhnya sebagai mata-mata atas apa yang ia telah laporkan di medan perang. Menurut Shim dalam siaran langsung PressTV, Millî İstihbarat Teşkilatı, (MİT) tengah mencarinya di wilayah perbatasan Suruc dan memerintahkan penduduk lokal untuk melapor jika melihat Shim berada di wilayah itu. Shim juga mencatat bahwa selama ini, laporannya sering berpusat di wilayah Hatay dan sekitarnya, dimana banyak prajurit bayaran asing masuk ke utara Suriah melalui perbatasan Turki tersebut.Pada hari-hari sebelum kematiannya, Serena Shim telah melaporkan pengepungan di Kobani, dimana pasukan Kurdi dan pasukan militer Suriah yang tersisa berjuang melawan teroris ISIS. Pemerintah Turki menyadari kehadiran Shim yang keberadaannya berpindah-pindah antara di Turki dan Suriah. Bagaimanapun juga, Serena Shim adalah seorang reporter yang terampil melakukan penyamaran hingga ia bisa bepergian tanpa diketahui. Periode pertempuran Kobani ini, yang berlangsung antara 12-19 Oktober 2014 adalah pertempuran paling intens saat pasukan ISIS, termasuk tank-tanknya bercokol dan mengepung kota tersebut dan wilayah sekitarnya selama 3 minggu sebelumnya.Selain melaporkan situasi pertempuran di saat-saat genting itu, sebelumnya Serena Shim juga telah melakukan laporan penyamaran penting pada tahun 2012 yang juga dianggap merugikan Turki. Laporan Shim itu mengenai para pemberontak Suriah yang telah menggunakan kamp pengungsi di Turki sebagai pangkalan untuk melakukan serangan ke dalam wilayah Suriah dan bahwa kelompok teroris Al-Qaeda yang mengendalikan penyeberangan perbatasan Turki-Suriah.Setelah Shim melaporkan bahwa intellijen Turki tengah mencari keberadaannya pada tanggal 17 Oktober 2014 pertempuran Kobani menjadi makin buruk dan perkembangan penting geopolitik muncul. Cerita dimulai ketika Pemerintah Turki “menolak” AS yang akan memberi suplai senjata kepada pihak Kurdi Suriah untuk membantu mereka melawan ISIS.      Lalu kemudian pada tanggal 19 November 2014 AS memutuskan untuk memberi bantuan senjata langsung melalui udara dengan menjatuhkan paket senjata yang tentu saja, secara “tidak sengaja” kemudian jatuh ke tangan ISIS. Pejabat AS lantas menyatakan pihaknya menghancurkan paket kedua sebelum sampai ke tangan ISIS, sehingga secara otomatis tidak ada bantuan yang sampai kepada pasukan Kurdi. Sebelumnya, Turki juga menolak rencana untuk memberi jalan bagi pasukan Kurdi Irak yang ingin membantu pasukan Kurdi Suriah dalam melawan ISIS. Selang satu hari, Pemerintah Turki kemudian mengumunkan untuk membolehkan pasukan Kurdi Irak membantu pertempuran pada tanggal 20 Oktober 2014 dimana saat itu Erdogan terus menerus berusaha menunjukkan kepada public atas ketidak senangannya akan tindakan yang telah dilakukan AS pada minggu itu. Bagaimanapun juga, gabungan dua pasukan Kurdi tersebut pada akhirnya berhasil mengambil alih Kobani dari tangan ISIS serta berhasil memukul mundur mereka pada bulan Februari 2015.     Alasan khusus mengapa Shim kemudian menjadi target pemerintah Turki belum diketahui pasti hingga kini, namun satu hal yang pasti menurut rekan-rekan yang bekerja sama dengan Shim selama ini, pembunuhan atas Shim adalah akibat dari hasil usaha Shim yang berupaya untuk mengungkap rahasia dibalik perang kotor yang tengah dimainkan Turki dan AS. Perang proxy di Suriah juga digunakan untuk memanipulasi opini politik di Amerika Serikat.Laporan berita Serena Shim difokuskan pada dua daerah paling penting dari perang Suriah.     Laporannya di dekat kota Hatay dan perbatasan Suriah, Reyhanli berhasil mengungkap bukti bahwa teroris ISIS menggunakan kendaraan Program Pangan Dunia PBB dalam konvoi mereka. Daerah Hatay juga dikenal sebagai daerah penyelundupan minyak ISIS yang sering mereka gunakan untuk membiayai operasi. Daerah ini adalah titik kritis kendali dari perbatasan menuju kota Aleppo, yang telah diperebutkan sejak awal perang.Shim juga pernah membuat laporan dari Kobani, mengenai pangkalan militer rahasia Turki di dekat Kobani dan Sanliurfa, Turki. Negara itu, membuka rumah sakit di Sanliurfa yang memberi pelayanan medis kepada ISIS dan pemberontak lain dalam konflik di negara tetangganya itu. Wilayah perbatasan yang menghubungkan Akcakale ke timur Kobani itu telah berpindah tangan beberapa kali sejak September 2012 ketika pemberontak Suriah menguasainya.Pertempuran Kobani sendiri sebelumnya adalah merupakan bagian penting dari ekspansi ISIS guna memberi kendali lebih diluar wilayah perbatasan ibukota de factonya Raqqa.(IRIB Indonesia/arrahmahnews)
Jumat, 04 September 2015 11:40

Resensi Film Muhammad Rasulullah Saw

Luar Biasa ... Luar Biasa ... Luar Biasa

 

Sejak diumumkan akan ditayangkan secara serentak di bioskop-bioskop Tehran pada Rabu 26 Agustus, keinginan untuk menikmati film termahal Iran dan dibuat selama 7 tahun semakin membuncah. Apalagi informasinya, sutradara Majid Majidi dibantu para sineas kelas dunia untuk mewujudkan film ini.

Senin, 09 Februari 2015 16:45

Revolusi Mental & Aku (Bukan) Siapa

Oleh: Ammar Fauzi Heriyadi*

 

“Kapan terakhir bertemu dengan Megawati?” Pertanyaan itu terlontar dari wartawan Tempo hampir dua minggu yang lalu (27/1/15) kepada Presiden Joko Widodo. Dalam ketidaksabaran yang terbaca wartawan tadi, Jokowi menjawab, “Pertemuan seperti itu tidak perlu saya sampaikan kapan atau bagaimana. Urgensinya apa? Sebenarnya saya ingin pertemuan-pertemuan itu terbuka. Pers melihat supaya terang benderang. Tidak menebak-nebak. Tapi belum tentu beliau-beliau (elite partai) ini mau.”

 

Jawaban itu cukup menarik untuk dicermati. Pertanyaan balik, “Urgensinya apa?” sudah dijawab sendiri oleh Jokowi di awal tadi; pertemuan seperti itu tidak perlu dijelaskan kapan (waktunya) dan bagaimana (caranya).

 

Dalam dinamika dan doktrin politik kebanyakan politikus juga partisan, “politik itu dinamis”; waktu karenanya sangat krusial, yaitu membaca momentum. Sebelum meninggalkan tanah air Rabu lalu, misalnya, Jokowi belum bisa memberi kejelasan soal pelantikan calon kapolri Budi Gunawan yang kontroversial. “Akan diumumkan pada waktu yang tepat,” katanya. Kapan? Pastinya bukan sekarang, tapi lain hari. Hari apa? Katanya, minggu depan. Ini artinya, minimal, kurang dari tujuh hari ke depan sejak pernyataan itu menjanjikan.

 

Dalam ajaran “politik itu dinamis”, perubahan sikap dan pergeseran haluan lazim terjadi semudah dan secepat politikus membalik telapak tangan. Maka, hitungan kurang dari tujuh hari akan sangat berarti; entah itu urgen yang membuat orang terdesak dan kepepet, atau itu penting yang mesti dituntaskan segera tanpa kompromi.

 

Waktu itu definitif dan, jika kita mengaretnya, akan menjepret kita. Waktu itu pedang bermata tajam; sekali datang momentum dan kesempatan tak akan lagi menghampiri kita. Atau, pada akhirnya, kita akan ditebas ketentuan waktu hingga kita menyesal sudah mengabaikan momentum yang pernah kita kuasai sepenuhnya; entah membiarkan masalah terus berlarut dan mengeruh, terlalu besar hasrat menimang keinginan semua pihak, kening berkerut lantaran banyak berpikir dan menimbang-nimbang, atau saking asyiknya berdiskusi dengan orang luar atau dalam sampai-sampai nyaris jadi referensi dari adagium, “Terlalu banyak berpikir adalah pecundang.”

 

Tak ubahnya tali pecut dari karet, semakin ditarik dan diregang lebar-lebar, waktu akan terlepas atau putus untuk memastikan kekuatannya yang membuat kita malu dan terpaksa memakan nasi yang sudah jadi bubur.

 

Satu lagi yang menarik lagi dari ungkapan Jokowi adalah soal ‘bagaimana’. Dalam jawabannya, Jokowi mengatakan, “pertemuan seperti itu”. Kata ‘seperti’ tadi mengisyaratkan tentang bagaimana pertemuan itu dilakukan. Senasib dengan ‘kapan’, Jokowi memandang ‘bagaimana’ tidak urgen, tak perlu ditanyakan.

 

Tapi, entah disadari atau tidak, ia sudah menjawab, “Biasa saja, dari dulu, kan, begitu,” saat Tempo bertanya, “Sebenarnya bagaimana pola hubungan Anda dengan Megawati?” Jawaban ini tentu saja sumir; “begitu itu” bagaimana? Namun, dalam jawaban berikutnya, entah lagi-lagi sadar atau tidak, Jokowi malah membongkar sendiri, “Sebenarnya saya ingin pertemuan itu terbuka."

 

Kiranya gejala ini menjadi contoh yang persis untuk sebuah ironi dalam ilmu Logika Hukum, “Apa yang dikehendaki tidak terjadi, dan apa yang terjadi tidak dikehendaki.” Sependek wawancara itu, ada dua ‘sebenarnya’: dari Tempo dan dari Jokowi. Namun, fakta yang terjadi justru saling bersilang dan menekuk prediksi keduanya.

 

Sulit menepis indikasi yang terlalu kuat bahwa hubungan Jokowi dan Megawati sekarang tak lagi biasa, tak lagi seperti dulu. Keinginan Jokowi untuk mengadakan pertemuan terbuka jelas-jelas bertolak belakang dengan keinginan kalangan elit partai.

 

Benturan kepentingan itu digadang-gaadang akan dimenangkan kalangan elit partai yang agaknya masih cukup kuat, setidaknya sampai detik ini, untuk meredam keinginan orang nomor satu di negeri ini. Maka, dalam tempo kurang dari tujuh hari, publik akan tahu, presidennya akan tampil ‘hebat’ di hadapan kepentingan yang berseberangan dengannya atau malah sebaliknya, kalah.

 

Pertemuan terbuka yang diinginkan Jokowi tentu saja memberi akses pada pihak pers untuk mengeksposnya ke ranah publik; kondisi yang tentu saja tidak diinginkan kalangan partai karena akan menghilangkan momentum yang ditunggu-tunggu atau merusak doktrin “politik itu dinamis”. Wajar pula bila ada pihak yang mengeluhkan seorang konsultan yang menginformasikan suasana hati dan keinginan Jokowi kepada pers untuk tidak melantik BG. Keluhan itu membuktikan bahwa indikasi itu benar adanya.

 

Kapan dan bagaimana hanyalah dua dari empat pertanyaan dasar untuk hidup, tetap hidup, dan menguasai hidup. Waktu dan pola merupakan dua elemen dasar yang kita butuhkan. Nilai penting waktu dan pola mengikuti kasus yang terkait; semakin besar kasusnya, semakin besar pula nilai waktu dan polanya. Hidup akan dikuasai saat seseorang menguasai waktu dan pola. Kita bukanlah pemimpin diri sendiri bila waktu  dan pola hidup serta keputusan kita diatur oleh waktu dan pola pihak lain. Pilihannya hanyalah, “Anda yang mengubah zaman atau zaman yang mengubah Anda.”

 

Untuk kita yang sepakat dengan nilai pola pengelolaan dalam spirit “revolusi mental”, saatnya mundur satu langkah dengan mendefinisikan diri melalui “mental revolusi”. Masalah kita bukan hanya revolusi, bagaimana revolusi, dan di sektor apa berevolusi. Juga bukan soal mental ini dan mental itu. Masalah kita justru mental itu sendiri; mental revolusi, keinginan untuk berubah, menjadi diri sendiri, menjadi bangsa mandiri, dan menjadi negawaran sejati dalam kepungan masalah dan situasi apa pun.

 

Mental revolusi tak akan memandang diri jadi kerdil dan inferior di hadapan “realitas politik” dan “politik itu dinamis”, kalau bukan malah menertawakan dua ajaran ini sebagai determinasi dan alasan berpolitik dan ber-revolusi. Satu langkah dalam membangun mental ini adalah mendeterminasi ketentuan waktu, membeber pola yang jelas, dan menguasai kelincahan dinamika, dimulai dengan seutas pertanyan paling fundamental yang kini telah terkubur jauh: ‘(Si)apa’. Aku siapa? Atau, aku bukan siapa-siapa? (IRIB Indonesia)

 

*) Doktor Filsafat Islam lulusan Universitas Al-Mustafa, Iran.

 

Kamis, 27 November 2014 08:57

RUU Perlindungan Umat Beragama

Oleh: Rumadi Ahmad*

 

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, sebagaimana dilansir sejumlah media, menyatakan, Kementerian Agama sedang mempersiapkan Rancangan Undang-Undang Perlindungan Umat Beragama.

Minggu, 19 Oktober 2014 13:41

Sumber-sumber Pendanaan ISIS

Kelompok teroris Takfiri, Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) melakukan manuver berbahaya di negara-negara Arab khususnya di Irak dan Suriah selama beberapa bulan terakhir. ISIS mengklaim ingin mendirikan pemerintahan baru dan mengubah geopolitik di kawasan itu. Sejak 8 Juli 2014, setelah kelompok teroris tersebut menyerang Irak dan berhasil menguasai sejumlah kota termasuk Mosul (Pusat Provinsi Nineveh dan kota terbesar kedua di Irak) dan Tikrit (Pusat Provinsi Salahuddin), ISIS selalu menjadi berita utama di media dan berubah menjadi ancaman serius bagi kawasan, bahkan bagi para pendukung kelompok Takfiri itu.

Oleh: Dina Y. Sulaeman

Siapa sebenarnya yang bertanggung jawab atas konflik di Timur Tengah? Ada banyak versi jawaban yang bisa diberikan. Namun, ada hal yang menarik yang baru saya temukan setelah mengikuti kuliah umum Dr. Vandana Shiva di UI pada 18 Agustus 2014, yang disponsori Mantasa dan Yayasan Kehati. Tulisan ini bukan ringkasan isi kuliah tersebut (silahkan menonton videonya di Youtube), melainkan refleksi saya.

Industri pertanian global adalah (salah satu) pihak yang bertanggung jawab atas kemiskinan umat manusia. Kata FAO, hari ini, produksi pangan dunia sebenarnya cukup untuk memberi makan semua orang. Namun karena yang menghasilkan pangan adalah industri, pangan itu dijual di pasar bebas dengan harga tinggi, sehingga banyak orang miskin tak mampu membelinya. Orang yang semula tidak miskin pun jatuh miskin karena mahalnya pangan. Tahun 2013, ada 800 juta orang di seluruh dunia yang kekurangan pangan, termasuk di Indonesia.

Senin, 28 Juli 2014 17:00

Membantu Palestina Tanpa Pencitraan

Senin, 19 Mei 2014 12:01

Mesir, Pada Akhirnya

Sabtu, 17 Mei 2014 15:53

Suriah, Pada Akhirnya

Setahun yang lalu, 19 Oktober 2014, seorang reporter Amerika, Serena Shim, tewas dibunuh di Turki saat sedang melaporkan secara langsung situasi di medan tempur, di kota perbatasan Suriah, Kobani. Serena Shim melakukan penyelidikan terhadap ribuan prajurit asing yang telah menyeberangi perbatasan Turki untuk turut bergabung dalam perang proxy di Suriah. Seperti dilaporkan oleh kantor berita Realities Watch Lebanon(15/11).      Serena Shim. Kala itu sedang dalam proses membongkar bukti-bukti yang menunjukkan bantuan yang diberikan Barat kepada ISIS. Hingga kini, bukti-bukti yang dikumpulkan Serena masih belum diketahui karena semua rekaman yang berhasil ia kumpulkan dan semua barang-barang yang ada bersamanya termasuk passport dan cincin pernikahannya disita oleh pemerintah Turki bersamaan dengan kematiannya.Serena Shim hendak kembali ke Lebanon untuk merayakan ulang tahun anaknya kala itu. Setelah menyerahkan semua bukti keterlibatan Barat sebagaimana ia menunjukkan bagaimana Turki membantu ISIS dalam laporan-laporan sebelumnya, sebenarnya Serena berniat untuk pensiun dan kembali berkumpul dengan suami, kedua anak, orang tua, serta dua saudarinya.      Jenazah Serena ShimSerena Shim dan sepupunya Judy Irish dilaporkan dibunuh melalui dalih kecelakaan truk yang melaju berlawanan arah di jalan raya. Bagaimanapun juga, keluarga Shim yang mengetahui persis duduk perkara dan bahwa Serena memiliki bukti mengenai keterlibatan Barat dalam membantu teroris di Suriah, mengatakan bahwa kecelakaan tersebut dimanipulasi oleh pemerintah Turki.     Keluarga Shim memprotes berbagai keganjilan yang terjadi pada “kecelakaan” Serena Shim yang antara lain menyatakan bahwa pertama setelah kejadian, pemerintah Turki menyatakan tidak bisa menemukan truk yang telah menabrak mobil yang disewa dan dikendarai Shim. Namun kemudian pemerintah Turki mengklaim bahwa truk yang menabrak Shim adalah sebuah truk semen, bahkan menunjukkan foto truk tersebut.     Kejanggalan kedua adalah, Shim dan Judy Irish sepupunya mereka berdua dibawa ke rumah sakit berbeda yang terpisah jarak sejauh 25 mil setelah “kecelakaan” terjadi. Lalu keganjilan berikutnya adalah, Shim dikatakan meninggal di tempat kejadian, namun kemudian berubah dinyatakan meninggal karena gagal jantung setelah sekitar satu jam dari kecelakaan.     Keluarga mencurigai Shim dibawa ke sebuah fasilitas militer rahasia sebelum dibawa ke rumah sakit.Serena Shim banyak mempublikasikan bahwa Turki telah membantu ISIS dengan memfasilitasi perjalanan ribuan tentara bayaran ke perbatasan Suriah, serta memberi fasilitas perawatan medis untuk mereka. Beberapa peristiwa penting diplomatik dan militer terjadi pada saat itu, termasuk bantuan pengiriman senjata dari Amerika Serikat untuk para pemberontak di Suriah. Salah satu paket bantuan senjata itu kemudian dikonfirmasi telah dicegat dan jatuh ke tangan ISIS serta diunggah dalam sebuah video Youtube, yang lantas menerima perhatian media internasional. Terlepas dari kenyataan bahwa Shim adalah seorang warga negara Amerika dan tewas setelah media Amerika berfokus pada wartawan lain yang tewas dipenggal ISIS, dalam kematian Shim, Presiden AS Barack Obama tidak mengeluarkan komentar apapun. Departemen Luar Negeri AS justru mengabaikan berbagai pertanyaan yang mengalir mengenai apakah pemerintah AS akan menyelidiki kematian salah satu jurnalis warga negaranya ataukah tidak. Hal ini dilansir WTF News.     Yang lebih mengherankan dari semua ini adalah, tidak ada satupun organisasi mainstream media Amerika yang memberitakan kematian warga negara Paman Sam tersebut yang terjadi secara “tidak wajar” kala sedang bertugas di zona konflik hebat kala itu.Hanya dua hari menjelang kematiannya, Shim melakukan siaran langsung di televisi yang menyatakan bahwa dirinya kini menjadi incaran penyelidikan Badan Intellijen Turki (MIT) yang menuduhnya sebagai mata-mata atas apa yang ia telah laporkan di medan perang. Menurut Shim dalam siaran langsung PressTV, Millî İstihbarat Teşkilatı, (MİT) tengah mencarinya di wilayah perbatasan Suruc dan memerintahkan penduduk lokal untuk melapor jika melihat Shim berada di wilayah itu. Shim juga mencatat bahwa selama ini, laporannya sering berpusat di wilayah Hatay dan sekitarnya, dimana banyak prajurit bayaran asing masuk ke utara Suriah melalui perbatasan Turki tersebut.Pada hari-hari sebelum kematiannya, Serena Shim telah melaporkan pengepungan di Kobani, dimana pasukan Kurdi dan pasukan militer Suriah yang tersisa berjuang melawan teroris ISIS. Pemerintah Turki menyadari kehadiran Shim yang keberadaannya berpindah-pindah antara di Turki dan Suriah. Bagaimanapun juga, Serena Shim adalah seorang reporter yang terampil melakukan penyamaran hingga ia bisa bepergian tanpa diketahui. Periode pertempuran Kobani ini, yang berlangsung antara 12-19 Oktober 2014 adalah pertempuran paling intens saat pasukan ISIS, termasuk tank-tanknya bercokol dan mengepung kota tersebut dan wilayah sekitarnya selama 3 minggu sebelumnya.Selain melaporkan situasi pertempuran di saat-saat genting itu, sebelumnya Serena Shim juga telah melakukan laporan penyamaran penting pada tahun 2012 yang juga dianggap merugikan Turki. Laporan Shim itu mengenai para pemberontak Suriah yang telah menggunakan kamp pengungsi di Turki sebagai pangkalan untuk melakukan serangan ke dalam wilayah Suriah dan bahwa kelompok teroris Al-Qaeda yang mengendalikan penyeberangan perbatasan Turki-Suriah.Setelah Shim melaporkan bahwa intellijen Turki tengah mencari keberadaannya pada tanggal 17 Oktober 2014 pertempuran Kobani menjadi makin buruk dan perkembangan penting geopolitik muncul. Cerita dimulai ketika Pemerintah Turki “menolak” AS yang akan memberi suplai senjata kepada pihak Kurdi Suriah untuk membantu mereka melawan ISIS.      Lalu kemudian pada tanggal 19 November 2014 AS memutuskan untuk memberi bantuan senjata langsung melalui udara dengan menjatuhkan paket senjata yang tentu saja, secara “tidak sengaja” kemudian jatuh ke tangan ISIS. Pejabat AS lantas menyatakan pihaknya menghancurkan paket kedua sebelum sampai ke tangan ISIS, sehingga secara otomatis tidak ada bantuan yang sampai kepada pasukan Kurdi. Sebelumnya, Turki juga menolak rencana untuk memberi jalan bagi pasukan Kurdi Irak yang ingin membantu pasukan Kurdi Suriah dalam melawan ISIS. Selang satu hari, Pemerintah Turki kemudian mengumunkan untuk membolehkan pasukan Kurdi Irak membantu pertempuran pada tanggal 20 Oktober 2014 dimana saat itu Erdogan terus menerus berusaha menunjukkan kepada public atas ketidak senangannya akan tindakan yang telah dilakukan AS pada minggu itu. Bagaimanapun juga, gabungan dua pasukan Kurdi tersebut pada akhirnya berhasil mengambil alih Kobani dari tangan ISIS serta berhasil memukul mundur mereka pada bulan Februari 2015.     Alasan khusus mengapa Shim kemudian menjadi target pemerintah Turki belum diketahui pasti hingga kini, namun satu hal yang pasti menurut rekan-rekan yang bekerja sama dengan Shim selama ini, pembunuhan atas Shim adalah akibat dari hasil usaha Shim yang berupaya untuk mengungkap rahasia dibalik perang kotor yang tengah dimainkan Turki dan AS. Perang proxy di Suriah juga digunakan untuk memanipulasi opini politik di Amerika Serikat.Laporan berita Serena Shim difokuskan pada dua daerah paling penting dari perang Suriah.     Laporannya di dekat kota Hatay dan perbatasan Suriah, Reyhanli berhasil mengungkap bukti bahwa teroris ISIS menggunakan kendaraan Program Pangan Dunia PBB dalam konvoi mereka. Daerah Hatay juga dikenal sebagai daerah penyelundupan minyak ISIS yang sering mereka gunakan untuk membiayai operasi. Daerah ini adalah titik kritis kendali dari perbatasan menuju kota Aleppo, yang telah diperebutkan sejak awal perang.Shim juga pernah membuat laporan dari Kobani, mengenai pangkalan militer rahasia Turki di dekat Kobani dan Sanliurfa, Turki. Negara itu, membuka rumah sakit di Sanliurfa yang memberi pelayanan medis kepada ISIS dan pemberontak lain dalam konflik di negara tetangganya itu. Wilayah perbatasan yang menghubungkan Akcakale ke timur Kobani itu telah berpindah tangan beberapa kali sejak September 2012 ketika pemberontak Suriah menguasainya.Pertempuran Kobani sendiri sebelumnya adalah merupakan bagian penting dari ekspansi ISIS guna memberi kendali lebih diluar wilayah perbatasan ibukota de factonya Raqqa.(IRIB Indonesia/arrahmahnews)
Jumat, 04 September 2015 11:40

Resensi Film Muhammad Rasulullah Saw

Luar Biasa ... Luar Biasa ... Luar Biasa

 

Sejak diumumkan akan ditayangkan secara serentak di bioskop-bioskop Tehran pada Rabu 26 Agustus, keinginan untuk menikmati film termahal Iran dan dibuat selama 7 tahun semakin membuncah. Apalagi informasinya, sutradara Majid Majidi dibantu para sineas kelas dunia untuk mewujudkan film ini.

Senin, 09 Februari 2015 16:45

Revolusi Mental & Aku (Bukan) Siapa

Oleh: Ammar Fauzi Heriyadi*

 

“Kapan terakhir bertemu dengan Megawati?” Pertanyaan itu terlontar dari wartawan Tempo hampir dua minggu yang lalu (27/1/15) kepada Presiden Joko Widodo. Dalam ketidaksabaran yang terbaca wartawan tadi, Jokowi menjawab, “Pertemuan seperti itu tidak perlu saya sampaikan kapan atau bagaimana. Urgensinya apa? Sebenarnya saya ingin pertemuan-pertemuan itu terbuka. Pers melihat supaya terang benderang. Tidak menebak-nebak. Tapi belum tentu beliau-beliau (elite partai) ini mau.”

 

Jawaban itu cukup menarik untuk dicermati. Pertanyaan balik, “Urgensinya apa?” sudah dijawab sendiri oleh Jokowi di awal tadi; pertemuan seperti itu tidak perlu dijelaskan kapan (waktunya) dan bagaimana (caranya).

 

Dalam dinamika dan doktrin politik kebanyakan politikus juga partisan, “politik itu dinamis”; waktu karenanya sangat krusial, yaitu membaca momentum. Sebelum meninggalkan tanah air Rabu lalu, misalnya, Jokowi belum bisa memberi kejelasan soal pelantikan calon kapolri Budi Gunawan yang kontroversial. “Akan diumumkan pada waktu yang tepat,” katanya. Kapan? Pastinya bukan sekarang, tapi lain hari. Hari apa? Katanya, minggu depan. Ini artinya, minimal, kurang dari tujuh hari ke depan sejak pernyataan itu menjanjikan.

 

Dalam ajaran “politik itu dinamis”, perubahan sikap dan pergeseran haluan lazim terjadi semudah dan secepat politikus membalik telapak tangan. Maka, hitungan kurang dari tujuh hari akan sangat berarti; entah itu urgen yang membuat orang terdesak dan kepepet, atau itu penting yang mesti dituntaskan segera tanpa kompromi.

 

Waktu itu definitif dan, jika kita mengaretnya, akan menjepret kita. Waktu itu pedang bermata tajam; sekali datang momentum dan kesempatan tak akan lagi menghampiri kita. Atau, pada akhirnya, kita akan ditebas ketentuan waktu hingga kita menyesal sudah mengabaikan momentum yang pernah kita kuasai sepenuhnya; entah membiarkan masalah terus berlarut dan mengeruh, terlalu besar hasrat menimang keinginan semua pihak, kening berkerut lantaran banyak berpikir dan menimbang-nimbang, atau saking asyiknya berdiskusi dengan orang luar atau dalam sampai-sampai nyaris jadi referensi dari adagium, “Terlalu banyak berpikir adalah pecundang.”

 

Tak ubahnya tali pecut dari karet, semakin ditarik dan diregang lebar-lebar, waktu akan terlepas atau putus untuk memastikan kekuatannya yang membuat kita malu dan terpaksa memakan nasi yang sudah jadi bubur.

 

Satu lagi yang menarik lagi dari ungkapan Jokowi adalah soal ‘bagaimana’. Dalam jawabannya, Jokowi mengatakan, “pertemuan seperti itu”. Kata ‘seperti’ tadi mengisyaratkan tentang bagaimana pertemuan itu dilakukan. Senasib dengan ‘kapan’, Jokowi memandang ‘bagaimana’ tidak urgen, tak perlu ditanyakan.

 

Tapi, entah disadari atau tidak, ia sudah menjawab, “Biasa saja, dari dulu, kan, begitu,” saat Tempo bertanya, “Sebenarnya bagaimana pola hubungan Anda dengan Megawati?” Jawaban ini tentu saja sumir; “begitu itu” bagaimana? Namun, dalam jawaban berikutnya, entah lagi-lagi sadar atau tidak, Jokowi malah membongkar sendiri, “Sebenarnya saya ingin pertemuan itu terbuka."

 

Kiranya gejala ini menjadi contoh yang persis untuk sebuah ironi dalam ilmu Logika Hukum, “Apa yang dikehendaki tidak terjadi, dan apa yang terjadi tidak dikehendaki.” Sependek wawancara itu, ada dua ‘sebenarnya’: dari Tempo dan dari Jokowi. Namun, fakta yang terjadi justru saling bersilang dan menekuk prediksi keduanya.

 

Sulit menepis indikasi yang terlalu kuat bahwa hubungan Jokowi dan Megawati sekarang tak lagi biasa, tak lagi seperti dulu. Keinginan Jokowi untuk mengadakan pertemuan terbuka jelas-jelas bertolak belakang dengan keinginan kalangan elit partai.

 

Benturan kepentingan itu digadang-gaadang akan dimenangkan kalangan elit partai yang agaknya masih cukup kuat, setidaknya sampai detik ini, untuk meredam keinginan orang nomor satu di negeri ini. Maka, dalam tempo kurang dari tujuh hari, publik akan tahu, presidennya akan tampil ‘hebat’ di hadapan kepentingan yang berseberangan dengannya atau malah sebaliknya, kalah.

 

Pertemuan terbuka yang diinginkan Jokowi tentu saja memberi akses pada pihak pers untuk mengeksposnya ke ranah publik; kondisi yang tentu saja tidak diinginkan kalangan partai karena akan menghilangkan momentum yang ditunggu-tunggu atau merusak doktrin “politik itu dinamis”. Wajar pula bila ada pihak yang mengeluhkan seorang konsultan yang menginformasikan suasana hati dan keinginan Jokowi kepada pers untuk tidak melantik BG. Keluhan itu membuktikan bahwa indikasi itu benar adanya.

 

Kapan dan bagaimana hanyalah dua dari empat pertanyaan dasar untuk hidup, tetap hidup, dan menguasai hidup. Waktu dan pola merupakan dua elemen dasar yang kita butuhkan. Nilai penting waktu dan pola mengikuti kasus yang terkait; semakin besar kasusnya, semakin besar pula nilai waktu dan polanya. Hidup akan dikuasai saat seseorang menguasai waktu dan pola. Kita bukanlah pemimpin diri sendiri bila waktu  dan pola hidup serta keputusan kita diatur oleh waktu dan pola pihak lain. Pilihannya hanyalah, “Anda yang mengubah zaman atau zaman yang mengubah Anda.”

 

Untuk kita yang sepakat dengan nilai pola pengelolaan dalam spirit “revolusi mental”, saatnya mundur satu langkah dengan mendefinisikan diri melalui “mental revolusi”. Masalah kita bukan hanya revolusi, bagaimana revolusi, dan di sektor apa berevolusi. Juga bukan soal mental ini dan mental itu. Masalah kita justru mental itu sendiri; mental revolusi, keinginan untuk berubah, menjadi diri sendiri, menjadi bangsa mandiri, dan menjadi negawaran sejati dalam kepungan masalah dan situasi apa pun.

 

Mental revolusi tak akan memandang diri jadi kerdil dan inferior di hadapan “realitas politik” dan “politik itu dinamis”, kalau bukan malah menertawakan dua ajaran ini sebagai determinasi dan alasan berpolitik dan ber-revolusi. Satu langkah dalam membangun mental ini adalah mendeterminasi ketentuan waktu, membeber pola yang jelas, dan menguasai kelincahan dinamika, dimulai dengan seutas pertanyan paling fundamental yang kini telah terkubur jauh: ‘(Si)apa’. Aku siapa? Atau, aku bukan siapa-siapa? (IRIB Indonesia)

 

*) Doktor Filsafat Islam lulusan Universitas Al-Mustafa, Iran.

 

Kamis, 27 November 2014 08:57

RUU Perlindungan Umat Beragama

Oleh: Rumadi Ahmad*

 

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, sebagaimana dilansir sejumlah media, menyatakan, Kementerian Agama sedang mempersiapkan Rancangan Undang-Undang Perlindungan Umat Beragama.

Minggu, 19 Oktober 2014 13:41

Sumber-sumber Pendanaan ISIS

Kelompok teroris Takfiri, Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) melakukan manuver berbahaya di negara-negara Arab khususnya di Irak dan Suriah selama beberapa bulan terakhir. ISIS mengklaim ingin mendirikan pemerintahan baru dan mengubah geopolitik di kawasan itu. Sejak 8 Juli 2014, setelah kelompok teroris tersebut menyerang Irak dan berhasil menguasai sejumlah kota termasuk Mosul (Pusat Provinsi Nineveh dan kota terbesar kedua di Irak) dan Tikrit (Pusat Provinsi Salahuddin), ISIS selalu menjadi berita utama di media dan berubah menjadi ancaman serius bagi kawasan, bahkan bagi para pendukung kelompok Takfiri itu.

Oleh: Dina Y. Sulaeman

Siapa sebenarnya yang bertanggung jawab atas konflik di Timur Tengah? Ada banyak versi jawaban yang bisa diberikan. Namun, ada hal yang menarik yang baru saya temukan setelah mengikuti kuliah umum Dr. Vandana Shiva di UI pada 18 Agustus 2014, yang disponsori Mantasa dan Yayasan Kehati. Tulisan ini bukan ringkasan isi kuliah tersebut (silahkan menonton videonya di Youtube), melainkan refleksi saya.

Industri pertanian global adalah (salah satu) pihak yang bertanggung jawab atas kemiskinan umat manusia. Kata FAO, hari ini, produksi pangan dunia sebenarnya cukup untuk memberi makan semua orang. Namun karena yang menghasilkan pangan adalah industri, pangan itu dijual di pasar bebas dengan harga tinggi, sehingga banyak orang miskin tak mampu membelinya. Orang yang semula tidak miskin pun jatuh miskin karena mahalnya pangan. Tahun 2013, ada 800 juta orang di seluruh dunia yang kekurangan pangan, termasuk di Indonesia.

Senin, 28 Juli 2014 17:00

Membantu Palestina Tanpa Pencitraan

Senin, 19 Mei 2014 12:01

Mesir, Pada Akhirnya

Sabtu, 17 Mei 2014 15:53

Suriah, Pada Akhirnya

Setahun yang lalu, 19 Oktober 2014, seorang reporter Amerika, Serena Shim, tewas dibunuh di Turki saat sedang melaporkan secara langsung situasi di medan tempur, di kota perbatasan Suriah, Kobani. Serena Shim melakukan penyelidikan terhadap ribuan prajurit asing yang telah menyeberangi perbatasan Turki untuk turut bergabung dalam perang proxy di Suriah. Seperti dilaporkan oleh kantor berita Realities Watch Lebanon(15/11).      Serena Shim. Kala itu sedang dalam proses membongkar bukti-bukti yang menunjukkan bantuan yang diberikan Barat kepada ISIS. Hingga kini, bukti-bukti yang dikumpulkan Serena masih belum diketahui karena semua rekaman yang berhasil ia kumpulkan dan semua barang-barang yang ada bersamanya termasuk passport dan cincin pernikahannya disita oleh pemerintah Turki bersamaan dengan kematiannya.Serena Shim hendak kembali ke Lebanon untuk merayakan ulang tahun anaknya kala itu. Setelah menyerahkan semua bukti keterlibatan Barat sebagaimana ia menunjukkan bagaimana Turki membantu ISIS dalam laporan-laporan sebelumnya, sebenarnya Serena berniat untuk pensiun dan kembali berkumpul dengan suami, kedua anak, orang tua, serta dua saudarinya.      Jenazah Serena ShimSerena Shim dan sepupunya Judy Irish dilaporkan dibunuh melalui dalih kecelakaan truk yang melaju berlawanan arah di jalan raya. Bagaimanapun juga, keluarga Shim yang mengetahui persis duduk perkara dan bahwa Serena memiliki bukti mengenai keterlibatan Barat dalam membantu teroris di Suriah, mengatakan bahwa kecelakaan tersebut dimanipulasi oleh pemerintah Turki.     Keluarga Shim memprotes berbagai keganjilan yang terjadi pada “kecelakaan” Serena Shim yang antara lain menyatakan bahwa pertama setelah kejadian, pemerintah Turki menyatakan tidak bisa menemukan truk yang telah menabrak mobil yang disewa dan dikendarai Shim. Namun kemudian pemerintah Turki mengklaim bahwa truk yang menabrak Shim adalah sebuah truk semen, bahkan menunjukkan foto truk tersebut.     Kejanggalan kedua adalah, Shim dan Judy Irish sepupunya mereka berdua dibawa ke rumah sakit berbeda yang terpisah jarak sejauh 25 mil setelah “kecelakaan” terjadi. Lalu keganjilan berikutnya adalah, Shim dikatakan meninggal di tempat kejadian, namun kemudian berubah dinyatakan meninggal karena gagal jantung setelah sekitar satu jam dari kecelakaan.     Keluarga mencurigai Shim dibawa ke sebuah fasilitas militer rahasia sebelum dibawa ke rumah sakit.Serena Shim banyak mempublikasikan bahwa Turki telah membantu ISIS dengan memfasilitasi perjalanan ribuan tentara bayaran ke perbatasan Suriah, serta memberi fasilitas perawatan medis untuk mereka. Beberapa peristiwa penting diplomatik dan militer terjadi pada saat itu, termasuk bantuan pengiriman senjata dari Amerika Serikat untuk para pemberontak di Suriah. Salah satu paket bantuan senjata itu kemudian dikonfirmasi telah dicegat dan jatuh ke tangan ISIS serta diunggah dalam sebuah video Youtube, yang lantas menerima perhatian media internasional. Terlepas dari kenyataan bahwa Shim adalah seorang warga negara Amerika dan tewas setelah media Amerika berfokus pada wartawan lain yang tewas dipenggal ISIS, dalam kematian Shim, Presiden AS Barack Obama tidak mengeluarkan komentar apapun. Departemen Luar Negeri AS justru mengabaikan berbagai pertanyaan yang mengalir mengenai apakah pemerintah AS akan menyelidiki kematian salah satu jurnalis warga negaranya ataukah tidak. Hal ini dilansir WTF News.     Yang lebih mengherankan dari semua ini adalah, tidak ada satupun organisasi mainstream media Amerika yang memberitakan kematian warga negara Paman Sam tersebut yang terjadi secara “tidak wajar” kala sedang bertugas di zona konflik hebat kala itu.Hanya dua hari menjelang kematiannya, Shim melakukan siaran langsung di televisi yang menyatakan bahwa dirinya kini menjadi incaran penyelidikan Badan Intellijen Turki (MIT) yang menuduhnya sebagai mata-mata atas apa yang ia telah laporkan di medan perang. Menurut Shim dalam siaran langsung PressTV, Millî İstihbarat Teşkilatı, (MİT) tengah mencarinya di wilayah perbatasan Suruc dan memerintahkan penduduk lokal untuk melapor jika melihat Shim berada di wilayah itu. Shim juga mencatat bahwa selama ini, laporannya sering berpusat di wilayah Hatay dan sekitarnya, dimana banyak prajurit bayaran asing masuk ke utara Suriah melalui perbatasan Turki tersebut.Pada hari-hari sebelum kematiannya, Serena Shim telah melaporkan pengepungan di Kobani, dimana pasukan Kurdi dan pasukan militer Suriah yang tersisa berjuang melawan teroris ISIS. Pemerintah Turki menyadari kehadiran Shim yang keberadaannya berpindah-pindah antara di Turki dan Suriah. Bagaimanapun juga, Serena Shim adalah seorang reporter yang terampil melakukan penyamaran hingga ia bisa bepergian tanpa diketahui. Periode pertempuran Kobani ini, yang berlangsung antara 12-19 Oktober 2014 adalah pertempuran paling intens saat pasukan ISIS, termasuk tank-tanknya bercokol dan mengepung kota tersebut dan wilayah sekitarnya selama 3 minggu sebelumnya.Selain melaporkan situasi pertempuran di saat-saat genting itu, sebelumnya Serena Shim juga telah melakukan laporan penyamaran penting pada tahun 2012 yang juga dianggap merugikan Turki. Laporan Shim itu mengenai para pemberontak Suriah yang telah menggunakan kamp pengungsi di Turki sebagai pangkalan untuk melakukan serangan ke dalam wilayah Suriah dan bahwa kelompok teroris Al-Qaeda yang mengendalikan penyeberangan perbatasan Turki-Suriah.Setelah Shim melaporkan bahwa intellijen Turki tengah mencari keberadaannya pada tanggal 17 Oktober 2014 pertempuran Kobani menjadi makin buruk dan perkembangan penting geopolitik muncul. Cerita dimulai ketika Pemerintah Turki “menolak” AS yang akan memberi suplai senjata kepada pihak Kurdi Suriah untuk membantu mereka melawan ISIS.      Lalu kemudian pada tanggal 19 November 2014 AS memutuskan untuk memberi bantuan senjata langsung melalui udara dengan menjatuhkan paket senjata yang tentu saja, secara “tidak sengaja” kemudian jatuh ke tangan ISIS. Pejabat AS lantas menyatakan pihaknya menghancurkan paket kedua sebelum sampai ke tangan ISIS, sehingga secara otomatis tidak ada bantuan yang sampai kepada pasukan Kurdi. Sebelumnya, Turki juga menolak rencana untuk memberi jalan bagi pasukan Kurdi Irak yang ingin membantu pasukan Kurdi Suriah dalam melawan ISIS. Selang satu hari, Pemerintah Turki kemudian mengumunkan untuk membolehkan pasukan Kurdi Irak membantu pertempuran pada tanggal 20 Oktober 2014 dimana saat itu Erdogan terus menerus berusaha menunjukkan kepada public atas ketidak senangannya akan tindakan yang telah dilakukan AS pada minggu itu. Bagaimanapun juga, gabungan dua pasukan Kurdi tersebut pada akhirnya berhasil mengambil alih Kobani dari tangan ISIS serta berhasil memukul mundur mereka pada bulan Februari 2015.     Alasan khusus mengapa Shim kemudian menjadi target pemerintah Turki belum diketahui pasti hingga kini, namun satu hal yang pasti menurut rekan-rekan yang bekerja sama dengan Shim selama ini, pembunuhan atas Shim adalah akibat dari hasil usaha Shim yang berupaya untuk mengungkap rahasia dibalik perang kotor yang tengah dimainkan Turki dan AS. Perang proxy di Suriah juga digunakan untuk memanipulasi opini politik di Amerika Serikat.Laporan berita Serena Shim difokuskan pada dua daerah paling penting dari perang Suriah.     Laporannya di dekat kota Hatay dan perbatasan Suriah, Reyhanli berhasil mengungkap bukti bahwa teroris ISIS menggunakan kendaraan Program Pangan Dunia PBB dalam konvoi mereka. Daerah Hatay juga dikenal sebagai daerah penyelundupan minyak ISIS yang sering mereka gunakan untuk membiayai operasi. Daerah ini adalah titik kritis kendali dari perbatasan menuju kota Aleppo, yang telah diperebutkan sejak awal perang.Shim juga pernah membuat laporan dari Kobani, mengenai pangkalan militer rahasia Turki di dekat Kobani dan Sanliurfa, Turki. Negara itu, membuka rumah sakit di Sanliurfa yang memberi pelayanan medis kepada ISIS dan pemberontak lain dalam konflik di negara tetangganya itu. Wilayah perbatasan yang menghubungkan Akcakale ke timur Kobani itu telah berpindah tangan beberapa kali sejak September 2012 ketika pemberontak Suriah menguasainya.Pertempuran Kobani sendiri sebelumnya adalah merupakan bagian penting dari ekspansi ISIS guna memberi kendali lebih diluar wilayah perbatasan ibukota de factonya Raqqa.(IRIB Indonesia/arrahmahnews)
Jumat, 04 September 2015 11:40

Resensi Film Muhammad Rasulullah Saw

Luar Biasa ... Luar Biasa ... Luar Biasa

 

Sejak diumumkan akan ditayangkan secara serentak di bioskop-bioskop Tehran pada Rabu 26 Agustus, keinginan untuk menikmati film termahal Iran dan dibuat selama 7 tahun semakin membuncah. Apalagi informasinya, sutradara Majid Majidi dibantu para sineas kelas dunia untuk mewujudkan film ini.

Senin, 09 Februari 2015 16:45

Revolusi Mental & Aku (Bukan) Siapa

Oleh: Ammar Fauzi Heriyadi*

 

“Kapan terakhir bertemu dengan Megawati?” Pertanyaan itu terlontar dari wartawan Tempo hampir dua minggu yang lalu (27/1/15) kepada Presiden Joko Widodo. Dalam ketidaksabaran yang terbaca wartawan tadi, Jokowi menjawab, “Pertemuan seperti itu tidak perlu saya sampaikan kapan atau bagaimana. Urgensinya apa? Sebenarnya saya ingin pertemuan-pertemuan itu terbuka. Pers melihat supaya terang benderang. Tidak menebak-nebak. Tapi belum tentu beliau-beliau (elite partai) ini mau.”

 

Jawaban itu cukup menarik untuk dicermati. Pertanyaan balik, “Urgensinya apa?” sudah dijawab sendiri oleh Jokowi di awal tadi; pertemuan seperti itu tidak perlu dijelaskan kapan (waktunya) dan bagaimana (caranya).

 

Dalam dinamika dan doktrin politik kebanyakan politikus juga partisan, “politik itu dinamis”; waktu karenanya sangat krusial, yaitu membaca momentum. Sebelum meninggalkan tanah air Rabu lalu, misalnya, Jokowi belum bisa memberi kejelasan soal pelantikan calon kapolri Budi Gunawan yang kontroversial. “Akan diumumkan pada waktu yang tepat,” katanya. Kapan? Pastinya bukan sekarang, tapi lain hari. Hari apa? Katanya, minggu depan. Ini artinya, minimal, kurang dari tujuh hari ke depan sejak pernyataan itu menjanjikan.

 

Dalam ajaran “politik itu dinamis”, perubahan sikap dan pergeseran haluan lazim terjadi semudah dan secepat politikus membalik telapak tangan. Maka, hitungan kurang dari tujuh hari akan sangat berarti; entah itu urgen yang membuat orang terdesak dan kepepet, atau itu penting yang mesti dituntaskan segera tanpa kompromi.

 

Waktu itu definitif dan, jika kita mengaretnya, akan menjepret kita. Waktu itu pedang bermata tajam; sekali datang momentum dan kesempatan tak akan lagi menghampiri kita. Atau, pada akhirnya, kita akan ditebas ketentuan waktu hingga kita menyesal sudah mengabaikan momentum yang pernah kita kuasai sepenuhnya; entah membiarkan masalah terus berlarut dan mengeruh, terlalu besar hasrat menimang keinginan semua pihak, kening berkerut lantaran banyak berpikir dan menimbang-nimbang, atau saking asyiknya berdiskusi dengan orang luar atau dalam sampai-sampai nyaris jadi referensi dari adagium, “Terlalu banyak berpikir adalah pecundang.”

 

Tak ubahnya tali pecut dari karet, semakin ditarik dan diregang lebar-lebar, waktu akan terlepas atau putus untuk memastikan kekuatannya yang membuat kita malu dan terpaksa memakan nasi yang sudah jadi bubur.

 

Satu lagi yang menarik lagi dari ungkapan Jokowi adalah soal ‘bagaimana’. Dalam jawabannya, Jokowi mengatakan, “pertemuan seperti itu”. Kata ‘seperti’ tadi mengisyaratkan tentang bagaimana pertemuan itu dilakukan. Senasib dengan ‘kapan’, Jokowi memandang ‘bagaimana’ tidak urgen, tak perlu ditanyakan.

 

Tapi, entah disadari atau tidak, ia sudah menjawab, “Biasa saja, dari dulu, kan, begitu,” saat Tempo bertanya, “Sebenarnya bagaimana pola hubungan Anda dengan Megawati?” Jawaban ini tentu saja sumir; “begitu itu” bagaimana? Namun, dalam jawaban berikutnya, entah lagi-lagi sadar atau tidak, Jokowi malah membongkar sendiri, “Sebenarnya saya ingin pertemuan itu terbuka."

 

Kiranya gejala ini menjadi contoh yang persis untuk sebuah ironi dalam ilmu Logika Hukum, “Apa yang dikehendaki tidak terjadi, dan apa yang terjadi tidak dikehendaki.” Sependek wawancara itu, ada dua ‘sebenarnya’: dari Tempo dan dari Jokowi. Namun, fakta yang terjadi justru saling bersilang dan menekuk prediksi keduanya.

 

Sulit menepis indikasi yang terlalu kuat bahwa hubungan Jokowi dan Megawati sekarang tak lagi biasa, tak lagi seperti dulu. Keinginan Jokowi untuk mengadakan pertemuan terbuka jelas-jelas bertolak belakang dengan keinginan kalangan elit partai.

 

Benturan kepentingan itu digadang-gaadang akan dimenangkan kalangan elit partai yang agaknya masih cukup kuat, setidaknya sampai detik ini, untuk meredam keinginan orang nomor satu di negeri ini. Maka, dalam tempo kurang dari tujuh hari, publik akan tahu, presidennya akan tampil ‘hebat’ di hadapan kepentingan yang berseberangan dengannya atau malah sebaliknya, kalah.

 

Pertemuan terbuka yang diinginkan Jokowi tentu saja memberi akses pada pihak pers untuk mengeksposnya ke ranah publik; kondisi yang tentu saja tidak diinginkan kalangan partai karena akan menghilangkan momentum yang ditunggu-tunggu atau merusak doktrin “politik itu dinamis”. Wajar pula bila ada pihak yang mengeluhkan seorang konsultan yang menginformasikan suasana hati dan keinginan Jokowi kepada pers untuk tidak melantik BG. Keluhan itu membuktikan bahwa indikasi itu benar adanya.

 

Kapan dan bagaimana hanyalah dua dari empat pertanyaan dasar untuk hidup, tetap hidup, dan menguasai hidup. Waktu dan pola merupakan dua elemen dasar yang kita butuhkan. Nilai penting waktu dan pola mengikuti kasus yang terkait; semakin besar kasusnya, semakin besar pula nilai waktu dan polanya. Hidup akan dikuasai saat seseorang menguasai waktu dan pola. Kita bukanlah pemimpin diri sendiri bila waktu  dan pola hidup serta keputusan kita diatur oleh waktu dan pola pihak lain. Pilihannya hanyalah, “Anda yang mengubah zaman atau zaman yang mengubah Anda.”

 

Untuk kita yang sepakat dengan nilai pola pengelolaan dalam spirit “revolusi mental”, saatnya mundur satu langkah dengan mendefinisikan diri melalui “mental revolusi”. Masalah kita bukan hanya revolusi, bagaimana revolusi, dan di sektor apa berevolusi. Juga bukan soal mental ini dan mental itu. Masalah kita justru mental itu sendiri; mental revolusi, keinginan untuk berubah, menjadi diri sendiri, menjadi bangsa mandiri, dan menjadi negawaran sejati dalam kepungan masalah dan situasi apa pun.

 

Mental revolusi tak akan memandang diri jadi kerdil dan inferior di hadapan “realitas politik” dan “politik itu dinamis”, kalau bukan malah menertawakan dua ajaran ini sebagai determinasi dan alasan berpolitik dan ber-revolusi. Satu langkah dalam membangun mental ini adalah mendeterminasi ketentuan waktu, membeber pola yang jelas, dan menguasai kelincahan dinamika, dimulai dengan seutas pertanyan paling fundamental yang kini telah terkubur jauh: ‘(Si)apa’. Aku siapa? Atau, aku bukan siapa-siapa? (IRIB Indonesia)

 

*) Doktor Filsafat Islam lulusan Universitas Al-Mustafa, Iran.

 

Kamis, 27 November 2014 08:57

RUU Perlindungan Umat Beragama

Oleh: Rumadi Ahmad*

 

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, sebagaimana dilansir sejumlah media, menyatakan, Kementerian Agama sedang mempersiapkan Rancangan Undang-Undang Perlindungan Umat Beragama.

Minggu, 19 Oktober 2014 13:41

Sumber-sumber Pendanaan ISIS

Kelompok teroris Takfiri, Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) melakukan manuver berbahaya di negara-negara Arab khususnya di Irak dan Suriah selama beberapa bulan terakhir. ISIS mengklaim ingin mendirikan pemerintahan baru dan mengubah geopolitik di kawasan itu. Sejak 8 Juli 2014, setelah kelompok teroris tersebut menyerang Irak dan berhasil menguasai sejumlah kota termasuk Mosul (Pusat Provinsi Nineveh dan kota terbesar kedua di Irak) dan Tikrit (Pusat Provinsi Salahuddin), ISIS selalu menjadi berita utama di media dan berubah menjadi ancaman serius bagi kawasan, bahkan bagi para pendukung kelompok Takfiri itu.

Oleh: Dina Y. Sulaeman

Siapa sebenarnya yang bertanggung jawab atas konflik di Timur Tengah? Ada banyak versi jawaban yang bisa diberikan. Namun, ada hal yang menarik yang baru saya temukan setelah mengikuti kuliah umum Dr. Vandana Shiva di UI pada 18 Agustus 2014, yang disponsori Mantasa dan Yayasan Kehati. Tulisan ini bukan ringkasan isi kuliah tersebut (silahkan menonton videonya di Youtube), melainkan refleksi saya.

Industri pertanian global adalah (salah satu) pihak yang bertanggung jawab atas kemiskinan umat manusia. Kata FAO, hari ini, produksi pangan dunia sebenarnya cukup untuk memberi makan semua orang. Namun karena yang menghasilkan pangan adalah industri, pangan itu dijual di pasar bebas dengan harga tinggi, sehingga banyak orang miskin tak mampu membelinya. Orang yang semula tidak miskin pun jatuh miskin karena mahalnya pangan. Tahun 2013, ada 800 juta orang di seluruh dunia yang kekurangan pangan, termasuk di Indonesia.

Senin, 28 Juli 2014 17:00

Membantu Palestina Tanpa Pencitraan

Senin, 19 Mei 2014 12:01

Mesir, Pada Akhirnya

Sabtu, 17 Mei 2014 15:53

Suriah, Pada Akhirnya