Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Minggu, 19 Oktober 2014 13:41

Sumber-sumber Pendanaan ISIS

Sumber-sumber Pendanaan ISIS

Kelompok teroris Takfiri, Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) melakukan manuver berbahaya di negara-negara Arab khususnya di Irak dan Suriah selama beberapa bulan terakhir. ISIS mengklaim ingin mendirikan pemerintahan baru dan mengubah geopolitik di kawasan itu. Sejak 8 Juli 2014, setelah kelompok teroris tersebut menyerang Irak dan berhasil menguasai sejumlah kota termasuk Mosul (Pusat Provinsi Nineveh dan kota terbesar kedua di Irak) dan Tikrit (Pusat Provinsi Salahuddin), ISIS selalu menjadi berita utama di media dan berubah menjadi ancaman serius bagi kawasan, bahkan bagi para pendukung kelompok Takfiri itu.

 

 

Poin penting terkait aktivitas para pemimpin ISIS adalah mereka memanfaatkan kemampuan finansial untuk mendorong para pemuda dan militan dari berbagai negara untuk bergabung dengan kelompok teroris itu. Upaya tersebut telah membuahkan hasil dan ribuan orang dari 80 negara dunia bergabung dengan ISIS. Para pemimpin kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah juga memberikan bayaran tinggi kepada anggota-anggotanya, dan membeli dukungan dari para pemimpin dan pembesar suku.

 

Selain itu, mereka memberikan bayaran yang cukup kepada keluarga anggotanya yang tewas di medan tempur. ISIS yang mengklaim mendirikan khilafah, tentunya membutuhkan sumber-sumber dana yang banyak untuk melanjutkan kekhilafannya itu. Fareed Zakaria pada Agustus 2014 mengatakan bahwa penghasilan ISIS perharinya mencapai satu juta dolar.

 

Salah satu sumber terpenting pendanaan ISIS adalah bantuan-bantuan dari negara-negara Arab dan Barat, dan dalam hal ini tidak ada pihak yang meragukannya. Hingga sekarang, banyak dokumen dan laporan yang menyebutkan tentang bantuan finansial negara-negara Arab dan Barat kepada para teroris di Suriah. Laporan-laporan tersebut juga diakui oleh para pejabat negara-negara pendukung ISIS.

 

Di antara negara-negara Arab yang memberikan bantuan finansial terbanyak kepada kelompok-kelompok teroris termasuk ISIS di Suriah, adalah Arab Saudi, Kuwait, Qatar dan Uni Emirat Arab (UEA). Selain itu, orang-orang kaya di negara-negara Arab juga menyumbangkan jutaan dolar kepada ISIS dan menjadi tuan rumah para pemimpin senior kelompok teroris tersebut.

 

Mengingat di sebagian besar negara Arab sering terjadi praktek pencucian uang dan lemahnya undang-undang tentang masalah itu, maka para Sheikh Arab dapat menguasai banyak sumber keuangan di negara mereka. Dengan demikian, kemungkinan adanya hubungan antara orang-orang kaya dan ISIS sangat besar.

 

ISIS mempunyai banyak agen dan perantara yang menghubungkannya dengan sistem perbankan di negara-negara lain terutama di negara-negara Arab, sebab uang itu sampai ke tangan para pemimpin kelompok Takfiri tersebut melalui para agen dan mafia bank. Nouri al-Maliki, mantan Perdana Menteri Irak telah berulang kali menyebut negara-negara Arab sebagai pemasok utama bagi kebutuhan kelompok-kelompok teroris di Irak dan Suriah.

 

Gunther Maier, Direktur Pusat Studi Dunia Arab di Universitas Mainz Jerman beberapa waktu lalu mengatakan, tidak ada keraguan lagi bahwa dukungan negara-negara Arab Pesisir Teluk Persia khususnya Arab Saudi, Qatar, Kuwait dan UEA merupakan sumber utama bagi keuangan ISIS. Ia menilai dukungan finansial negara-negara itu kepada para teroris ISIS sebagai bentuk dukungan kepada mereka dalam memerangi pemerintah Bashar al-Assad, Presiden Suriah.

 

Menurut Maier, sebenarnya pemerintah Riyadh telah memahami ancaman dan bahaya teroris-teroris ISIS jika kembali ke Arab Saudi, sebab ada kemungkinan mereka akan melakukan kudeta terhadap kerajaan. Direktur Pusat Studi Arab di Universitas Mainz  itu mengatakan, “Pada dasarnya, sumber utama pemasok dana mereka bukan pemerintah Arab Saudi, tetapi tokoh-tokoh kaya di negara itu.”

 

Haytham Manna, Direkur Pusat Studi untuk Hak Asasi Manusia Skandinavia mempublikasikan sebuah hasil penyelidikan dengan tema “Aset dan kekayaan Negara Islam Irak dan Suriah/ISIS.” Dalam laporan itu, ia mengabarkan adanya sebuah daftar 127 pedagang dan pengusaha Salafi sebagai pemasok keuangan ISIS di negara-negara seperti Kuwait dan Arab Saudi. Menurutnya, daftar tersebut telah diserahkan kepada PBB.

 

Sumber penting lainnya bagi pendanaan ISIS adalah pemanfaatan sumber-sumber minyak di berbagai wilayah di Suriah dan Irak yang dikuasai oleh kelompok teroris tersebut. Sejak akhir tahun 2012, sejumlah sumur minyak di utara Suriah diduduki oleh militan ISIS. Setelah menyerang kota Mosul dan Tikrit di Irak, para militan ISIS juga menguasai sebagian sumber minyak di kedua kota tersebut, dan juga berusaha keras untuk merebut wilayah penting Baiji.

 

Melihat kondisi tersebut, maka tidak aneh jika para teroris ISIS memiliki agen, calo dan mafia di sektor minyak supaya dapat menjual minyak mereka ke pasar-pasar internasional. Terkait laporan minyak Irak yang dipublikasikan pada Juli 2014, beberapa pakar mengatakan, ISIS memperoleh pendapatan satu juta dolar perhari dari hasil penjualan minyak kepada para pembeli di wilayah Kurdistan Irak. Selain itu, sebagian minyak mereka juga dibeli oleh perusahaan-perusahaan internasional dan pengusaha Arab.

 

ISIS dilaporkan mengirim minyaknya ke pasar internasional melalui jalan-jalan perbatasan Turki. Sebagian besar minyaknya yang telah diselundupkan ke Turki juga dijual. Luay al-Khatteeb, seorang peneliti di Brookings Doha Center dalam wawancaranya di jaringan CNN menjelaskan mengenai peran minyak bagi keuangan ISIS.

 

Al-Khatteeb mengatakan, “ISIS pada bulan Juli telah menjual minyak Irak senilai satu juta barel perhari, namun pada bulan Agustus, jumlah itu meningkat menjadi dua juta barel perhari. Dengan jumlah penjualan tersebut, ISIS bisa memperoleh penghasilan sebesar 730 juta dolar pertahun. Kelompok teroris itu menjual minyaknya melalui perbatasan Turki dan Yordania. Sebenarnya, Turki memenuhi sebagian keperluan minyaknya melalui teroris-teroris ISIS.”

 

Penyelundupan adalah salah satu cara penting lainnya bagi pendanaan ISIS. Kelompok teroris tersebut mempraktekkan semua jenis penyelundupan, baik penyelundupan bahan-bahan baku, barang-barang antik, manusia, senjata dan obat-obatan. Dengan cara ini, mereka dapat memenuhi kebutuhannya. Sebagai contoh, militan ISIS telah menjarah peninggalan bersejarah yang telah berumur lebih dari delapan ribu tahun di wilayah al-Nabuk di pegunungan al-Qalamoun, barat Suriah. Barang antik itu diselundupkan dan dijual dengan harga lebih dari 36 juta dolar.

 

Senjata dan obat-obatan juga menjadi bagian dari barang penyelundupan ISIS yang dijual ke pasar negara-negara Arab. Kebanyakan senjata yang diselundupkan dan dijual di pasar negara-negara Arab adalah senjata canggih buatan Barat dan rezim Zionis Israel. Selain itu, para militan ISIS juga menjual anak-anak dan perempuan Suriah dan Irak untuk menambah penghasilan mereka. Dengan cara-cara ilegal ini, mereka memperoleh banyak dana untuk menjalankan operasi terorisme di kedua negara Arab itu.

 

Sumber dana lainnya bagi keuangan ISIS adalah pengambilan pajak dari penduduk, pedagang dan pengusaha di berbagai wilayah yang dididuduki. Sebagai contoh, di Provinsi Raqa (al-Raqqah) di timur laut Suriah yang telah lama dikuasai oleh ISIS, telah diberlakukan pajak bagi masyarakat biasa, pedagang besar dan kecil. Mereka wajib untuk membayar pajak-pajak itu sesuai ketentuan yang ditetapkan ISIS.

 

ISIS juga menggunakan cara tersebut di Irak dan menarik pajak dari penduduk wilayah-wilayah yang dikuasainya khususnya bagi para minoritas. Dalam sebuah laporan, Dewan Hubungan Luar Negeri Amerika Serikat pada Agustus 2014 menyatakan bahwa selama satu bulan ISIS telah menarik pajak sebesar 8 juta dolar dari para pedagang di kota Mosul.

 

Penjarahan dan pemerasan yang disertai dengan kekerasan adalah cara-cara ISIS untuk mengumpulkan dana. Sebelum menduduki kota Mosul, uang kas kelompok teroris itu telah mencapai 875 juta dolar, namun setelah menduduki kota tersebut, jumlahnya meningkat menjadi sekitar 2,4 miliar dolar. Uang itu berasal dari hasil merampok bank, merampas senjata dan memeras penduduk.

 

Setelah menyerang kota Mosul, ISIS menjarah Bank Sentral Mosul dan mencuri lebih dari 500 juta dolar. Sebelumnya, kelompok Takfiri itu juga melakukan hal yang sama di Suriah. Hal inilah yang menyebabkan penyesalan bagi orang-orang di beberapa wilayah Suriah dan Irak yang menyambut kedatangan ISIS.

 

Tak diragukan lagi, ISIS adalah bentukan AS, Barat, rezim Zionis dan sejumlah negara Arab. Sumber-sumber finansial kelompok teroris tersebut juga didapat melalui negara-negara itu dalam berbagai bentuk seperti bantuan keuangan, senjata, bantuan kelancaran penyelundupan dan penjualan minyak.

 

Turki dan sejumlah negara Barat dilaporkan memanfaatkan ISIS untuk memenuhi sebagian kebutuhan energinya. Dengan membeli minyak ISIS dengan harga murah, negara-negara itu telah menutupi kekurangan minyaknya dan sekaligus membantu keuangan kelompok teroris itu.

 

Para pedagang, saudagar dan pengusaha Salafi khususnya di Arab Saudi dan Kuwait juga membantu ISIS melalui cara tersebut. Berdasarkan bukti-bukti itu, tidak ada lagi keraguan bahwa upaya sejumlah negara terutama AS untuk membentuk Koalisi Internasional Anti-ISIS hanya untuk mengaburkan peran besar mereka dalam pembentukan ISIS di wilayah barat Asia. ( IRIB Indonesia/RA)

Add comment


Security code
Refresh