Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Minggu, 09 Februari 2014 18:33

Angin Segar dari Tehran Menuju Bandung

Angin Segar dari Tehran Menuju Bandung

Terpilihnya Hassan Rouhani sebagai presiden Iran dalam pilpres Juni 2013 lalu mendapat sambutan hangat bukan hanya dari masyarakat Iran, tetapi juga dari publik internasional. Naiknya ahli hukum yang dikenal moderat ini memimpin Iran menyuntikkan optimisme baru bagi peningkatan hubungan Iran dengan negara-negara dunia, terutama Barat.

Baru beberapa bulan memimpin, pemerintahan Rouhani telah melakukan sejumlah gebrakan penting yang mendapat dukungan dari masyarakat dunia. Di arena internasional, presiden Iran dalam pidatonya di sidang Majelis Umum PBB ke-68  menggulirkan Gerakan Internasional Menentang Kekerasan dan Ekstremisme (WAVE). Rohani dalam pidatonya (24/10) menyerukan dunia yang bebas dari kekerasan dan ekstremisme. Pada tanggal 18 Desember 2013, Majelis Umum PBB dengan suara bulat, mensahkan resolusi usulan Iran yang disampaikan presiden Rouhani.

"Kita harus mampu membuka cakrawala baru, di mana perdamaian akan menang atas perang, toleransi atas kekerasan, kemajuan atas pertumpahan darah, keadilan atas diskriminasi, kesejahteraan atas kemiskinan, dan kebebasan atas despotisme," ujar Rouhani dalam pidatonya di Majelis Umum PBB 24 September 2013 lalu.

Selain itu, tercapainya kesepakatan nuklir antara Iran dan kelompok 5+1 di Jenewa pada 24 November 2013 lalu kembali menunjukkan keseriusan Rouhani menyuarakan komitmennyamenjalankan diplomasi yang mengedepankan perdamaian dan interaksi konstruktif dengan dunia.

Bagi Indonesia, dinamika politik Iran ini menghembuskan angin segar baru bagi peningkatan kerjasama bilateral.Kepala Pusat Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia memandang perubahan politik Iran yang dibawa Rouhani selaras dengan kebijakan Jakarta yang mengusung perdamaian global.Indonesia dan Iran sebagai dua negara Muslim besar memiliki banyak potensi yang bisa bersinergi demi mengatasi berbagai masalah internasional.

"Sebagai dua negara moderat, Indonesia dan Iran bisa bekerjasama mengatasi berbagai masalah internasional seperti kekerasan, terorisme dan lainnya. Peningkatan kerjasama Jakarta dan Tehran  diharapkan akan memberikan signal positif bagi dunia internasional," tutur Mohammad Hery Saripudin, Sabtu (8/2).

Selama ini potensi besar yang dimiliki Iran dan Indonesia belum dioptimalkan demi kepentingan masing-masing dan dunia. Menurut Kapus P2K2 Asia Pasifik dan Afrika Kemenlu RI, secara politik hubungan Indonesia dan Iran terjalin baik. Di bidang politik, Indonesia dan Iran telah memiliki mekanisme konsultasi bilateral antara kementerian luar negeri kedua negara melalui pembentukan Komite Konsultasi Bilateral (KKB) RI-Iran. Hingga kini pertemuan tersebut telah dilaksanakan selama lima kali.

Mengenai isu nuklir Iran, sejak awal Indonesia memiliki komitmen untuk mendukung program nuklir sipil Tehran. Bagi Jakarta, setiap negara dunia memiliki hak untuk mengembangkan teknologi nuklir yang bertujuan damai, termasuk Iran.

"Indonesia mendukung program nuklir Iran yang bertujuan damai," tegas Mohammad Hery Saripudin, dalam wawancara eksklusif dengan wartawan IRIB Bahasa Indonesia, Sabtu (8/2).

Meski demikian, pemerintah Jakarta menekankan bahwa Iran perlu menghormati komitmen atas nonproliferasi senjata nuklir. Indonesia mengapresiasi kerjasama Iran dan masyarakat internasional melalui kerangka Badan Energi Atom Internasional (IAEA), terutama mengenai isu transparansi.

Di bidang kebudayaan, kerjasama antara Indonesia dan Iran dimulai sejak penandatanganan Cultural Agreement tanggal 27 April 1971. Sejak itu kedua negara terus memperbaharui perjanjian tersebut yang dilakukan tahun 1978, 2003, 2006 dan 2009. Kemudian, pada tanggal 7 Maret 2012 kembali ditandatangani Arrangement Cultural Exchange Program Years 2012-2014 di Jakarta. Sebagai tindak lanjut penandatangaan Arrangement tersebut diadakan Joint Cultural Commision (JCC) RI-Iran di Jakarta pada tanggal 14-15 Juni 2012 antara kemendikbud RI dan Kementerian Kebudayaan dan Bimas Islam Iran.

Di sektor ekonomi dan perdagangan, nilai perdagangan bilateral Indonesia-Iran tahun 2008-2012 mengalami perkembangan positif dengan peningkatan sebesar 13,57 %. Meski demikian, potensi kedua negara yang sangat besar masih belum digali secara optimal.

Para analis menilai sanksi internasional terhadap Iran sebagai hambatan utama hubungan Iran dan negara-negara dunia, termasuk Indonesia. Tahun lalu, akibat sanksi baru sejumlah negara Barat terhadap Tehran, neraca perdagangan Iran dan Indonesia turun hingga $1,26 miliar atau turun 32,35 % dibandingkan periode yang sama tahun 2011 yang tercatat sebesar $1,856 miliar.

Berdasarkan data kementerian perdagangan RI, volume perdagangan dari Januari hingga Juni 2013 lalu sebesar $303,50 juta mengalami penurunan sebesar 65,75 % dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2012 yang tercatat sebesar 886,14 juta.

Pada pertemuan Komite Konsultasi Bilateral RI-Iran ke-5 tahun 2013, pihak Iran mengharapkan kerjasama ekonomi kedua Negara tidak terganggu sanksi ekonomi AS dan Uni Eropa, serta perlunya upaya-upaya kreatif yang menguntungkan kedua pihak, khususnya dalam hal perdagangan.

Berbagai upaya ditempuh kedua negara untuk menggenjot peningkatan kerjasama di berbagai sektor. Selain menggelar pertemuan tingkat pejabat negara, kedua negara meningkatkan kerjasama budaya dan ekonomi yang melibatkan para budayawan, seniman dan pelaku bisnis.

Salah satu terobosan yang dilakukan kedutaan besar Indonesia di Tehran dengan menggelar pekan kebudayaan Indonesia di Iran yang mengusung tema "1000 Tahun Hubungan Indonesia-Iran". kegiatan yang didukung Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia ini menghadirkan pentas seni, pameran kriya dan seminar serta pemutaran film yang mendapat sambutan meriah dari warga Iran.

Duta Besar Indonesia di Tehran, Dian Wirengjurit mengungkapkan optimismenya terhadap prospek hubungan ekonomi kedua negara.

"Seharusnya nilai neraca perdagangan Indonesia-Iran besar, bahkan di tahun 2015 ditargetkan bisa mencapai 8 atau bahkan 10 miliar dolar. Buat saya, ini satu tantangan..," tutur Dian dengan optimis, November lalu.

Mantan Fungsi Politik Perutusan Tetap Republik Indonesia (PTRI) di Jenewa itu menilai potensi Indonesia dan Iran saling melengkapi. ".. sangat complementary, sangat saling melengkapi," tegas Wirengjurit. Meski demikian, Dubes Indonesia di Tehran mengakui masih adanya tantangan utama peningkatan hubungan bilateral kedua negara. Yang paling utama adalah mengubah mindset masyarakat kedua negara, terutama pelaku bisnis.

Kini, dari Tehran angin segar itu semakin berhembus kencang ke seluruh penjuru dunia hingga Bandung, pasca penerapan kesepakatan Nuklir Jenewa antara Iran dan kelompok 5+1 pada 20 Januari lalu. Di kota Paris Van Java itu, pada tanggal 7-9 Februari 2014, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia menggelar pertemuan khusus membahas upaya peningkatan kerjasama bilateral Indonesia-Iran dalam bentuk forum Kajian kebijakan Luar Negeri (FKKLN) yang mengusung tema "Optimalisasi Hubungan Indonesia-Iran di bawah Pemerintahan Presiden Hassan Rouhani Pasca Pelonggaran Sanksi Iran oleh Negara Barat".(IRIB Indonesia/PH)

Selanjutnya di kategori ini: « L Jalan Tengah di Tahun Baru »

Add comment


Security code
Refresh