Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Selasa, 07 Januari 2014 21:14

Jalan Tengah di Tahun Baru

Jalan Tengah di Tahun Baru

Oleh: Ruhuldy M. Marsaoly*

Dentang pergantian tahun baru 2014 belum lama kita lewati. Setelah hingar-bingar kemeriahan pergantian tahun berlalu, kini raut kecemasan semakin tampak dan tantangan semakin besar menghadang di depan. Betapa tidak, mengakhiri tahun 2013 yang baru berjalan beberapa hari, kita menghadapi carut-marut masalah dari korupsi yang menggurita, hingga meningkatnya intoleransi di Tanah Air. Dalam situasi demikian, negara kehilangan tajinya di hadapan organisasi internasional semacam WTO, dan negara adidaya, sebagaimana terjadi dalam perhelatan Bali belum lama ini.

Jalan ideologi di negara ini juga rupanya tidak harmonis. Konflik horizontal antarkeyakinan yang tak kunjung usai justru menjadi komoditas politik. Akhirnya, di sana sini terjadi korban. Minoritas selalu jadi tumbal, dan dimusuhi oleh kelompok intoleran. Keyakinan mereka dikecam hanya gara-gara tak seragam dengan mainstream.  Negara Abai. Dan institusi ulama semacam MUI justru mengeluarkan fatwa sesat terhadap kelompok tertentu. Sepertinya ambiguitas itu tidak hanya terjadi pada MUI. Tapi juga pemimpin bangsa ini dan pemerintahan setempat yang tak mengambil sikap. Terlalu terang kelumpuhan negara. Padahal berbagai kasus begitu nyata di depan mata. Padahal tidak sulit menentukan mana yang mestinya diproses secara hukum dan mana yang harus dibebaskan berkeyakinan.

Hal yang sama juga terjadi di ranah kebudayaan Indonesia. Rupanya kebudayaan kita mengalami pergeseran makna, budaya kita hanya dipandang sebagai ritus yang tampil lebih terang di atas panggung festival. Kebudayaan kita juga sepintas dipahami sebagai sebuah peninggalan artefak ketimbang kerangka filosofis, citra ketimbang makna, kulit ketimbang isi, penampilan ketimbang esensi dan popularitas ketimbang refleksi intelektual serta laku moralitas yang dicampakkan.

Dinamika globalisasi juga telah mengelabui kita, hal-ihwal seputar kehidupan mendorong kita ke arah kehidupan mekanis dan digital. Bahkan setingkat berpakaian pun harus dengan model sesuai ?trend'. Kita sepertinya dikebiri oleh waktu. Apa-apa, harus bersandar pameter digital yang jelas-jelas merenggut eksistensi kemanusian kita. Digital juga mengajak kita untuk mengejar waktu. Seperti makan sambil nonton dan telpon-telponan, membaca do'a sambil sms, bbm, facebook, twitter, bahkan setingkat mempercepat sholat akibat panggilan dering telpon.

Fenomena itu di satu sisi membuat kita mendapati informasi-informasi lokal maupun global. Namun di saat yang sama, membuat kita menjadi tak nyaman  pada batin dan kehilangan keintiman dalam bermunajat dan beribadah. Padahal kita membutuhkan sederet "spasi" untuk tenang demi menghayati  keabadian satu persatu keadaan aktivitas kita. Sikap kritis ini bukan menolak digital sebagai hasil jerih payah manusia masa kini, tapi kita menolak cara digital mempermaikan eksistensi manusia masa kini.

Adapun di sektor pemikiran, aneka ragam model pemikiran, membuat tindakan tiap-tiap orang menjadi berbeda satu sama lain dan cenderung parsial dan berhadap-hadapan. Yang satu mengambil model sosialis, individualis, agamis, bahkan model rasionalis serta kapitalis. Model pemikiran itu punya dua sisi. Satu sisi bisa merusak tatanan diri, spritual dan tatanan sosial (budaya, politik, hukum ekonomi). Sementara di sisi lain bisa mengharmonisasikan diri, kemanusian, spritualitas dan tatanan sosial kita. 

Dengan situasi zaman yang sedemikian rupa. Kita mesti menemukan benang merah yang menjadi jantung sistem sosial kita. Itulah yang menjadi problem kita dan mesti dijawab bahkan tak bisa mengelak darinya.

Mendewasakan Indonesia

Dialektika sosial bukan lagi hal baru dan bukan barang asing bagi kita di masa lalu hingga sekarang. Sebab, komponen itu telah mewarnai laku rutinitas manusia masa kini. Ia juga bukan lagi hal yang tak wajar. Tapi sebuah keniscayaan yang tak dapat dipungkiri.

Dalam logika kehidupan, untuk mengambil pilihan demi mempertahankan hidup, berarti menerima kesulitan sebagai ujian menuju kemenangan. Bukan menghindarinya atau bahkan menolak hidup yang berawal dari rintangan.

Dewasa ini sebagian orang mungkin risih bila mendengar kata-kata "susah" dan "sulit". Untuk itu, mereka menjadi pragmatis dengan memilih yang mudah, ketimbang yang menyulitkan dan menyusahkan. Tetapi, mereka lupa bahwa jalan yang memiliki tantangan punya banyak hikmah dan anugerah. Hiruk-pikuk ini tak bisa secara sengaja dijauhi atau dihindari. Karena rutinitas dan aktifitas dalam menapaki hidup akan selalu dihadapkan dengan tantangan dan rintangan, entah dalam bentuk yang ringan atau berat. Dengan itu, sepintas manusia tidak bisa berpisah dengan kesulitan, tapi manusia mesti mendekatinya atau bahkan bersahabat dengannya untuk mengenalinya lebih mendalam.

Hidup yang berbau kesulitan atau kesusahan, tidak sekedar menimpa pada satu dari sekian individu yang ada. Tapi juga pada jutaan individu atau bahkan kelompok. Lebih kompleksnya lagi semua itu juga terjadi pada; Negara, Ideologi, Budaya dan Pemikiran. Dengan  situasi yang sedemikian kompleks, kita perlu mendewasakan diri dari berbagai macam dimensi seperti; pemikiran, dan spritualitas untuk menetralisir kondisi kekinian kita dari ribuan rintangan yang mengejewantah di setiap ruang-ruang ekspresi di negeri ini.

Jalan Tengah

Kesadaran, pengetahuan dan spritualitas merupakan fondasi utama dalam membangun rantai-rantai kehidupan. Manusia masa kini mesti membutuhkan tiga komponen itu. Ketiga komponen ini saling koresponden satu sama lain dan tidak saling terpisah. Manusia juga mesti menyadari sejauh mana tingkat kepekaan, pengetahuan dan spritualitasnya. Tak sekedar itu, manusia juga mesti mengasah kemampuan rasio dan perasaannya serta dapat mengkristalisasi imajinasi kreatifnya pada tempat yang tepat.

Kegagalan dan kebuntuan sering dijumpai dan menemani rutinitas kehidupan kita. Dalam kehidupan praktis, orang seringkali melihat sebuah kegagalan sebagai satu kekurangan analisis dan strategi. Tampaknya ia tidak menyadari bahwa kekurangan itu tidak hanya berkaitan dengan analisis belaka. Namun, juga pada diri kita yang mungkin ada kaitan eratnya dengan persoalan epistemik atau persoalan spritual yang mungkin rapuh, mengering dan keriput.  Di luar aksi sosial yang penting, kita juga mesti menilik kembali, mana sebetulnya yang lebih prioritas. Antara langsung beraksi ataukah mempersiapakan bahan-bahan bawaan kita menuju medan aktualitas-praktis.

Dalam situasi yang tak menentu arah dan tujuan ini, jalan tengah menawarkan sebuah  gagasan jembatan penghubung yang tidak menafikan yang satu aspek dan mengambil yang lain, atau mengambil yang satu dan menafikan yang lain. Tapi mengambil kedua-duanya tanpa meninggalkan yang satu dan mengambil yang lain. Misalnya, memilih untuk menempati satu posisi strategis dalam birokrasi. Tapi tidak lantas mengabaikan pemikiran dan spritualitas. Jika kita hanya mengambil jalan birokrasi sebagai jalan utama, namun mengambaikan tiga komponen tersebut, maka kemungkinan kita akan terjerat kedalam jurang korupsi yang sudah mendarah daging. Tetapi, bilamana dinamika itu dipertahankan sebagai landasan hidup. Niscaya negara ini menghadirkan generasi-generasi yang tidak sekedar cemerlang dan cerdas.Tapi juga bijak dan melahirkan benih-benih yang menganggap pentingnya kesucian diri dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Jelas-terang kebutuhan manusia tentang kesadaran, pengetahuan dan spritualitas akan melahirkan generasi-generasi yang ahli di bidang agama, budaya, sastra, politik, ekonomi, hukum, sains, militer, lingkungan dan lainnya. Tetapi, apabila jalan tengah ini diabaikan, maka Indonesia akan hancur berkeping-keping dan mungkin lebih dari keadaan yang sekarang. Jalan tengah inilah yang kita bangun di tahun baru.(IRIB Indonesia/PH)

*Pegiat filsafat Islam, sastra dan budaya di Rausyan Fikr Yogyakarta.

Add comment


Security code
Refresh