Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Minggu, 22 November 2015 05:20

IN MEMORIAM, Serena Shim, Wartawan Pemberani Yang Ungkap Perang Kotor AS, Turki, ISIS di Suriah.

IN MEMORIAM, Serena Shim, Wartawan Pemberani Yang Ungkap Perang Kotor AS, Turki, ISIS di Suriah.
Setahun yang lalu, 19 Oktober 2014, seorang reporter Amerika, Serena Shim, tewas dibunuh di Turki saat sedang melaporkan secara langsung situasi di medan tempur, di kota perbatasan Suriah, Kobani. Serena Shim melakukan penyelidikan terhadap ribuan prajurit asing yang telah menyeberangi perbatasan Turki untuk turut bergabung dalam perang proxy di Suriah. Seperti dilaporkan oleh kantor berita Realities Watch Lebanon(15/11).      Serena Shim. Kala itu sedang dalam proses membongkar bukti-bukti yang menunjukkan bantuan yang diberikan Barat kepada ISIS. Hingga kini, bukti-bukti yang dikumpulkan Serena masih belum diketahui karena semua rekaman yang berhasil ia kumpulkan dan semua barang-barang yang ada bersamanya termasuk passport dan cincin pernikahannya disita oleh pemerintah Turki bersamaan dengan kematiannya.Serena Shim hendak kembali ke Lebanon untuk merayakan ulang tahun anaknya kala itu. Setelah menyerahkan semua bukti keterlibatan Barat sebagaimana ia menunjukkan bagaimana Turki membantu ISIS dalam laporan-laporan sebelumnya, sebenarnya Serena berniat untuk pensiun dan kembali berkumpul dengan suami, kedua anak, orang tua, serta dua saudarinya.      Jenazah Serena ShimSerena Shim dan sepupunya Judy Irish dilaporkan dibunuh melalui dalih kecelakaan truk yang melaju berlawanan arah di jalan raya. Bagaimanapun juga, keluarga Shim yang mengetahui persis duduk perkara dan bahwa Serena memiliki bukti mengenai keterlibatan Barat dalam membantu teroris di Suriah, mengatakan bahwa kecelakaan tersebut dimanipulasi oleh pemerintah Turki.     Keluarga Shim memprotes berbagai keganjilan yang terjadi pada “kecelakaan” Serena Shim yang antara lain menyatakan bahwa pertama setelah kejadian, pemerintah Turki menyatakan tidak bisa menemukan truk yang telah menabrak mobil yang disewa dan dikendarai Shim. Namun kemudian pemerintah Turki mengklaim bahwa truk yang menabrak Shim adalah sebuah truk semen, bahkan menunjukkan foto truk tersebut.     Kejanggalan kedua adalah, Shim dan Judy Irish sepupunya mereka berdua dibawa ke rumah sakit berbeda yang terpisah jarak sejauh 25 mil setelah “kecelakaan” terjadi. Lalu keganjilan berikutnya adalah, Shim dikatakan meninggal di tempat kejadian, namun kemudian berubah dinyatakan meninggal karena gagal jantung setelah sekitar satu jam dari kecelakaan.     Keluarga mencurigai Shim dibawa ke sebuah fasilitas militer rahasia sebelum dibawa ke rumah sakit.Serena Shim banyak mempublikasikan bahwa Turki telah membantu ISIS dengan memfasilitasi perjalanan ribuan tentara bayaran ke perbatasan Suriah, serta memberi fasilitas perawatan medis untuk mereka. Beberapa peristiwa penting diplomatik dan militer terjadi pada saat itu, termasuk bantuan pengiriman senjata dari Amerika Serikat untuk para pemberontak di Suriah. Salah satu paket bantuan senjata itu kemudian dikonfirmasi telah dicegat dan jatuh ke tangan ISIS serta diunggah dalam sebuah video Youtube, yang lantas menerima perhatian media internasional. Terlepas dari kenyataan bahwa Shim adalah seorang warga negara Amerika dan tewas setelah media Amerika berfokus pada wartawan lain yang tewas dipenggal ISIS, dalam kematian Shim, Presiden AS Barack Obama tidak mengeluarkan komentar apapun. Departemen Luar Negeri AS justru mengabaikan berbagai pertanyaan yang mengalir mengenai apakah pemerintah AS akan menyelidiki kematian salah satu jurnalis warga negaranya ataukah tidak. Hal ini dilansir WTF News.     Yang lebih mengherankan dari semua ini adalah, tidak ada satupun organisasi mainstream media Amerika yang memberitakan kematian warga negara Paman Sam tersebut yang terjadi secara “tidak wajar” kala sedang bertugas di zona konflik hebat kala itu.Hanya dua hari menjelang kematiannya, Shim melakukan siaran langsung di televisi yang menyatakan bahwa dirinya kini menjadi incaran penyelidikan Badan Intellijen Turki (MIT) yang menuduhnya sebagai mata-mata atas apa yang ia telah laporkan di medan perang. Menurut Shim dalam siaran langsung PressTV, Millî İstihbarat Teşkilatı, (MİT) tengah mencarinya di wilayah perbatasan Suruc dan memerintahkan penduduk lokal untuk melapor jika melihat Shim berada di wilayah itu. Shim juga mencatat bahwa selama ini, laporannya sering berpusat di wilayah Hatay dan sekitarnya, dimana banyak prajurit bayaran asing masuk ke utara Suriah melalui perbatasan Turki tersebut.Pada hari-hari sebelum kematiannya, Serena Shim telah melaporkan pengepungan di Kobani, dimana pasukan Kurdi dan pasukan militer Suriah yang tersisa berjuang melawan teroris ISIS. Pemerintah Turki menyadari kehadiran Shim yang keberadaannya berpindah-pindah antara di Turki dan Suriah. Bagaimanapun juga, Serena Shim adalah seorang reporter yang terampil melakukan penyamaran hingga ia bisa bepergian tanpa diketahui. Periode pertempuran Kobani ini, yang berlangsung antara 12-19 Oktober 2014 adalah pertempuran paling intens saat pasukan ISIS, termasuk tank-tanknya bercokol dan mengepung kota tersebut dan wilayah sekitarnya selama 3 minggu sebelumnya.Selain melaporkan situasi pertempuran di saat-saat genting itu, sebelumnya Serena Shim juga telah melakukan laporan penyamaran penting pada tahun 2012 yang juga dianggap merugikan Turki. Laporan Shim itu mengenai para pemberontak Suriah yang telah menggunakan kamp pengungsi di Turki sebagai pangkalan untuk melakukan serangan ke dalam wilayah Suriah dan bahwa kelompok teroris Al-Qaeda yang mengendalikan penyeberangan perbatasan Turki-Suriah.Setelah Shim melaporkan bahwa intellijen Turki tengah mencari keberadaannya pada tanggal 17 Oktober 2014 pertempuran Kobani menjadi makin buruk dan perkembangan penting geopolitik muncul. Cerita dimulai ketika Pemerintah Turki “menolak” AS yang akan memberi suplai senjata kepada pihak Kurdi Suriah untuk membantu mereka melawan ISIS.      Lalu kemudian pada tanggal 19 November 2014 AS memutuskan untuk memberi bantuan senjata langsung melalui udara dengan menjatuhkan paket senjata yang tentu saja, secara “tidak sengaja” kemudian jatuh ke tangan ISIS. Pejabat AS lantas menyatakan pihaknya menghancurkan paket kedua sebelum sampai ke tangan ISIS, sehingga secara otomatis tidak ada bantuan yang sampai kepada pasukan Kurdi. Sebelumnya, Turki juga menolak rencana untuk memberi jalan bagi pasukan Kurdi Irak yang ingin membantu pasukan Kurdi Suriah dalam melawan ISIS. Selang satu hari, Pemerintah Turki kemudian mengumunkan untuk membolehkan pasukan Kurdi Irak membantu pertempuran pada tanggal 20 Oktober 2014 dimana saat itu Erdogan terus menerus berusaha menunjukkan kepada public atas ketidak senangannya akan tindakan yang telah dilakukan AS pada minggu itu. Bagaimanapun juga, gabungan dua pasukan Kurdi tersebut pada akhirnya berhasil mengambil alih Kobani dari tangan ISIS serta berhasil memukul mundur mereka pada bulan Februari 2015.     Alasan khusus mengapa Shim kemudian menjadi target pemerintah Turki belum diketahui pasti hingga kini, namun satu hal yang pasti menurut rekan-rekan yang bekerja sama dengan Shim selama ini, pembunuhan atas Shim adalah akibat dari hasil usaha Shim yang berupaya untuk mengungkap rahasia dibalik perang kotor yang tengah dimainkan Turki dan AS. Perang proxy di Suriah juga digunakan untuk memanipulasi opini politik di Amerika Serikat.Laporan berita Serena Shim difokuskan pada dua daerah paling penting dari perang Suriah.     Laporannya di dekat kota Hatay dan perbatasan Suriah, Reyhanli berhasil mengungkap bukti bahwa teroris ISIS menggunakan kendaraan Program Pangan Dunia PBB dalam konvoi mereka. Daerah Hatay juga dikenal sebagai daerah penyelundupan minyak ISIS yang sering mereka gunakan untuk membiayai operasi. Daerah ini adalah titik kritis kendali dari perbatasan menuju kota Aleppo, yang telah diperebutkan sejak awal perang.Shim juga pernah membuat laporan dari Kobani, mengenai pangkalan militer rahasia Turki di dekat Kobani dan Sanliurfa, Turki. Negara itu, membuka rumah sakit di Sanliurfa yang memberi pelayanan medis kepada ISIS dan pemberontak lain dalam konflik di negara tetangganya itu. Wilayah perbatasan yang menghubungkan Akcakale ke timur Kobani itu telah berpindah tangan beberapa kali sejak September 2012 ketika pemberontak Suriah menguasainya.Pertempuran Kobani sendiri sebelumnya adalah merupakan bagian penting dari ekspansi ISIS guna memberi kendali lebih diluar wilayah perbatasan ibukota de factonya Raqqa.(IRIB Indonesia/arrahmahnews)
Selanjutnya di kategori ini: « Resensi Film Muhammad Rasulullah Saw

Add comment


Security code
Refresh