Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Selasa, 07 Juli 2015 16:22

Bertopeng dengan Palestina

Bertopeng dengan Palestina

Ammar Fauzi Heryadi

 

Menjelang hari dunia Yaumul Quds yang jatuh pada Jumat terakhir dari bulan suci Ramadhan, masyarakat dunia kembali menemukan momentum madani untuk mempertahankan pembelaan atas Palestina. Hari itu krusial sepanjang isu Palestina penting dituntaskan. Palestina sudah identik dengan isu politik dalam skala internasional, menjadi titik uji politik luar negeri sejumlah negara dari berbagai kawasan, termasuk Indonesia di Asia Tenggara. Di berbagai forum internasional tinggi tinggi, masyarakat dunia kerap menunggu serangkaian reaksi, di antaranya, terkait dengan entah Palestina atau Israel.

 

Palestina dan Israel dua nama yang saling berasosiasi sama dengan yang lain, begitu cepat tersirat beiringan dalam opini dan memori masyarakat internasional. Kedua-duanya sama-sama mengklaim punya hak mutlak yang wajib ditunaikan oleh pihak lain. Kedua-duanya tidak kalah kerasnya meneriakkan tuntutan hak-hak asasi: hak berwarga negara, hak menjadi penduduk, hak kembali ke tanah tumpah darah. Hubungan Palestina dan Israel lebih mirip dengan Hukum Kontradiksi yang saling menegasi dan hanya menyisakan satu pihak.

 

Menengok tiga bulan ke belakang, isu Palestina diangkat terakhir oleh Presiden Jokowi sebagai satu dari sikap luar negeri yang pertama ditunjukkan pemerintahannya. Sejurus dengan komitmennya terhadap isu palestina sebelum dan dalam kampanye pemilu, ia kembali menegaskan dalam Peringatan 60 Tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) bahwa Palestina adalah satu-satunya negara yang masih dalam penjajahan, “masih dalam posisi dijajah dan saatnya sekarang harus diakhiri”. 

 

Begitu besar gelombang euforia dari banyak kalangan menyambut pernyataan dan sikap Jokowi. Tidak sedikit pihak yang memuja-muji suara lantangnya menyuarakan hak kemerdekaan dan kenegaraan Palestina. Banyak tokoh-tokoh oposisi dibuat kagum dan terpukau oleh pidato Jokowi dalam Konferensi Asia Afrika. Para peserta konferensi menyambut hangat dan meriah pernyataannya, sekali lagi, tentang Palestina.

 

Kini, bulan ini, genap satu tahun sudah Jokowi berbicara hebat tentang kemerdekaan dan kenegaraan Palestina. Namun, suara lantang, kegagahan dan kehebatan sikapnya, juga kekaguman dan euforia banyak kalangan seakan surut seiring menyusutnya seremonial konferensi. Selain hari dunia Yaumul Quds tidak dianggap begitu berarti, kita sepertinya harus menantikan saatnya diselenggarakan perhelatan internasional yang sama resminya untuk melihat bagaimana bisa dimanfaatkan sebagai momentum beretorika gagah dan tampil hebat.

 

Nyaris dalam semua forum dan momentum, selalunya yang menjadi fokus: Palestina lagi, Palestina lagi. Ya, hanya dan hanya Palestina. Yang disinggung dan disoroti oleh elite negara ini hanya Palestina, seolah-olah masalahnya hanya Palestina, karena Palestina, untuk Palestina. Entah lupa atau pura-pura lupa atau masa bodoh, masalah Palestina tidak akan utuh tanpa Israel; dua-duanya satu paket. Boleh jadi juga Israel sudah jadi nama yang begitu sakral atau saking ditakuti akan berdampak buruk hingga dihindari untuk sekedar menyinggung posisinya apalagi menilai statusnya.

 

Banyak orang, kalangan, organisasi dan negara yang pandai berbicara soal Palestina dan bangsa Palestina. Mereka cukup menyadari kehadiran Israel dalam pikiran mereka, tetapi uniknya justru media tidak mencatat nama itu, karena memang tidak mencuat dalam retorika dan perbincangan mereka. Dalam pemahaman yang paling primitif saja, setiap subjek pasti ada objek. Bila Palestina disebut-sebut sebagai objek penjajahan, pasti ada subjeknya. Siapa dijajah siapa.

 

Maka bukan lagi sesuatu yang absurd bila kemudian ada upaya mengakomodasi hak Palestina dan ‘hak’ Israel dengan dua alasan sekaligus: pembukaan UUD dan politik bebas aktif. Juga tidak ada lagi yang janggal kalau nama Israel sesegera mungkin dilewatkan. Kekaguman dan euforia terhadap semangat dan gelora memperjuangkan kemerdekaan Palestina tampak semacam keterkecohan, karena sepertinya Palestina hanya difungsikan sebagai topeng untuk menutupi ketidakmauan sekadar menyinggung nama dan posisi Israel.

 

Dulu, dalam pidato peringatan 10 tahun Konferensi Asia Afrika di Jakarta, 18 April 1965, Soekarno sudah lebih dulu mendefinisikan siapa dan betapa Israel, “Bagi kita Israel secara legal tidak ada! Mereka itu secara legal memang tidak ada.” Tapi setelah itu, tidak negarawan,  tidak elite, tidak juga media ataupun pengamat di negeri ini mau mendefinisikan subjek penjajahan itu. Kita hanya berhenti di kalimat “Palestina dijajah”, tanpa sempat bertanya atau memikirkan, “Oleh siapa?” Seakan utopia mengharapkan ada satu pernyataan lengkap ini saja: Palestina dijajah Israel.

 

Maka, ada benarnya kata-kata Jokowi sendiri di pembukaan KAA April lalu, “Kita dan dunia masih berutang kepada rakyat Palestina.” Ya, kita berhutang dan benar-benar berhutang untuk mau menyempurnakan setiap retorika, wacana, pembicaraan, pengamatan dan pernyataan tentang posisi Palestina dengan juga menjelaskan posisi Israel. (IRIB Indonesia)

Add comment


Security code
Refresh