Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Senin, 06 Juli 2015 15:57

Qods dalam Perspektif Imam Khomeini ra

Qods dalam Perspektif Imam Khomeini ra

Imam Khomeini ra pendiri Revolusi Islam Iran, mengumumkan hari Jumat terakhir di bulan Ramadhan sebagai Hari Qods sedunia dan hari dukungan atas perjuangan bangsa tertindas Palestina. Sama seperti di tahun-tahun sebelumnya, tahun ini masyarakat dunia khususnya umat Islam telah mempersiapkan diri untuk berpartisipasi dalam pawai akbar Hari Qods Sedunia dan kembali mendukung perjuangan warga tertindas Palestina serta mengungkap esensi penjajah dan agresor rezim Zionis dan para pendukungnya.

 

 

Palestina sebagai tembat lahirnya agama-agama samawi senantiasa dihormati seluruh umat. Khususnya Masjid al-Aqsa adalah kiblat pertama umat Muslim. Bagi umat Islam, Baitul Maqdis memiliki nilai tinggi dan mulia. Meski di Baitul Maqdis mayoritas mutlak populasinya adalah Muslim, akan tetapi sepanjang sejarah tercatat interaksi yang damai dan bersahabat di antara para pemeluk agama di Baitul Maqdis. Namun dalam satu dekade terakhir, kerukunan dan penghormatan timbal balik tersebut telah berubah menjadi permusuhan ancaman dan perampasan, akibat kerakusan pihak penjajah.

 

Sekarang api dendam bukan hanya menjilat rakyat tertindas Palestina saja melainkan juga seluruh bangsa regional dan dengan konspirasi rezim Zionis serta para pendukungnya khususnya Amerika Serikat, api kemunafikan, perpecahan dan perselisihan internal, telah menyeret umat Islam dalam perang yang tidak dikehendaki dan tidak seharusnya terjadi.

 

Meski embrio rezim penjajah Palestina ini telah terwujud pada abad ke-19, akan tetapi dapat diklaim bahwa eksistensi rezim Zionis terwujud pada pertengahan abad 20 dan semakin meluas. Bertahun-tahun pasca Perang Dunia Kedua, negara-negara pengklaim sebagai pemimpin dunia Arab tidak mampu menang menghadapi rezim Zionis Israel. Kemunduran mereka membuat pondasi-pondasi rezim Zionis semakin kokoh, dan fenomena pengusiran warga Palestina semakin meningkat.

 

Ekspansi rezim Zionis pada paruh kedua abad ke-20 telah meluas hingga perbatasan Mesir, Suriah, Lebanon dan Yordania. Dengan bantuan negara-negara adidaya seperti Amerika Serikat dan Inggris, rezim Zionis berhasil menciptakan jarak dalam barisan negara-negara pendukung Palestina.

 

Langkah pertama dalam pengkhianatan terhadap cita-cita bangsa Palestina, dilakukan oleh Anwar Sadat dalam penandatanganan perjanjian perdamaian Camp David. Dengan langkah tersebut, Mesir telah melabel dirinya sebagai pengkhianat dan dikecam oleh masyarakat regional khususnya warga tertindas Palestina.

 

Ketika pengkhianatan Mesir terhadap cita-cita bangsa Palestina, telah menimbulkan keputusasaan di kawasan dalam melawan rezim Zionis, kemenangan Revolusi Islam Iran yang dipimpin oleh Imam Khomeini ra, menghidupkan kembali cita-cita luhur bangsa Palestina. Kemenangan Revolusi Islam menciptakan gelombang harapan baru dalam perjuangan dan muqawama di antara para pejuang Palestina serta bangsa-bangsa pendukung Baitul Maqdis.

 

Selama tahun-tahun perjuangannya, Imam Khomeini selalu menekankan hak-hak Palestina dan juga menginginkan kehancuran Israel. Imam Khomeini dengan memimpin Revolusi Islam telah membuktikan mampu mengalahkan rezim sekuat apapun dengan tangan kosong. Tumbangnya rezim Shah yang memiliki hubungan politik, keamanan dan ekonomi sangat luas dengan rezim Zionis bahkan dapat dikatakan mitra strategis Israel, menciptakan gelombang harapan di hati para pendukung Palestina baik di kawasan maupun dunia.

 

Selain itu, kemenangan Revolusi Islam Iran pimpinan Imam Khomeni ra, juga melahirkan gelombang semangat dan energi di antara para pejuang Palestina, serta menciptakan kutub perspektif dan ideologis baru dalam barisan para pejuang Palestina. Imam Khomeini mengubah ideologi perjuangan di Palestina itu dari Panarabisme menjadi islamis, dan bahwa identitas Islam telah menjadi lapisan-lapisan terdalam dalam tekad perjuangan Palestina. Imam Khomeini dengan tegas menetapkan masalah Palestina sebagai masalah dunia Islam dan sebab dukungan negara-negara adidaya dunia terhadap Israel adalah bangkitnya kekuatan Islam.

 

Dalam hal ini, Imam Khomeini berkata,  “Palestina adalah milik dunia Islam, dan tidak ada seorang atau pemerintah pun yang berhak menyerahkan [meski] sejengkal dari tanah Palestina. Sekarang seluruh kekuatan adidaya dunia bahu-membahu agar umat Muslim Palestina tidak mencapai tujuan mereka, mengingat kemenangan mereka adalah kemenangan Islam dan mereka takut sebagaimana di Iran Islam menang, merusak program-program mereka dan memusnahkan seluruh kepentingan mereka, jika ini terus berlanjut di Palestina dan Lebanon, maka seluruh program mereka akan berakhir.” (Sahifeh-ye Noor jilid 20, halaman 183)

 

Untuk mencegah perluasan tren perdamaian negara-negara Arab regional dengan rezim Zionis, Imam Khomeini ra selalu memperingatkan para penguasa negara-negara tersebut atas berbagai ancaman jika perdamaian itu tercapai. Mengungkap esensi dan tujuan ekspansionis rezim Zionis, Imam Khomeini ra memperingatkan bahwa tujuan Israel menduduki Palestina tidak akan terhenti dan di masa mendatang para penandatangan kesepakatan damai dengan Israel akan menjadi korban ketamakan mereka berikutnya.

 

Salah satu dimensi perspektif Imam Khomeini dalam mendukung bangsa tertindas Palestina adalah memasyaratkan perjuangan. Dalam hal ini, beliau mengatakan, “Jika Anda ingin menyelamatkan Palestina, maka semua harus bangkit, semua bangsa harus bangkit dan jangan sampai menunggu pemerintah-pemerintah terjun dalam masalah ini.”

 

Imam Khomeini ra sepenuhnya memahami kapasitas umat Muslim, menyatakan terkejut tidak digunakannya kekuatan tersebut dalam melawan rezim Zionis Israel. Beliau mengatakan, “bagi saya ada satu masalah yang seperti teka-teki yaitu adalah bahwa semua pemerintah Islam dan bangsa-bangsa Muslim mengetahui inti permasalahannya, mereka menyaksikan bahwa sebuah pemerintah keropos berdiri di hadapan umat Islam, jika semua umat Muslim berkumpul dan masing-masing menumpahkan satu ember air, maka Israel akan musnah.”

 

Imam Khomeini telah berupaya keras untuk memperjuangkan bangsa Palestina dan memanfaatkan semua kapasitas yang dimiliki dunia Islam untuk mewujudkan persatuan dalam barisan umat Islam demi menghancurkan rezim Zionis. Meski mengetahui para pejuang Palestina adalah dari Ahlussunnah, akan tetapi beliau selalu menekankan persatuan, karena berpendapat bahwa perpecahan antara Sunni dan Syiah merugikan dunia Islam dan menguntungkan musuh.

 

Beliau adalah marji’ taqlid pertama yang membolehkan keuangan dalam agama seperti khumus, zakat dan sedekah, digunakan untuk mendukung perjuangan rakyat Palestina. Imam Khomeini juga menggunakan kapasitas lain dunia Islam seperti sumber minyak, haji dan bulan Ramadhan sebagai sarana untuk menciptakan persatuan lebih kokoh umat Islam dalam mendukung Palestina dan melawan rezim Zionis Israel.

 

Cita-cita Palestina adalah cita-cita kemanusiaan dan islami, sebagaimana kejahatan rezim Zionis adalah kejahatan terhadap kemanusiaan dan umat Islam. Mari kita mempererat persatuan dalam mendukung Palestina, dan berpartisipasi dalam pawai akbar Hari Qods Sedunia.(IRIB Indonesia)

Add comment


Security code
Refresh