Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Kamis, 11 Juni 2015 10:53

Kepergian Ulama Pejuang Persatuan, Ayatullah Asefi

Kepergian Ulama Pejuang Persatuan, Ayatullah Asefi

Beberapa waktu lalu, rakyat Irak kehilangan salah satu ulama pejuang anti-despotisme.  Ayatullah Syeikh Muhammad Mahdi Asefi, salah satu ulama pejuang Irak pada tanggal 4 Juni meninggal dunia karena sakit  di usia 78 tahun di kota Qom. Jenazah ulama rabbani ini dimakamkan di kompleks pemakaman Wadi al-Salam di kota Najaf, Irak. Di kota Najaf, banyak ulama dan politisi termasuk PM Irak, Haydar al-Abadi  menghadiri acara pemakaman Ayatullah Asefi.

 

 

Ayatullah Asefi adalah wakil Rahbar atau Ayatullah Khamenei untuk Irak sejak tumbangnya rezim diktator Saddam. Ulama besar ini sangat memperhatikan penyebaran ilmu agama dan juga pembentukan pusat-pusat keilmuan di Irak. Beliau telah melakukan banyak jasa bagi umat Syiah di Irak termasuk di antaranya adalah upaya beliau dalam menciptakan persatuan umat Syiah Irak.

 

Ayatullah Syeikh Muhammad Mahdi Asefi melaksanakan dengan baik salah satu tugas terbesarnya pasca tumbangnya rezim diktator Saddam Hussein, yaitu membantu menyelesaikan perselisihan antara kelompok Sunni dan Syiah Irak. Beliau selalu menekankan pada sisi kolektif dan persatuan kubu Islam dalam menghadapi musuh sejati Islam serta dalam memberantas keterbelakangan.

 

Muhammad Mahdi Asefi lahir pada tahun 1316 HS dalam keluarga yang ternama karena keilmuan dan ketakwaaannya. Ayah beliau adalah Ayatullah Syeikh Ali Muhammad Boroujerdi Asefi, ulama dan mujtahid besar hauzah ilmiah serta salah satu arif besar di masanya. Setelah melalui jenjang pendidikan dasar dan menengah, beliau menimba ilmu agama. Dalam hal ini, beliau mempelajari jenjang mukaddimah dan dasar ilmu agama di Najaf dari ayah beliau dan juga beberapa guru besar hauzah. Jenjang tingkat tinggi fiqih dan usulul fiqh juga dipelajarinya dari para ulama besar di Najaf.

 

Ayatullah Asefi juga menyelesaikan kuliah dengan ijazah sarjana di Universitas Baghdad. Kemudian beliau mengajar fiqih, usulul fiqh, filsafat dan tafsir al-Quran  pada tingkat tinggi. Beliau terkenal dengan keilmuannya pada bidang fiqih, tafsif dan teologi.

 

Pada tahun 1393 Hijriah, beliau menerima ijin ijtihad dari almarhum Ayatullah Haj Hossein Mirza Hashem Amoli dan setahun setelah Ayatullah Syeikh Murtadha Al Yasin di Najaf. Ayatullah Asefi menguasai bahasa Arab dan Persia. Adapun kitab-kitab beliau telah diterjemahkan dalam bahasa Persia, Urdu, Turki, Inggris, Perancis dan Kurdi.

 

Ayatullah Asefi berjuang melawan rezim diktator Baaths Irak lebih dari 25 tahun dan merupakan anggota panel kepemimpinan Hizbu al-dakwah di Irak. Ulama pejuang ini menjabat juru bicara partai tersebut selama 10 tahun. Setelah tumbangnya rezim Saddam, beliau kembali ke Irak dan mengajar di hauzah ilmiah Najaf. Di samping aktivitas di hauzah ilmiah, beliau juga aktif di bidang politik dan sosial.

 

Salah satu karakter Ayatullah Asefi adalah kesederhanaan dan kezuhudan beliau. Baliau adalah seorang alim yang memiliki kemampuan materi cukup tinggi dan dapat hidup mewah. Akan tetapi beliau memilih untuk hidup sederhana bahkan tinggal di lingkungan  miskin di kota Qom. Kezuhudan dan ketidakpedulian beliau pada kenikmatan materi serta fokus beliau terhadap spiritualitas dan juga kesederhanaan hidup layaknya seorang santri, merupakan di antara faktor kecintaan masyarakat terhadap Ayatullah Asefi.

 

Dalam berbagai pesan duka yang disampaikan oleh para tokoh agama dan politik, kesederhanaan dan kezuduhan Ayatullah Asefi menjadi penekanan semua pihak. Rahbar dalam pesannya atas meninggalnya Ayatullah Asefi menulis, “Kezuduhan dan ketidakcondongan pada kenikmatan materi serta  penyerahan diri pada spiritualitas dan kesederhanaan hidup santri, merupakan ciri khas ulama besar ini.”

 

Ayatullah Sistani, marji’ taqlid besar Irak juga menyampaikan ucapan belasungkawa dan menilai Ayatullah Syeikh Muhammad Mahdi Asefi sebagai seorang alim beramal yang zuhud terhadap dunia dan mengharapkan akhirat. Beliau menegaskan, “Ulama besar ini, memegang teguh pada sunnah Rasulullah Saw dan Ahlul Bait as.”

 

Wakil Presiden Irak, Nouri al-Maliki, dalam pesannya menyinggung  keirfanan dan akhlak Ayatullah Asefi dan menyatakan, “Beliau adalah ulama penyuci, suci dan bertakwa. Beliau memiliki sifat-sifat akhlak yang tinggi. Beliau telah meninggalkan perspektif ilmiah yang benar. Membantu kaum fakir. Memiliki hidup bersih yang membuat beliau menjadi teladan dalam ketakwaan dan akhlak. Kepergian Ayatullah Asefi adalah kehilangan besar bagi gerakan Islam dan front jihad dan muqawama di Irak.”

 

Gerakan Persatuan Islam Turkeman Irak, menilai Ayatullah Asefi sebagai “madrasah bergerak” dan menegaskan, “Ayatullah Asefi meninggal di saat dunia sangat memerlukan pendapat lurus dan bimbingan kebapakan beliau. Ulama besar ini dalam usia tua dan meski menghadapi masalah fisik, selalu hadir di kancah dan menyampaikan pidato di antara para pejuang di berbagai medan perang, menyeru para tentara untuk memperhatikan syariat dan juga membangkitkan semangat mereka dalam memerangi kelompok teroris Takfiri ISIS.”

 

Ayatullah Asefi melangkah terdepan dalam urusan amal kebajikan. Beliau membentuk lembaga amal Imam Baqir as yang mengayomi 6.700 keluarga pengungsi Irak dan Afghanistan yang tersebar di 33 titik di Iran. Beliau juga membentuk sebuah kompleks asuhan yatim piatu di kota Qom dan juga membangun 220 unit rumah untuk membantu secara materi dan spiritual kepada keluarga yang tidak mampu di Irak dan Afghanistan. Ini hanya sebagian kecil dari aktivitas amal beliau.

 

Selain itu, Ayatullah Asefi juga terdepan di medan perjuangan melawan despotisme dan diktatorisme, juga dalam berbagai aktivitas keagamaan, politik dan sosial. Dalam segala aktivitas, beliau tidak melupakan prinsip kearifan dan kezuhudan.

 

Rahasia kecintaan masyarakat terhadap Ayatullah Asefi adalah karena apa saja yang dipesankan beliau kepada masyarakat, beliau sendiri terlebih dahulu telah melaksanakannya. Kesibukan di hauzah ilmiah tidak menghalangi beliau untuk beraktivitas dalam masyarakat. Beliau tidak mengenal lelah dalam melaksanakan tugas untuk melawan kelompok-kelompok teroris buas Takfiri ISIS.

 

Kezuhudan dan keserdahanaan merupakan salah satu ciri khas para ulama Syiah dan salah satu di antaranya dapat disebutkan nama Imam Khomeini ra. Hingga kini, banyak para tokoh politik, agama dan masyarakat baik Muslim maupun non-Muslim yang terkesima menyaksikan tempat tinggal Imam Khomeini ra, seorang pemimpin yang melawan ketamakan dan kesewenang-wenangan kekuatan adidaya Barat dan Timur. Ayatullah Asefi juga tergembleng dari poros ideologi yang sama. Dengan mengamalkan ajaran Islam, beliau meninggalkan dunia ini sebagai contoh Muslim sejati bagi umat. (IRIB Indonesia)

Add comment


Security code
Refresh