Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Rabu, 27 Mei 2015 12:35

Iran, Pelopor Penyebaran Pengetahuan Quran

Iran, Pelopor Penyebaran Pengetahuan Quran

Al-Quran adalah musim semi hati dan telaga ilmu pengetahuan, hati tidak memperoleh penerangan kecuali dengannya. Ucapan hikmah ini merupakan salah satu penggambaran Imam Ali as tentang kitab suci tersebut. Para pemuka agama menyampaikan ratusan kalimat yang indah dan penuh hikmah untuk menjelaskan berbagai aspek dan keagungan al-Quran serta mendorong kaum Muslim untuk membaca dan merenunginya. Keindahan kata,kekayaan isi, dan kefasihan kalam membuat umat Islam menaruh perhatian khusus terhadap al-Quran dan mereka tekun membacanya. Allah Swt dalam surat al-Muzzammil ayat 20 berfirman, “Bacalah apa yang mudah (bagimu) dari al-Quran…”

 

 

Sejumlah hadis juga menekankan agar al-Quran dibaca dengan suara yang merdu dan benar. Rasulullah Saw bersabda, “Hiasilah al-Quran dengan suara yang indah, karena suara yang indah akan menambah keindahan Quran.” Pada prinsipnya, fashahah dan balaghahmendorong manusia untuk membaca kitab suci itu dengan lantutan yang merdu dan benar. Di sepanjang sejarah, terdapat orang-orang yang melantunkan al-Quran dengan irama yang indah dan tajwid yang benar dan mereka juga menjadi teladan untuk masyarakat.

 

Pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ)secara rutin telah menciptakan sebuah kompetisi yang sehat untuk menyebarluaskan pengetahuan al-Quran dan agama. Saat ini sejumlah negara Islam giat menggelar MTQ dan salah satu negara yang paling aktif di bidang ini adalah Republik Islam Iran. Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Internasional ke-32 diadakan di Tehran pada tanggal 15-21 Mei 2015 dengan melibatkan 129 peserta dari 81 negara dunia. Dari jumlah itu, 67 orang bersaing di cabang qiraah dan 62 orang bertarung di cabang hafiz.

 

Nuansa spiritual dan damaimenghiasi setiap sudut ruangan di Tehran's Summit Conference Hall. Lantunan ayat suci al-Quran membahana menggetarkan setiap jiwa yang menyimaknya. Masyarakat menyambut dengan antusias dan memenuhi tempat pelaksanaan acara tahunan ini. Mereka menyemangati para qari’ danmemuji lantunan merdu yang menggetarkan hati serta sesekali menyeka air mata karena siraman untaian-untaian mutiara al-Quran.

 

Pada acara penutupan, Dewan Juri MTQ Internasional Iran memperkenalkan para qari’ dan hafiz yang menjadi pemenang kompetisi. Di cabang qiraah, Hassan Danesh dari Iran menduduki peringkat pertama yang disusul oleh Abdul Rahman Mahmoud Abdul Basit dari Mesir, Muhammad Ibrahim dari Pakistan, Jakfar Hasibuan dari Indonesia, dan Ahmed Abbas Faraj dari Irak. Sementara di cabang hafalan,Mohammad Mehdi Rajabi dari Iranmeraih tempat pertama yang disusul oleh Abdullah al-Rifai dari Libya, Asaka Madumu Hassan dari Niger, Abubakr Musa dari Uganda, dan Adam Hasan-Hussein dari Somalia.

 

Panitia penyelenggara Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Internasional Iran juga mempersiapkan sejumlah program laindemi menyebarluaskan pengetahuan al-Quran.Salah satu dari acara tersebut adalah menggelar seminar penelitian al-Quran ke-9 dengan tema“Quran dan Budaya Wahyu.” Panitia menerima sekitar 700 makalah dan di akhir acara menyerahkan penghargaan untuk 40 karya terbaik. Bersamaan dengan pelaksanaan MTQ, panitia juga membuka 50 kelas pendidikan al-Quran, 60 acara tilawah yang dihadiri oleh para qari’ Iran dan negara lain. Di arena musabaqah, panitia juga menggelar pemeran yang menjual segala produk yang berhubungan dengan al-Quran dan sebuah acara khusus untuk anak-anak.

 

Sehari setelah penutupan MTQ, para peserta mendapat kesempatan untuk bertemu denganPemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei. Rahbar sendiri merupakan seorang pakar al-Quran dan menguasai berbagai cabang ilmu Qurani. Seperti biasanya sebelum Rahbar menyampaikan pidato, sejumlah qari’ menunjukkan kebolehannya dalam melantunkan al-Quran. Arahan Ayatullah Khamenei kepada para peserta Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Internasional Iran ke-32, senantiasa menjadi pelita dan jalan keluar untuk berbagai masalah.

 

Berkenaan dengan peran al-Quran dalam kehidupan, Ayatullah Khamenei mengatakan, “Kitab suci ini memberi penerangan tentang masa depan kita, memperjelas jalan lurus untuk kita, dan membuat kita bahagia.” Pada kesempatan itu, Rahbar memaparkan sebuah analisa singkat tentang pengaruh MTQ dalam kehidupan masyarakat dan menerangkan, “Forum al-Quran tahunan yang kita adakan merupakan sebuah forum yang sukses. Nadi al-Quran secara bertahap berdenyut kembali di tengah masyarakat kita. Para pecinta dan para pemerhati al-Quransemakin bertambah di masyarakat kita dari waktu ke waktu.”

 

Al-Quran berkali-kali menyeru manusia untuk bertafakkur dan bertadabbur seputar tanda-tanda kebesaran Allah Swt, khususnya tentangkalam Tuhan itu sendiri. Dalam surat an-Nisa ayat 82, Allah Swt berfirman, “Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Quran? Kalau kiranya al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.”Di sini muncul sebuah pertanyaan, ‘Apakah memperhatikan bacaan dan hafalan al-Quran itu bertentangan dengan tafakkur dan tadabbur?’Ayatullah Khamenei dalam jawabannya menjelaskan, “Seperti yang kalian lihat bahwa kita bersikeras pada hafalan al-Quran dan tilawah… ini adalah bukan sebuah dasar, tetapi ini hanya sarana. Jelas tanpa sarana itu kita tidak mungkin dekat dengan al-Quran.”

 

Ayatullah Khamenei lebih lanjut menerangkan, “Tilawah tentu saja harus ada, tilawah juga memberi pengaruh dengan perantaraan tafakkur dan tadabbur…bacaan al-Quran yang baik adalah yang dilakukan oleh manusia dengan tadabbur dan memahami firman-firman Tuhan.” Imam Ali as dalam sebuah ucapannya juga berkata, “Ketahuilah bahwa tidak ada kebaikan dalam bacaan al-Quran kecuali dengan tadabbur.”

 

Pada kesempatan itu, Ayatullah Khamenei mengatakan, “Kita harus menjadi pemilik al-Qurandan tilawah adalah mukaddimah, bukan tujuan. Tujuan adalah berakhlak dengan akhlak Quran. Dalam sebuah riwayat dari para istri Rasulullah Saw disebutkan bahwa ‘Akhlaknya adalah al-Quran.’Dengan kata lain, Nabi Saw adalah cerminanal-Quran. Perilaku kita, akhlak kita, dan kepribadian kita, semua harus sejalan dengan al-Quran.Tilawah hanya mukaddimah untuk hal ini. Dan tidak hanya itu, selain untuk membentuk kepribadian berdasarkan al-Quran, masyarakat kita dan lingkungan kehidupan kita juga harus bernuansa Qurani.”

 

Rahbar meminta kaum cendekiawan dan pemuda untuk bersandar pada pengenalan al-Quran dan menandaskan, “Para cendekiawan kita harus mengenali al-Quran, begitu juga dengan pemuda kita, mereka harus memperbanyak interaksi dengan al-Quran. Ketika pikiran kita telah diperkaya dengan pengetahuan Qurani, maka pengaruhnya akan tampak dalam ucapan, tindakan, dalam membuat keputusan-keputusan besar, dan dalam perilaku. Ini adalah tujuan yang harus kita kejar.”

 

Al-Quran adalah tali Allah Swt yang kokoh dan faktor pemersatu umat Islam. Namun sayangnya, sebagian kaum Muslim tidak memperhatikan penegasan al-Quran tentang persatuan dan mereka memilih jalan perpecahan yang mengerikan. Dalam pertemuan tersebut, Ayatullah Khamenei mengatakan, “Salah satu perkara yang selalu diincar oleh musuh-musuh umat Islam adalah menciptakan perpecahan dan kita harus mencegah itu terjadi. Setiap kerongkongan yang menyuarakan perpecahan adalah alat pengeras suara musuh, baik ia menyadarinya ataupun tidak. Kita perlu waspada agar kerongkongan kita tidak menjadi alat pengeras suara musuh-musuh Islam dan al-Quran. Jangan sampai kita memekikkan perpecahan. Perbedaan agama, perbedaan Syiah-Sunni, dan perbedaan etnis dan negara, merupakan sesuatu yang sedang menyala di tengah umat Islam dan kita perlu memadamkannya.”

 

Al-Quran adalah kitab kearifan dan pelita kaum Muslim dalam menghadapi konspirasi. Beberapa pemimpin negara Islam tampaknya tidak mengambil manfaat dari ajaran-ajaran Qurani. Ayatullah Khamenei menuturkan, “Saat ini, ada beberapa negara Islam di mana para pemimpinnya telah kehilangan kearifan dan tidak mampu lagi membedakan antara kawan dan lawan. Mereka menganggap musuh sebagai kawan dan menjadikan kawan sebagai musuh… jika kita punya kearifan, manusia akan mengenal jalan dengan benar dan ia pun mengerahkan seluruh tekadnya dan ia membuktikan bahwa jalan itu mudah dilalui. Inilah yang dimaksud dengan pertolongan Tuhan. ‘Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.’ (QS, 47:8).”

 

Meski dunia Islam didera sejumlah masalah, Ayatullah Khamenei senantiasa optimis menatap masa depan dan menegaskan, “Dunia Islam sekarang mengalami banyak kelemahan, tapi untungnya gerakan ke arah Islam dan al-Quran di tengah masyarakat Muslim telah dimulai. Kebangkitan Islam yang terjadi di negara-negara regional tidak akan pernah padam. Kebangkitan ini akan abadi dan ia akan memperlihatkan dampak-dampaknya, Insya Allah.” (IRIB Indonesia/RM)

Add comment


Security code
Refresh