Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Sabtu, 03 Januari 2015 15:07

ISIS, Perusak Citra Islam Muhammadi (Saw)

ISIS, Perusak Citra Islam Muhammadi (Saw)

Persatuan umat Islam adalah hal yang sangat urgen terutama di masa sekarang ini, di mana upaya musuh untuk mencoreng citra agama suci ini terus meningkat.Sosok mulia Nabi Muhammad Saw merupakan poros interaksi umat Islam dan faktor pemersatu mereka di sepanjang sejarah. Mengingat keyakinan umat Islam terhadap figur Rasulullah Saw dibarengi dengan rasa cinta dan kasih sayang, maka kehadiran beliau telah menjadi poros magnet segenap umat manusia. Pusat magnet tersebut merupakan salah satu alasan pertalian hati Muslim dan kedekatan mazhab-mazhab Islam.

 

 

Berdasarkan riwayat Ahlus Sunnah, tanggal 12 Rabiul Awal adalah tanggal kelahiran Nabi Muhammad Saw, namun menurut riwayat dari mazhab Syiah, Rasulullah Saw lahir pada tanggal 17 Rabiul awal. Oleh karena itu, Republik Islam Iran menetapkan rentang waktu antara tanggal 12-17 Rabiul Awal sebagai Pekan Persatuan Islam. Penetapan momen ini berpijak pada perbedaan riwayat tentang kelahiran Nabi Muhammad Saw. Perbedaan seperti ini sebenarnya adalah hal yang wajar, karena yang terpenting adalah semua umat Islam berimankepada al-Quran dan ajaran-ajaran Rasulullah Saw.

 

Perbedaan tersebut juga tidak bisa dijadikan alasan untuk saling memusuhi, membenci dan berselisih. Pekan Persatuan Islam pada rentang waktu antara 12 dan 17 Rabiul Awal ditetapkan pasca kemenangan Revolusi Islam Iran. Di masa itu, Imam Khomeini ra, Marji besar Syiah dan Pencetus Revolusi Islam,menyebut kemenangan Revolusi Islam Iran sebagai kemenangan bagi seluruh umat Islam di dunia dan kehormatan bagi seluruh pengikut mazhab-mazhab Islam.

 

Dukungan kepada semua gerakan Islam terlepas dari mazhab yang dianut, adalah bagian dari prinsip kebijakan luar negeri Republik Islam Iran. Kita sekarang menyaksikan bahwa meskipun rakyat Palestina adalah pengikut mazhab Ahlus Sunnah, namun cita-cita bangsa Palestina dan pembebasan Masjid al-Aqsa dari cengkeraman rezim Zionis Israel, merupakan prinsip-prinsip dasar kebijakan luar negeri Republik Islam Iran, dan negara ini mendukung penuh perjuangan rakyat Palestina untuk membebaskan tanah air mereka dari penjajahan Israel.

 

Seperti halnya Republik Islam Iran mendukung Gerakan Muqawama Islam Lebanon (Hizbullah) yang bermazhab Syiah dan sebagai pilar utama resistensi terhadap penjajahan rezim Zionis, negara ini juga mendukung penuh Gerakan Muqawama Islam Palestina (Hamas) yang bermazhab Sunni dan poros perlawanan terhadap pendudukan Israel.

 

Mengingat semua upaya negara-negara Barat untuk menekan Republik Islam Iran sebagai pelopor persatuan di dunia Islam gagal, maka mereka berusaha untuk memerangi Islam murni (Islam Muhammadi (Saw))dari dalam dunia Islam sendiri, yaitu dengan cara merusak citra Islam yang cinta perdamaian dan keadilan. Dengan demikian tak aneh jika kita sekarang menyaksikan terbentuknya gerakan-gerakan ekstrem di dunia Islam.

 

Meski jejak gerakan-gerakan ekstrem di sepanjang sejarah Islam dapat ditemukan, namun kejahatan mereka tidak sedahsyat dan sekejam seperti sekarang ini. Kejahatan-kejahatan berbagai kelompok ekstrem terutama kelompok Takfiri ISIS tidak pernah terjadi sebelumnya, bahkan di abad pertengahan dan di masa ketika bayangan ketakutan dan kematian menyelimuti seluruh Eropa. Kini pertanyaannya adalah mengapa gerakan-gerakan ekstrem dan teroris seperti ini terbentuk di abad ke-21 dan di era global di dunia Islam? Apakah perkembangan gerakan-gerakan ekstrem dan teroris ini terjadi di bawah dukungan negara-negara pengklaim kemajuan dan peradaban di dunia?

 

Perbedaan di antara umat Islam tidak hanya sebatas pada perbedaan mazhab saja, bahkan di antara ulama satu mazhab pun terjadi perbedaan. Sebagai contoh, dalam mazhab Syiah terkadang dua Mujtahid mengeluarkan fatwa yang berbeda dalam satu persoalan, di mana intensitas perbedaan itu mencapai 180 derajat. Namun perbedaan fatwa tersebut tidak pernah menimbulkan permusuhan dan kebencian, bahkan sebaliknya, para ulama yang berbeda pendapat tersebut menjadi imam dan makmum satu sama lain dalam shalat berjamaah.

 

Di antara pengikut mazhab Ahlus Sunnah juga banyak terjadi perbedaan pendapat dalam banyak masalah agama dan hukum. Yang pasti, selama musuh-musuh Islam tidak memecah belah kaum Muslimin, para pengikut berbagai mazhab Islam telah hidup berdampingan dengan damai selama ratusan tahun, dan mereka saling berinteraksi satu sama lainnya, bahkan dengan non-Muslim sakalipun. Sebab, penghormatan kepada keyakinan-keyakinan non-Islam adalah sirah Nabi Muhammad Saw dan Ahlul Bait-nya. Jika hubungan dan hidup berdampingan ini berjalan di bawah payung ajaran-ajaran satu nabi dan satu kitab suci, maka penghormatan tersebut akan berlipat ganda.

 

Imam Khomeini ra, Pendiri Revolusi Islam, dan Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei, Rahbar atau Pemimpin Besar Islam Iran, selalu menekankan persatuan di antara mazhab-mazhab Islam berdasarkan sunnah Rasulullah Saw dan Ahlul Bait-nya di tengah-tengah perbedaan yang ada.Dan kenyataannya, poin-poin persamaan mazhab-mazhab Islam lebih banyak ketimbang perbedaannya. Dengan demikian, tidak ada alasan lagi untuk saling membenci dan memusuhi seperti yang dilakukan oleh kelompok-kelompok Takfiri dan teroris seperti ISIS yang mengklaim diri mereka sebagai pengikut Islam.

 

Al-Quran memperkenalkan Islam sebagai agama rahmat dan damai serta mengajarkan hidup berdampingan secara damai. Rasulullah Saw sendiri menilai seorang Muslim adalah orang yang masyarakat di sekelilingnya aman dari perbuatan dan lidahnya. Allah Swt juga memperkenalkan nabi-Nya sebagai rahmat bagi seluruh penduduk bumi. Barang siapa mengucapkan dua kalimat syahadat, maka dia telah dianggap sebagai seorang Muslim, dan ini adalah ijma` dan kesepakatan semua pengikut mazhab. Oleh karena itu, tindakan-tindakan yang dilakukan oleh ISIS sama sekali tidak sesuai dengan ajaran-ajaran Nabi Muhammad Saw.

 

Salah satu poin yang ditegaskan oleh semua Aimmah as adalah menjaga kehormatan, martabat dan hak semua manusia. Sebagai contoh, Imam Ali as di masa pemerintahannya yang singkat, beliau tidak hanya menjaga hak-hak umat Islam saja, tetapi juga melindungi hak-hak setiap non-Muslim yang berada di wilayah pemerintahannya. Sementara ISIS yang mengaku Islam tidak demikian. Kelompok Takfiri ini akan mengkafirkan orang-orang yang tidak satu pemikiran dengan mereka dan tidak meyakini kepercayaan-kepercayaan keliru dan menyimpang yang mereka anut tentang ajaran Islam, bahkan mereka menganggap orang-orang yang tidak sejalan dengan pemikiran mereka itu layak untuk dibunuh.

 

Selama orang atau kelompok tertentu tidak mengangkat senjata untuk memusuhi keyakinan-keyakinan Islam dan martabat kaum Muslimin, maka Islam tidak mengizinkan untuk menindak orang atau kelompok itu. Perilaku Rasulullah Saw dan Ahlul Bait beliau menjadi bukti dalam hal ini.Sebenarnya, kekerasan dan kejahatan yang dilakukan oleh ISIS dan kelompok-kelompok teroris lainnya di Irak dan Suriah serta di berbagai belahan dunia lainnya, dan penegasan negara-negara dan media Barat yang menisbatkan kekerasan ini kepada Islam, tidak memiliki tujuan lain kecuali menciptakan perpecahan di kalangan umat Islam dan mencoreng citra agama Samawi ini.

 

Dapat dikatakan bahwa alasanterpenting dukungan negara-negara Barat terutama Amerika Serikat kepada kelompok-kelompok Takfiri dan teroris seperti ISIS adalah untuk menyuburkan mereka, sehingga kelompok-kelompok tersebut terampiluntukmengubah situasi yang ada, namun bukan untuk sebuah perkembangan dan penciptaan sebuah peradaban, tetapi untuk merusak Islam. Dengan kata lain, gerakan-gerakan ekstrem itu memiliki kekuatan perubahan, tetapi tidak mempunyai kekuatan konstruktif, dan tidak mampu untuk membangun sebuah peradaban.Oleh karena itu, peran buruk kelompok-kelompok Takfiri itu mendapat perhatian khusus dari negara-negara Barat yang Islamphobia.

 

Sebenarnya, dukungan finansial dan senjata oleh negara-negara Barat kepada kelompok-kelompok ekstrem dan Takfiri di negara-negara Islam adalah upaya negara-negara itu untuk mengontrol dan menyimpangkan gelombang Islamisme di kawasan dan dunia. Dengan mendukung kelompok-kelompok ekstrem dan Takfiri, musuh-musuh Islam ingin kemampuan dan energi yang dihasilkan dari kebangkitan di negara-negara Muslim terbuang, dan isu utama seperti ancaman rezim Zionis juga akan terabaikan.

 

Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei dalam menganalisa hakikat kelompok-kelompok ekstrem dan teroris di negara-negara Islam, mengatakan, “Sekelompok Takfiri ali-alih memperhatian rezim jahat Zionis, mereka justru mengkafirkan sebagian besar kaum Muslimin atas nama Islam dan syariat, dan mendasari perang, kekerasan dan konflik. Oleh sebab itu, keberadaan gerakan Takfiri ini menjadi kabar gembira bagi musuh-musuh Islam.“

 

Ketika menyinggung ayat “…Ashidda'u 'ala-l kuffaari, ruhama'u baynahum” (keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka), Rahbar menuturkan, kelompok-kelompok Takfiri mengabaikan perintah jelas Allah Swt ini, dan mereka membagi umat Islam menjadi “Muslim dan kafir” sehingga mereka saling membunuh satu sama lainnya.

 

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran mengatakan, melihat kondisi ini apakah masih ada orang yang masih ragu bahwa keberadaan gerakan-gerakan ini dan dukungan finansial dan senjata kepada mereka, bukan pekerjaan badan-badan keamanan dan negara-negara imperalis dan boneka mereka?

 

Kelompok-kelompok Takfiri sekarang aktif di negara-negara Islam, dan tingkah laku mereka telah mencoreng citra agama suci ini di dunia. Tindakan-tindakan mereka yang sejalan dengan kepentingan para imperalis, alh-alih melemahkan musuh-musuh Islam, tetapi justru menguatkannya. ISIS telah menjadi alat Barat untuk memajukan Islamphobia dan meningkatkan anti-Islam di dunia.

 

Pekan Persatuan Islam dan berbagai pertemuan yang digelar di negara-negara Islam pada pekan ini, akan menjadi peluang bagi para ulama dan cendekiawan di dunia Islam dari berbagai mazhab untuk menjelaskan kepada umat Islam bahwa Nabi Muhammad Saw dan al-Quran adalah poros persatuan bagi umat Islam. Sementara tindakan-tindakan berbagai kelompok ekstrem dan teroris seperti ISIS dalam rangka merusak citra Islam yang cinta perdamaian dan keadilan.(IRIB Indonesia/RA)

Add comment


Security code
Refresh