Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Kamis, 27 November 2014 16:09

Penolakan Ulama Islam Terhadap Gerakan Takfiri

Penolakan Ulama Islam Terhadap Gerakan Takfiri

Penentangan dan lepas tangan terhadap aksi-aksi serta kejahatan kelompok-kelompok Takfiri di persada islami, telah mengumpulkan lebih dari 300 cendikiawan dan ulama dunia Islam dari berbagai negara untuk berpartisipasi dalam Kongres Internasional Gerakan Ekstrimis dan Takfiri dalam Perspektif Ulama Islam, di Iran. Sekarang, dunia Islam sedang menyaksikan penumpahan darah Muslim tidak berdosa dan perusakan peninggalan bersejarah islami oleh para kriminal ekstrimis Takfiri yang mengklaim sebagai Muslim sejati. Gerakan ini tidak mengenal Syiah atau Sunni. Gerakan terselubung yang berafiliasi dengan Barat, dengan mengemukakan konteks ajaran Islam versi mereka sendiri, berusaha mencoreng citra suci Islam di hadapan mata dunia. Dan untuk mencapai tujuannya, kelompok ini tidak mengenal batas dalam melakukan berbagai kejahatan.

 

Dalam kondisi ini dan juga untuk mereaksi pemikiran distorsif non-islami gerakan tersebut, para ulama, tokoh dan cendikiawan yang peduli akan nasib dunia Islam, memulai program mereka untuk mengenalkan esensi, perspektif dan rapor kelompok Takfiri kepada seluruh dunia. Kongres Internasional Gerakan Ekstrimis dan Takfiri dalam Perspektif Ulama Islam, merupakan salah satu bukti nyata langkah ilmiah para ulama untuk menyadarkan umat dunia. Kongres tersebut dikoordinasi dan dipantau oleh dua ulama besar Iran yaitu Ayatullah Nasir Makarim Shirazi dan Ayatullah Ja’far Sobhani.

 

Ayatullah Makarim Shirazi pada pembukaan Kongres mengatakan, “Islam adalah agama cinta kepada sesama bahkan kepada non-Muslim. Kita harus membuktikan kepada dunia bahwa cara yang ditempuh kelompok Takfiri bukan islami dan kita harus memisahkan para pemuda yang tertipu dari kelompok itu.” Terkait cara memerangi kelompok teroris Takfiri, Ayatullah Makarim Shirazi mengatakan, “Diperangi secara militer memang perlu akan tetapi tidak cukup, karena seluruh akar pemikiran mereka harus dicerabut oleh ulama Islam. Kita harus mengenal Takfirisme dan mencerabut akar-akarnya. Sampai kapan kita dapat duduk dan menyaksikan penumpahan darah Muslim dan penistaan terhadap kehormatan mereka.”

 

Ulama Syiah ini kemudian menegaskan poin penting, “Yang menyedihkan adalah bahwa fenomena ini telah dimanfaatkan oleh musuh Islam untuk melabel Islam sebagai agama barbarisme dan kekerasan. Bukan kebetulan jika para musuh Islam bersikeras mematenkan nama negara Islam untuk kelompok teroris ISIS. Kelompok ini adalah kelompok menyimpang, bukan negara dan juga tidak islami, melainkan hanya sebuah nama yang disematkan oleh musuh demi menarget Islam.”

 

Adapun Ayatullah Ja’far Sobhani pada acara penutupan Kongres itu, menilai Takfirisme sebagai sebuah pemikiran tercela dan tidak sesuai dengan ketentuan dalam Islam. Dijelaskan beliau, “Para ulama Islam harus mencapai kemufakatan untuk menghadapi kelompok-kelompok Takfiri dan tidak boleh cukup dengan upaya mereka saat ini, [dan] harus ada berbagai program untuk memberantas fenomena ini.” Menurut Ayatullah Sobhani, pemberantasan Takfirisme harus dilakukan dengan mengenalkan warga di berbagai negara Islam melalui media massa dan mimbar masjid, tentang bahaya kelompok Takfiri, serta untuk melawan pengingkaran fakta itu dalam masyarakat.”

 

Pada Kongres Internasional Gerakan Ekstrimis dan Takfiri dalam Perspektif Ulama Islam, semua ulama dari berbagai mazhab Islam, semuanya menekankan penentangan mereka terhadap pemikiran, aksi dan tindak kriminal kelompok-kelompok Takfiri. Tajuddin Hilali, ulama Sunni Mesir dalam pidatonya mengatakan, “Sekarang kita menyaksikan kelompok-kelompok Takfiri dengan alasan perang mazhab dan ideologi, melakukan kejahatan dan menginjak-injak kehormatan atas nama Islam dan di bawah panji laa ilaaha illallah.”

 

Ditambahkannya bahwa kelompok-kelompok Takfiri terjun untuk menghancurkan Suriah, Irak, Libya, Yaman dan seluruh negara Islam. Umat Islam saat ini memerlukan keamanan nyata dan para ulama Islam bertanggung jawab untuk menciptakan persatuan dan kemufakatan di hadapan Takfiri serta memberantas pemikiran distorsif seperti ini.

 

Syeikh Muhammad Ali Maula, seorang ulama Irak mengatakan, “Takfiri membunuh semua umat Muslim dan tidak berbelas-kasihan kepada siapa pun. Mereka melakukannya di bawah panji laa ilaaha illallah dan atas nama Allah. Ini sangat memalukan ketika seorang disembelih dan menistakan kehormatan dan hartanya.”

 

Alauddin Za’tari, delegasi Mufti Agung Suriah dalam kongres di Qom mengatakan, “Kelompok Takfiri tidak mengenal masjid, huseiniyah dan gereja, mereka ingin membakar dan menghancurkan semuanya. Imam Ali as berkata jika kalian menyaksikan panji hitam, maka kokohkan langkahmu karena akan muncul satu kelompok yang menyeru kepada kebenaran di saat mereka bukan orang yang benar; lawanlah mereka sampai Allah Swt mewujudkan urusan-Nya.”

 

Dalam deklarasi Kongres Internasional Gerakan Ekstrimis dan Takfiri dalam Perspektif Ulama Islam, disebutkan bahwa seluruh mazhab Islam menolak pemikiran dan aksi kelompok Takfiri. Disebutkan pula, “Islam adalah agama rahmat, persaudaraan, kebaikan dan kedermawanan, dan bahwa tujuan risalah Rasulullah Saw adalah penyempurnaan keutamaan akhlak dan rahasia penyebaran Islam dan kecenderungan terhadap Nabi Muhammad Saw, seperti yang dijelaskan al-Quran adalah kasih sayang dan kelembutan hati beliau.

Deklarasi penutup kongres itu juga menyebutkan tindakan Islam terhadap kelompok Takfiri sepanjang sejarah yang menilai penyebaran budaya pengkafiran dalam masyarakat itu sebagai fitnah dan dikecam semua umat Islam. Oleh karena itu mereka harus sama seperti di masa lalu dilawan dan diberantas sehingga dampak buruk eksistensi mereka tidak menghancurkan sakralitas dan kemaslahatan umat Islam.

 

Terkait hukum aksi kelompok Takfiri disebutkan, “Mengingat kehormatan darah, harta dan harga diri para penganut kiblat, maka serangan dan pembunuhan terhadap mereka adalah dosa yang tidak dapat diampuni dan akan menyebabkan murka dan laknat dari Allah Swt, oleh karena itu setiap aksi yang berlandaskan pada perspektif pengkafiran termasuk operasi bunuh diri, pemboman, teror, pembunuhan, pembantaian massal, dan segala bentuk gangguan terhadap para penganut kiblat, menghalalkan harta dan kehormatan serta menimbulkan kerugian materi kepada mereka, perusakan dan penghancuran tempat-tempat dan peninggalan sejarah Islam, adalah haram secara syariat, adapun penyebaran video aksi-aksi yang mencoreng agama Islam serta memberikan kesan Islam sebagai agama kekerasan, adalah haram berkali-lipat hukumnya.”

 

Salah satu tokoh yang dalam beberapa tahun terakhir selalu berusaha menjelaskan kepada masyarakat dunia tentang aksi-aksi Takfiri serta menekankan perlawanan dari seluruh mazhab Islam menghadapi kelompok menyimpang itu, adalah Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei.

 

Di akhir jadwal acara Kongres, para peserta bertemu dengan Rahbar. Pada pertemuan itu, Rahbar memaparkan tugas penting para ulama dalam menghadapi kelompok Takfiri dan menegaskan, “Pembentukan sebuah lembaga ilmiah, logis dan komprehensif untuk menumpas gerakan Takfiri dan memberikan informasi terkait peran politik imperialis dalam melahirkan gerakan tersebut, serta perhatian serius dan tuntutan kepada masyarakat untuk masalah Palestina, merupakan di antara masalah utama dunia Islam dan tugas prioritas para ulama Islam untuk saat ini.”

 

Rahbar dalam pidatonya menekankan bahwa gerakan Takfiri sedang berkhidmat untuk politik imperialisme Amerika Serikat yaitu mendistorsi gerakan Kebangkitan Islam. Ditambahkan beliau, “Kebangkitan Islam adalah sebuah gerakan anti-Amerika Serikat, anti-despotisme dan anti-boneka AS. Akan tetapi gerakan Takfiri mengubah gerakan anti-imperialisme ini menjadi perang internal dan pembunuhan sesama saudara Muslim.”

 

Seperti yang disebutkan oleh Rahbar, sedemikian banyak bukti keterkaitan gerakan Takfiri dengan kekuatan imperialis dan sekutunya di kawasan sehingga tidak tersisa lagi keraguan bahwa para musuh Islam mendukung kelompok tersebut untuk mendistorsi Kebangkitan Islam dan untuk mencoreng agama Islam. Tugas pertama para ulama menurut beliau adalah penjelasan tentang gerakan Takfiri dan mencegah para pemuda yang memiliki kurang informasi dalam hal ini bergabung dengan kelompok ekstrimis dan teroris itu.(IRIB Indonesia/MZ)

Add comment


Security code
Refresh