Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Senin, 17 November 2014 15:05

Musyawarah, Faktor Penting Meraih Kesuksesan

Musyawarah, Faktor Penting Meraih Kesuksesan

Tulisan singkat ini mencoba untuk menjelaskan tentang pengaruh dan manfaat musyawarah dan tentang bagaimana cara Nabi Muhammad Saw bermusyawarah dengan orang lain. Kemajuan dan kesuksesan seseorang tergantung pada banyak faktor seperti perencanaan, usaha, ketekunan, kecerdasan, keteraturan dan kesehatan fisik dan mental. Musyawarah, konsultasi dan memanfaatkan pengalaman-pengalaman orang lain juga merupakan faktor penting lainnya untuk meraih kesuksesan. Hasil riset ilmiah menunjukkan bahwa musyawarah dan konsultasi memiliki peran menonjol dalam meraih kesuksesan dan menjalani kehidupan secara tepat, serta mencapai tujuan yang diinginkan.

 

 

Ketika manusia terlahir ke dunia, ia telah memiliki kedudukan mulia di antara makhluk lainnya dan  Allah Swt telah memberikan semua potensi yang diperlukan sebagai khalifah-Nya di bumi. Satu tugas penting yang diberikan oleh Allah Swt kepada manusia adalah mengembangkan potensi-potensi itu dan mengaktualisasikannya. Mengingat umur manusia pendek dan kemungkinan ia tidak mampu untuk mewujudkan semua potensinya itu, maka musyawarah dan memanfaatkan pengalaman-pengalaman orang lain adalah cara tepat untuk mencapai tujuan itu.

 

Islam sebagai agama komprehensif yang berperan memberikan hidayah kepada manusia untuk mencapai kesempurnaan dan kebahagiaan abadi, juga menganggap musyawarah sebagai satu pedoman dasar untuk mencapai tujuan manusia. Dalam Surat Ash-Shura Ayat 38, Allah Swt berfirman, "Dan bagi orang-orang yang menerima seruan Rabbnya dan mendirikan salat, sedangkan urusan mereka, mereka putuskan di antara mereka dengan musyawarah, dan sebagian dari apa yang Kami rezekikan kepada mereka, mereka menafkahkannya (untuk jalan ketaatan kepada Allah)."  

 

Pada dasarnya, ayat tersebut menjelaskan bahwa orang-orang Mukmin memanfaatkan musyawarah sebagai satu program berkelanjutan bagi mereka untuk mengembangkan sisi material dan spiritualnya. Perlu dicatat bahwa untuk mencapai keputusan yang benar, orang-orang Mukmin tidak cukup hanya mengandalkan akalnya saja, tetapi juga berkonsultasi dengan orang-orang bijak dan menggunakan pandangan-pandangan dan saran mereka. 

 

Meskipun Rasulullah Saw mempunyai kesempurnaan akal dan memiliki hubungan dekat dengan Allah Swt, dan bahkan dengan semua kesempurnaan itu, beliau tidak memerlukan lagi musyawarah dengan masyarakat, namun beliau tetap bermusyawarah dengan para sahabat di berbagai persoalan sosial dan administratif. Dari satu sisi, hal itu dilakukan beliau untuk mengajarkan kepada umat Islam tentang pentingnya bermusyawarah supaya musyawarah itu menjadi bagian dari program dasar kehidupan mereka. Sementara dari sisi lain, beliau ingin mengembangkan kekuatan berpikir dan menalar dalam diri setiap individu, begitu juga dengan kepribadian mereka.

 

Mengingat pentingnya musyawarah, Rasulullah Saw terkadang mengesampingkan pendapatnya. Sebelum Perang Uhud, beliau berpendapat bahwa umat Islam harus tetap berada di kota Madinah untuk melawan musuh, tetapi kebanyakan sahabat dan pasukan lebih mengutamakan untuk berperang di luar kota. Nabi Muhammad Saw akhirnya mengalah dan mengikuti pendapat mayoritas. Mereka pergi ke gunung Uhud dan perang melawan musuh di sana. Meski pendapat mayoritas tersebut tidak membawa hasil yang memuaskan dan umat Islam kalah dalam Perang Uhud, namun kekalahan itu tidak menghalangi musyawarah-musyawarah berikutnya Rasulullah Saw dengan para sahabatnya.

 

Dalam Surat Al-i-Imran Ayat 159, Allah Swt berfirman, "Maka berkat rahmat dari Allah kamu menjadi lemah lembut (hai Muhammad) kepada mereka dan sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu, maka maafkanlah mereka dan mintakanlah ampunan bagi mereka serta berundinglah dengan mereka mengenai urusan itu. Kemudian apabila kamu telah berketetapan hati maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal (kepada-Nya)."  Pada hakikatnya, ayat ini menjelaskan tentang perintah untuk bermusyawarah guna menghidupkan kepribadian umat Islam dan membangkitkan kembali intelektual dan spiritual mereka.

 

Musyawarah termasuk bentuk penghargaan kepada masyarakat. Oleh karena itu, Rasulullah Saw tetap menghargai pendapat dan pandangan orang lain meski beliau memiliki kemampuan dan kesempurnaan berpikir. Sebelum dimulainya Perang Ahzab atau Perang Khandaq, Nabi Muhammad Saw bermusyawarah dengan para sahabat untuk mengatur strategi. Salah satu sahabat beliau, Salman al-Farisi mengusulkan untuk membuat Khandaq di sekitar kota Madinah guna mencegah masuknya pasukan Musyrikin ke kota tersebut.

 

Rasulullah Saw menyetujui usulan Salman dan mempraktekkannya untuk melindungi masyarakat kota dari serangan kaum Musyrikin. Meski beliau mengajarkan untuk bermusyawarah dalam mengambil keputusan, namun beliau tetap selalu mendidik umat Islam supaya sepenuhnya menerima semua wahyu dan perintah Allah Swt. Oleh karena itu, ketika beliau mengusulkan satu hal, para sahabat pasti bertanya terlebih dahulu apakah itu hukum Tuhan atau pendapatnya sendiri. Jika hal itu hukum Allah Swt, maka mereka langsung menerimanya, tetapi jika itu pendapat beliau, maka para sahabat langsung memberikan pandangan-pandangan mereka.

 

Terkait hal itu, sejarah mencatat bahwa di masa Perang Badar, pasukan Islam ingin mendirikan tenda-tenda di sebuah tempat atas perintah Rasulullah Saw. Salah satu sahabat beliau, Hubab bin Mundzir bertanya, "Ya Rasulullah! Tempat yang engkau pilih untuk pangkalan pasukan ini berdasarkan perintah Allah (Swt) yang tidak boleh diubah atau berdasarkan kebijakanmu sendiri?" Beliau menjawab, "Tidak ada perintah khusus terkait hal ini."

 

Atas alasan tersebut, Hubab bin Mundzir menganggap tempat tersebut tidak tepat bagi pasukan Muslimin untuk berkemah. Nabi Muhammad Saw kemudian menerima pendapatnya dan beliau pindah ke tempat lain untuk mendirikan tenda-tenda pasukan. Kebijakan Rasulullah Saw itu sebagai bentuk latihan bagi umat Islam untuk berpartisipasi dalam berbagai urusan, dan bahkan sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan terhadap pendapat orang lain.

 

Perlu dicatat bahwa Rasulullah Saw tidak pernah bermusyawarah dengan masyarakat terkait hukum-hukum Allah Swt. Sebab, hukum-hukum itu telah ditentukan oleh-Nya sehingga tidak ada tempat lagi bagi pendapat dan usulan masyarakat.  Dalam Surat al-Ahzab Ayat 36, Allah Swt berfirman, "Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang Mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang Mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah sesat, sesat yang nyata."

 

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah Saw bersabda, "Hingga sekarang tidak ada seorangpun yang celaka karena bermusyawarah, dan beruntung karena pemaksaan pendapatnya." Orang-orang yang saling berkonsultasi dan bermusyawarah terkait urusan-urusan penting mereka serta memanfaatkan pandangan-pandangan para pakar, mereka akan lebih sedikit mengalami kekeliruan dalam keputusannya. Sebaliknya, orang-orang yang memaksakan pendapatnya sendiri dan merasa tidak perlu meminta pertimbangan dan gagasan orang lain, biasanya mereka akan terjatuh ke dalam kesalahan besar meski mereka memiliki kemampuan berpikir yang tinggi.

 

Orang-orang yang memiliki kemampuan berpikir tinggi dan memiliki pandangan terbaik, namun mereka menganggap diri mereka sempurna dan tidak memerlukan pendapat dan pandangan orang lain, maka mereka telah terjebak pada kesombongan. Sebaliknya, orang-orang yang menjalin hubungan dengan masyarakat dan memanfaatkan pandangannya, mereka tidak akan hanya terhindar dari bahaya kesombongan dan pemaksaan pendapatnya sendiri, tetapi juga akan mendorong pengembangan pemikiran mereka.

 

Selain itu, ketika seseorang melakukan pekerjaan-pekerjaannya melalui musyawarah dengan orang lain dan ia sukses dalam pekerjaannya, maka akan sedikit sekali pihak yang merasa iri dan cemburu atas keberhasilannya itu, sebab, mereka akan menganggap diri mereka ikut andil dalam kesuksesan tersebut. Dan jika ia gagal, alih-alih mereka memprotesnya, mereka justru akan ikut peduli dan bersimpati kepadanya.

 

Kini pertanyaannya adalah apakah kita boleh bermusyawarah dengan setiap orang? Tentunya jawabannya adalah tidak. Sebab, sebagian orang memiliki titik-titik lemah yang jika kita bermusyawarah dengan mereka justru akan menimbulkan persoalan. Dalam suratnya ke-53 kepada gubernur Mesir, Imam Ali as mengatakan, "Janganlah kamu bermusyawarah dengan tiga kelompok ini; pertama, jangan kamu  bermusyawarah dengan orang bakhil yang akan menghalangimu untuk membantu orang lain dan menakut-nakutimu dengan kemiskinan. Kedua, jangan kamu bermusyawarah dengan orang-orang penakut, sebab mereka akan mencegahmu untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan penting. Dan ketiga, jangan kamu bermusyawarah dengan orang-orang yang serakah, di mana mereka akan mendorongmu kepada kezaliman demi mengumpulkan kekayaan atau meraih jabatan. "

 

Dalam Risalah al-Huquq Imam Sajjad as disebutkan bahwa hak orang yang meminta musyawarah kepadamu adalah jika kamu mempunyai keyakinan dan pandangan, maka sampaikanlah kepadanya, dan jika kamu tidak mengetahui tentangnya maka kenalkan dia kepada orang yang mengetahui. Sementara hak orang yang kamu ajak musyawarah adalah pada hal-hal yang tidak sepakat denganmu, kamu dilarang menuduhnya."

 

Dengan demikian, pengkhianatan dalam musyawarah termasuk salah satu dosa besar. Hukum ini bagi umat Islam dan non-Muslim sama dan tidak dibedakan. Artinya, jika seseorang menerima usulan musyawarah dari non-Muslim, ia tidak berhak untuk berkhianat dan tidak boleh mengungkapkan apa-apa yang tidak diketahuinya. (IRIB Indonesia/RA)

Add comment


Security code
Refresh