Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Senin, 17 Februari 2014 18:35

Keutamaan Berpikir dalam Persepsi Al-Quran

Keutamaan Berpikir dalam Persepsi Al-Quran

Mari kita mencoba untuk bertafakur dan memikirkan alam semesta ciptaan Allah Swt khususnya diri kita (manusia). Cobalah untuk merenungkannya di malam yang tenang di tengah kesendirian. Dengarkan suara hati kita dan kicauan burung serta pikirkannya segala tingkah laku makhluk Allah. Perhatikan dengan benar ciptaan Allah sehingga kita mampu memahami karya seni besar sang Pencipta. Coba perhatikan setiap bagian dari tubuh kita sebagai makhluk paling sempurna ciptaan Allah. Setelah menciptakan manusia, Allah Swt berfirman "Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik." (Surat al-Mukminun, ayat 14)

Al-Quran dalam berbagai ayatnya menyebut orang-orang yang bertafakur terhadap pencitaan dirinya dan alam semesta serta meyakini penciptaan yang ada tidak sia-sia sebagai orang yang berfikir dan cerdas. Dalam ajaran agama, orang-orang yang berpikir dan berakal adalah orang yang meyakini setiap bagian dari alam sebagai tanda keberadaan Tuhan dan bersedia memikirkan hikmah dari setiap penciptaan. Mereka memiliki keyakinan seperti ini dan selaras dengan firman Allah dalam surat al-An'am ayat 59 yang artinya "...dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula).."

Orang yang bijak tunduk terhadap kekuasaan dan keagungan Allah Swt. Dalam surat Ali Imran ayat 190-191, Allah berfirman yang artinya, "(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun."

Sesungguhnya alam yang diciptakan Allah banyak memberikan inspirasi kepada kita untuk belajar darinya, hasilnya akan mendatangkan ilmu pengetahuan bagi kehidupan kita manusia, dan tidak kalah pentingnya menambah kekuatan iman kepada Allah SWT.

Alam menyimpan banyak misteri yang manusia belum mampu menyibak keseluruhan misteri yang ada. Gunung-gunung yang tinggi, bentangan samudera luas dan dalam, sungai-sungai yang panjang berliku, hutan belantara yang lebat, adalah bagian dari alam yang sampai saat ini selalu menjadi inspirasi manusia dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang diciptakannya.

Bagi seorang mukmin tentu menyakini bahwa semua itu adalah maha karya dari Allah yang maha pencipta untuk kita renungkan agar keimanan kita senantiasa bertambah kepadaNya.

Tentu kita menyadari bahwa dengan kemampuan ilmu pengetahuan yang terbatas, sulit bagi kita mengkaji keseluruhan dari apa yang diciptakan Allah di alam raya ini. Namun setidak-tidaknya kita harus terus berupaya untuk mempelajari dan memikirkan dari sebagian ciptaan Allah di bumi ini walaupun dalam bentuk pemikiran yang paling sederhana agar kita dapat mengambil hikmahnya sebagai pelajaran untuk kehidupan kita.  

Ayatullah Nejabat salah satu murid arif besar, Ayatullah Qadhi dalam sebuah kisah disebutkan bahwa ketika hujan turun dari langit, Ayatullah Nejabat dengan kaki telanjang menuju padang pasir. Salah satu muridnya bertanya kepada beliau, mengapa Anda malah menuju padang pasir ketika orang-orang masuk ke rumah atau berteduh dari curahan hujan? Beliau berkata, Aku bersumpah selama rahmat Allah masih membelaiku maka aku merasakan kenikmatan besar yang tidak dapat dirasakan sekalipun oleh seorang raja yang duduk di singgasananya.

Manusia yang bijak akan bertambang pengerahuannya ketika bertafakur terhadap alam semesta beserta isinya. Pengetahuan ini bagi manusia bijak seperti angin sepoi-sepoi yang membelai jiwanya dan seperti mentari yang menyinari serta menghangatkan hatinya. Manusia bijak dalam segala kondisi senantiasa memikirkan keberadaan Tuhan. Ketika musim semi tiba, angin semilir meniup dedaunan dan membawa semerbak harum bunga, manusia bijak menyikapinya sebagai keindahan, keteraturan dan kebesaran penciptaan Tuhan.

Di dalam Al-Qur`an dijelaskan juga bahwa orang-orang yang ingkar kepada Allah swt. Adalah orang yang tidak mengenal ataupun menyadari adanya tanda-tanda keuasaan Allah SWT. Yang membedakan seorang muslim dengannya adalah kemampuannya untuk melihat tanda-tanda tersebut dan bukti-buktinya. Dia tahu bahwa semua ini tidak diciptakan dengan sia-sia dan dia pun dapat menyadari kekuatan serta keagungan seni Allah SWT di mana pun dan mengetahui cara menghambakan kepada-Nya. Dialah yang termasuk orang yang berakal.

"Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (Ali Imran: 191) Pada beberapa ayat Al-Qur`an, ungkapan seperti "tidakkah kamu perhatikan?", "terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal" menekankan pentingnya manusia untuk "bertafakur" melihat tanda-tanda keberadaan Allah Swt. Allah menciptakan banyak hal yang tiada putus untuk direnungi. Setiap yang di langit dan di bumi serta di antara keduanya adalah ciptaan Allah swt dan yang demikian itu menjadi renungan untuk orang yang berpikir. Salah satu ayat memberikan contoh tentang ketuhanan Allah. "Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, kurma, anggur, dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya, pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan." (TQS.an-Nahl: 11)

Kita dapat merenungi sejenak tentang ayat di atas, yaitu tentang pohon kurma. Kurma tumbuh dari biji yang sangat kecil (ukuran biji tidak lebih dari 1 cm). Dari biji ini tumbuh sebatang pohon dengan panjang mencapai 4-5 m dan beratnya bisa mencapai ratusan kilo gram. Satu hal yang diperlukan biji tersebut untuk dapat mengangkat beban yang berat ini adalah tanah di mana ia tumbuh. Bagaimana sebutir biji mengetahui cara membentuk sebuah pohon? Bagaimana biji tersebut "berpikir" untuk melebur dengan senyawa tertentu di dalam tanah untuk menciptakan kayu? Bagaimana dia meramalkan bentuk dan struktur yang dibutuhkan

Pertanyaan terakhir ini sangat penting karena ia bukanlah sebatang pohon sederhana yang keluar dari sebutir biji. Dia adalah organisme hidup yang kompleks dengan akar untuk menyerap zat-zat dari dalam tanah, dengan urat dan cabang-cabang yang diatur dengan sempurna. Seorang manusia akan menemui kesulitan untuk menggambarkan dengan tepat sebuah bentuk pohon, ketika secara kontras sebutir biji yang sederhana dapat menghasilkan sebuah benda yang kompleks hanya dengan menggunakan zat-zat yang ada di dalam tanah.

Pengamatan ini menyimpulkan bahwa biji tersebut sangat pandai dan bijaksana, bahkan melebihi kita, atau lebih tepatnya, ada kepandaian yang menakjubkan pada sebutir biji. Akan tetapi, apa sumber kepandaian tersebut? Bagaimana mungkin sebutir biji memiliki kepandaian dan ingatan sedemikian rupa? Tidak diragukan lagi, pertanyaan ini memiliki jawaban yang sederhana: biji tersebut diciptakan dan diberi kemampuan membentuk sebuah pohon dengan program untuk proses selanjutnya. Setiap biji di bumi diarahkan oleh Allah swt. dan tumbuh dengan ilmu-Nya. Pada salah satu ayat dikatakan,

"Dan pada sisi Allahlah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." (al-An'aam: 59) Dialah Allah yang menciptakan biji-bijian dan membuatnya bersemi menjadi sebuah tanaman-tanaman dan tumbuhan baru. Dalam ayat lain dikatakan, "Sesungguhnya, Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling?" (al-An'aam: 95)

Akal sebagai anugerah besar Tuhan kepada manusia memainkan peran sangat vital, karena salah satu tujuan penciptaan manusia adalah membina jiwa mencapai kesempurnaan. Dan Allah Swt mengutus para nabiNya dengan mengemban misi menyelamatkan manusia dari ketergantungan kepada dunia dan membimbingnya menuju kesempurnaan sejati.(IRIB Indonesia)

Add comment


Security code
Refresh