Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Rabu, 29 Januari 2014 19:40

Alasan Menjadi Pengikut Ajaran Takfiri

Alasan Menjadi Pengikut Ajaran Takfiri

Salah satu ancaman terbesar yang dihadapi umat Islam saat ini adalah gerakan Takfiri. Wahabi Takfiri yang dibangun atas dasar akidah-akidah sesat Ibnu Taimiyah dan Muhammad ibn Abdul Wahhab, menuding kaum Muslim di luar mereka sebagai musyrik dan mengeluarkan fatwa pembunuhan. Teroris Takfiri ? yang didukung oleh beberapa negara Arab di Timur Tengah dan kekuatan-kekuatan dunia ? berupaya untuk menciptakan perpecahan di dunia Islam dan konflik di kawasan serta melakukan pembantaian kaum Muslim dan penyimpangan akidah.

Saat ini, pembantaian luas dan mengerikan terjadi di Suriah seiring meningkatnya aktivitas kelompok Takfiri. Kejahatan itu menyesakkan nafas setiap orang yang merdeka dan para penyembah Tuhan. Takfiri atas nama Islam ? agama yang penuh cinta dan kasih sayang ? melakukan kekerasan sadis dan merusak citra Islam. Padahal, aksi-aksi mereka sepenuhnya bertentangan dengan ajaran Islam. Menurut perspektif para cendekiawan Muslim, mengontrol dan menghancurkan gerakan Takfiri merupakan urgensitas utama dunia Islam.

Perilaku yang jauh dari aroma kemanusiaan dan kebuasan para anasir Takfiri ? seperti membantai wanita dan anak-anak ? telah memunculkan sebuah pertanyaan tentang bagaimana seorang individu bisa bertindak sekejam itu? Lalu apa saja faktor yang melahirkan ajaran Takfiri? Rektor Universitas Pendekatan Antar Mazhab Islam di Iran, Doktor Ahmad Moballeghi menilai ada beberapa faktor utama yang melatari kemunculan Takfiri. Dalam pandangannya, kebodohan, kehidupan di tengah komunitas yang kering pemikiran, fanatisme buta, dan unsur-unsur kejiwaan dan psikologis, merupakan faktor penting munculnya gerakan Takfiri.

Menurut Doktor Moballeghi, anasir Takfiri tidak memiliki sebuah hubungan personal dan mesra dengan Tuhan sebagai sumber rahmat, kasih sayang, dan pencipta semua keindahan dan kebaikan. Ketaatan dan hubungan mesra dengan Tuhan akan menciptakan kelapangan dada seseorang. Sikap lapang dada akan membentuk seorang individu menjadi penyabar dan pemikir, di mana pikiran-pikirannya mampu mengalahkan emosinya.

Manusia yang bertakwa dan taat tentu saja memiliki kelapangan dada. Mereka akan memperlakukan orang lain dengan cinta dan kasih sayang serta menjalin hubungan dengan Tuhan atas dasar cinta. Para pemuka agama Islam juga sering berbicara bahwa agama tidak lain kecuali cinta. Ajaran-ajaran Islam murni menciptakan sebuah kecintaan istimewa antara seseorang dengan Tuhannya dan ketika itu, orang tersebut akan menjadi poros kecintaan Sang Khalik. Kecintaan itu sama seperti wewangian yang menebarkan keharuman kepada orang-orang sekitar dan memberikan kabar gembira rahmat Tuhan kepada semua.

Jika hubungan dengan Tuhan bersifat dangkal dan pencitraan semata, maka amal ibadah tidak akan mengubah kondisi internal seseorang dan ia jauh dari aroma spiritualitas serta fenomena-fenomena keindahan kemanusiaan dan ketuhanan. Individu seperti itu secara perlahan akan terseret ke jurang bahaya seperti Takfiri. Anasir-anasir Takfiri ? berbeda dengan spirit Islam yang mengutamakan keramahan dan siap untuk mengabdi kepada masyarakat ? selalu berpikir untuk membunuh manusia-manusia tak berdosa.

Doktor Moballeghi mengatakan, "Kita mengharapkan para tokoh masyarakat Islam menyusun program untuk menciptakan sebuah perubahan fundamental dalam bentuk dan kualitas interaksi manusia dengan Tuhan. Manusia saat ini haus akan keindahan, cinta, dan kasih sayang. Ini adalah sesuatu yang hanya didapatkan dengan menjalin hubungan hakiki dengan Tuhan, bukan sebuah hubungan pencitraan."

Faktor lain yang menyebabkan seseorang terjebak dalam pemikiran Wahabi dan Takfiri adalah kehidupan di lingkungan yang keras dan fanatik. Masyarakat yang tumbuh di tengah lingkungan Wahabi, biasanya cendrung menolak kritik dan tidak memiliki kematangan berpikir. Mereka juga akan bersikap fanatik dan mengedepankan kekerasan. Fakta menunjukkan bahwa anasir-anasir Takfiri yang berperang di Suriah, umumnya berasal dari tengah masyarakat Wahabi seperti, Saudi Arabia dan negara-negara sekitar.

Doktor Moballeghi menuturkan, "Gerakan Takfiri berpotensi terbentuk di tengah masyarakat yang keras dan kaku. Kecintaan Tuhan tidak terdapat di hati yang keras. Tuhan di tengah mereka hanya sebagai instrumen untuk mempersulit semua hal? seorang Takfiri mengira bahwa ia dekat dengan Tuhan, padahal apa yang dimilikinya bukan agama. Ia tidak berinteraksi dengan Tuhan dan juga tidak memahami hukum-hukum agama. Ia tidak berhubungan dengan akhirat dan juga tidak takut terhadap neraka."

Doktor Moballeghi juga mengulas fenomena Takfiri dari kacamata spikologi dan memperoleh sebuah kesimpulan menarik. Dia percaya bahwa seorang Takfiri terjebak dalam sebuah kesempitan pemikiran, jiwa dan terjangkit Oedipus Kompleks dalam dirinya. Peneliti Islam ini mengatakan, "Seorang Takfiri terperangkap dalam sebuah kondisi kejiwaan yang membuatnya memandang masalah secara sempit. Kelompok Khawarij (pada masa Imam Ali as) juga seperti itu, mereka tanpa alasan telah menyiksa diri dengan perkara dunia dan agama. Padahal agama tidak sulit. Sebenarnya, ajaran Takfiri muncul dari ketiadaan pemahaman yang benar tentang agama."

Seorang Takfiri selain tidak memahami ilmu fikih dan akidah-akidah Islam, juga jauh dari prinsip-prinsip moral. Menghiasi diri dengan akhlak yang mulia termasuk di antara wasiat Rasul Saw dan Ahlul Bait as kepada umatnya, sebab akhlak mulia adalah pelembut jiwa dan hati seseorang. Menurut Doktor Moballeghi, Takfiri adalah dampak dari sikap amoral dan hilangnya prinsip-prinsip akhlak. Fenomena ini dapat disaksikan dalam aksi-aksi mereka yang mengedepankan teror dan kekerasan.

Salah satu motivasi Takfiri terlibat dalam perang dan kekerasan adalah untuk mendapatkan harta. Mereka meskipun mengaku sebagai "pejuang," tapi motivasi untuk memperoleh pendapatan di medan perang juga sangat penting bagi mereka. Pihak asing memberikan uang kepada para teroris Takfiri agar melakukan kejahatan di negara-negara Islam dan menyulut perang saudara di tengah kaum Muslim. Amerika Serikat, Israel, dan beberapa negara Arab menyediakan banyak dana dan senjata kepada kelompok-kelompok Takfiri. Mereka mengundang semua kelompok Takfiri dari seluruh dunia untuk mencegah kemajuan dan persatuan umat Islam.

Takfiri memperoleh dana terbesar dari pemerintah Arab Saudi dan pada dasarnya, mereka dipersenjatai dengan uang minyak Saudi. Seorang analis Amerika, Randy Short dalam wawancara dengan Press TV pada November 2013, menyinggung dukungan Saudi kepada kelompok Takfiri dan mengatakan, "Arab Saudi menggunakan uangnya untuk memutarbalikkan keadilan dan Islam serta menghalangi perubahan sosial. Mereka telah menghabiskan uangnya untuk mensponsori Takfiri di Suriah. Seharusnya mereka menggunakan uang itu untuk masyarakat miskin di Saudi daripada menghancurkan Suriah."

Kucuran dana dan fasilitas lain telah mendorong orang-orang dari berbagai suku bangsa untuk bergabung dengan kelompok Takfiri. Arab Saudi sebagai harapan banyak Muslim, justru mengadopsi kebijakan standar ganda dalam menangani isu terorisme dan konflik di Suriah, Bahrain, Yaman, Irak, dan Lebanon. Pada September 2013, Pusat Riset Militer dan Pertahanan Inggris dalam laporannya menyatakan bahwa sampai saat ini lebih dari 100 ribu teroris dari 83 negara dunia berperang di Suriah. Di antara teroris yang aktif di Suriah terdapat warga negara Eropa seperti Perancis, Jerman, Inggris, Swedia, Amerika, dan Mexico.

Mengenai bahaya kelompok Takfiri, Doktor Moballeghi mengatakan, "Kita perlu tahu bahwa jika narkoba bisa menghancurkan sebuah keluarga, maka Takfiri dapat menghancurkan sebuah umat dan Islam? jika para ulama merekomendasikan sebuah solusi seragam dan menetapkan sebuah dokumen tunggal sebagai parameter untuk bertindak, maka masalah tersebut akan hilang dari dunia Islam. Kita harus mengoptimalkan media dan diplomasi untuk menghancurkan Takfiri." (IRIB Indonesia)

Add comment


Security code
Refresh