Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Kamis, 16 Januari 2014 18:35

Poros Pemersatu Umat Perspektif Islam

Poros Pemersatu Umat Perspektif Islam

Persatuan Islam merupakan salah satu urgensitas sejarah, sosial, dan politik kaum Muslim dan termasuk faktor-faktor terpenting kemuliaan dan kemenangan mereka di semua bidang. Sebaliknya, perselisihan dan perpecahan tidak akan memberi sesuatu kecuali kehinaan, konflik, kehancuran potensi pemikiran dan sumber kemanusiaan, serta dominasi musuh. Tidak diragukan lagi bahwa persatuan adalah sebuah urgensitas baik dari segi logika maupun hukum syariat.

Kaum Muslim tidak boleh melupakan fakta ini bahwa salah satu kebijakan prinsip Rasulullah Saw adalah membangun persatuan, pertalian hati, dan persaudaraan di tengah umat. Dalam surat Ali Imran ayat 103, Allah Swt berfirman, "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya."

Di dunia modern, perselisihan di antara mazhab-mazhab Islam dan masyarakat Muslim telah menjadi tantangan utama bagi dunia Islam. Kondisi itu menyebabkan ketertinggalan negara-negara Islam dan mendorong kaum arogan untuk menancapkan hegemoni mereka di tengah umat Islam. Pendudukan negara-negara Islam seperti Palestina dan Afghanistan oleh musuh serta konflik etnis di kebanyakan negara Islam, dikarenakan kelalaian kaum Muslim dunia terhadap prinsip persatuan. Mazhab-mazhab Islam ? terlepas dari semua perbedaan pandangan dalam cabang-cabang agama ? memiliki persamaan dalam prinsip-prinsip agama mereka seperti, Tuhan, al-Quran, Rasul Saw, dan Ahlul Baitnya.

Mengenai isu persatuan umat, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei mengatakan, "Maksud kami dari persatuan adalah keselarasan, keseragaman, dan kekompakan sehingga saudara seiman tidak lagi saling berhadap-hadapan dan moncong-moncong senjata musuh tidak dialihkan ke arah sahabat. Seruan kami sebagai pesan persatuan adalah bahwa kaum Muslim harus bersatu dan tidak saling memusuhi dan porosnya adalah kitab Allah Swt, sunnah Nabi Saw, dan syariat Islam. Ini adalah seruan yang diterima oleh setiap orang yang berakal sehat dan bijak."

Hal yang dapat menjadi poros pemersatu antara mazhab-mazhab Islam dan bahkan semua agama langit adalah tauhid dan pengesaan Tuhan. Tauhid merupakan prinsip utama ajaran para nabi di sepanjang sejarah. Dalam surat Ali Imran ayat 64, Allah Swt berfirman, "Katakanlah: Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah."  Ayat ini merupakan sebuah seruan untuk persatuan.

Kitab suci al-Quran mengajak semua manusia untuk menjaga prinsip-prinsip, bersatu sebagai sebuah komunitas global, dan memperhatikan nilai-nilai kolektif mereka. Hal ini tentu saja dengan tidak mengabaikan perbedaan kebangsaan dan bahkan syariat mereka. Mengenai perintah menyembah Tuhan Yang Maha Esa kepada umat Islam, Allah Swt dalam surat al-Mu'minun ayat 52, berfirman, "Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku."

Parameter umat yang satu adalah keyakinan kepada keesaan Tuhan. Persatuan bukan sebuah nasehat dan usulan, tapi sebuah kewajiban, yaitu kaum Muslim punya kewajiban untuk merealisasikan persatuan umat. Al-Quran sebagai faktor pemersatu dunia Islam, juga menyeru kaum Muslim kepada persatuan dan menghindari perpecahan. Dalam surat Ali Imran ayat 103, Allah Swt berfirman, "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai."

Persatuan dan kesatuan umat Islam merupakan sebuah keharusan dan perintah Qurani, sementara perpecahan merupakan perbuatan yang merugi dari segi agama dan akal. Dalam surat al-Anfal ayat 46, Allah Swt berfirman, "Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." Sementara dalam surat al-Hujurat ayat 10, Allah Swt berfirman, "Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat." Oleh karena itu, al-Quran sebagai kitab milik seluruh umat Islam, senantiasa menyeru mereka kepada persatuan dan pertalian hati. Kitab langit ini merupakan poros penting untuk mewujudkan persatuan Islam.

Sosok suci Rasulullah Saw juga merupakan poros dasar persatuan kaum Muslim, karena mereka semua menganggap beliau sebagai duta terakhir Tuhan dan peletak kebangkitan Islam. Mereka juga mengikuti bimbingan-bimbingan Nabi Saw. Sirah Nabi Saw memiliki peran signifikan dalam mempersatukan masyarakat Islam. Langkah pertama yang dilakukan Rasulullah Saw ? setelah membentuk pemerintahan Islam di Madinah ? adalah memupuk semangat persatuan dan kesatuan di tengah kaum Muslim.

Rasul Saw berusaha untuk merealisasikan umat yang satu berdasarkan parameter al-Quran dan perintah Tuhan. Beliau menghapus semua benih-benih perpecahan dan nifak dengan memanfaatkan ajaran-ajaran langit. Nabi Muhammad Saw sampai sekarang masih menjadi poros pemersatu umat Islam. Dalam beberapa tahun terakhir, umat Islam bersatu dan kompak untuk memprotes setiap pelecehan terhadap sakralitas agama dan pribadi mulia Rasulullah Saw.

Salah satu wasiat yang ditekankan oleh Rasulullah Saw kepada kaum Muslim adalah mengikuti dan berpegang teguh pada al-Quran dan Ahlul Bait as. Beberapa ayat al-Quran bahkan menyinggung masalah tersebut dan Rasul Saw tidak meminta sesuatu sebagai upah atas semua jerih payahnya kecuali kecintaan kepada Ahlul Bait as. Rasul Saw menyeru kaum Muslim ? setelah al-Quran ? untuk berpegang kepada Ahlul Baitnya dan memperkenalkan kedua pusaka berharga itu sebagai faktor pemersatu umat. Dalam sumber-sumber hadis shahih Syiah dan Sunni disebutkan bahwa, "Aku meninggalkan dua pusaka berharga di tengah kalian dan kalian tidak akan pernah tersesat selama berpegang pada keduanya? kitab Allah (al-Quran) dan Itrah Ahlul Baitku. Keduanya tidak akan berpisah sampai menemuiku di al-Haudh (telaga). Oleh karena itu, pikirkanlah bagaimana kalian menunaikan hakku terkait kedua pusaka tersebut."

Setelah Rasul Saw, kedudukan Ahlul Bait beliau di tengah umat Islam tidak ada tandingannya dan tidak ada keluarga lain yang mencapai derajat dan kedudukan seperti mereka. Oleh karena itu, salah satu cara untuk memupuk persatuan adalah memperhatikan kedudukan dan posisi Ahlul Bait Nabi as di tengah umat. Untuk itu, Ahlul Bait as dapat menjadi poros pemersatu umat Islam. Kajian sejarah Ahlul Bait as menunjukkan bahwa mereka selalu berusaha untuk menciptakan persatuan di tengah masyarakat Islam. Sebagai contoh, kinerja Imam Ali as ? sebagai khalifah setelah wafat Nabi Saw ? menunjukkan bahwa satu-satunya misi beliau adalah menjaga prinsip-prinsip agama Islam dan persatuan di tengah umat. Mengenai masalah kekhalifahan yang menjadi perselisihan pertama umat Islam, Imam Ali as memilih diam dan bersabar serta tidak mengizinkan perbedaan itu mengoyak barisan umat Islam.  

Ayatullah Khamenei mengatakan, "Hari ini suara dan lisan yang mengajak umat Islam kepada persatuan adalah suara Ilahi. Sementara suara atau lisan yang memprovokasi umat Islam dan pengikut berbagai madzhab untuk saling bermusuhan di antara mereka adalah suara syaitan." Beliau juga menilai persatuan dan persaudaraan kaum Muslim sebagai kunci mengatasi krisis yang menimpa dunia Islam. Ayatullah Khamenei menilai solusi utama untuk keluar dari masalah yang mendera dunia Islam adalah mengokohkan persatuan dan persaudaraan umat di bawah panji-panji tauhid.

Saat ini, dunia Islam tidak punya pilihan lain kecuali kembali kepada poros-poros persatuan seperti, tauhid, al-Quran, Rasul Saw, dan Ahlul Bait beliau. Di era sensitif ini, para ulama dan cendekiawan Muslim diharapkan untuk mengajak masyarakat kepada persatuan berdasarkan ajaran Rasulullah Saw. (IRIB Indonesia)

Add comment


Security code
Refresh