Tafsir Al-Quran, Surat Ali Imran Ayat 13-17

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

Ayat ke 13

 

Artinya:
Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati.

 

Rasul dan Muslimin selama 13 tahun di Mekah berada di bawah penyiksaan dan gangguan orang-orang musyrik sehingga pihak musuh berencana membunuh Rasul yang dengan perintah Allah, Rasul dan Muslimin berhijrah dari Mekah menuju Madinah. Pada tahun kedua setelah hijrah, di wilayah Badar, terjadi perang, dimana jumlah Muslimin mencapai 313 orang dan jumlah orang-orang musyrik seribu orang. Namun musuh terpaksa mengakui kekalahan setelah mengalami 70 korban tewas dan 70 tertawan.

 

Ayat ini menyinggung tentang bantuan dan pertolongan Tuhan dalam perang ini dan menyatakan, "Allah Swt memperlihatkan kalian di mata mereka seakan-akan berlipat-ganda sehingga mereka ketakutan dan kehilangan semangat dalam melawan Muslimin. Permulaan dan akhir ayat ini menekankan bahwa pertolongan Tuhan di dalam perang Badar dan kemenangan tentara kebenaran terhadap kebatilan harus menjadi pelajaran untuk tidak merasa takut karena sedikitnya jumlah pasukan dan laksanakanlah tugas kalian dimana Allah akan membantu kalian.

 

Dari ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:‎
1. Perang dalam Islam adalah untuk Allah dan mempertahankan agama bukan untuk unjuk kekuatan,ekspansi atau dominasi.
2. Salah satu dari pertolongan-pertolongan gaib Tuhan mewujudkan ketakutan di hati musuh yang menyebabkan musuh melihat kekuatan Muslimin berlipat-lipat.
3. Kejadian-kejadian yang berlaku di sekitar kita bagi semua merupakan pelajaran, namun hanya pemilik pandangan dan visi yang memetik pelajaran darinya.

 

Ayat ke 14

 

Artinya:
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).

 

Allah Swt menciptakan manusia di dunia dan memberikan apa yang diperlukan untuk melanjutkan kehidupan dan kesenangan yang dibenarkan oleh syariat. Untuk melanggengkan keturunan, kita memerlukan isteri dan anak. Untuk memenuhi kesenangan hidup, kita memerlukan uang dan kekayaan. Allah Swt menganugerahkan kesemua tadi. Demikian pula untuk makanan dan pakaian, kita memerlukan berbagai jenis binatang dan tetumbuhan. Namun harus diperhatikan bahwa semua urusan ini adalah sementara dan fana' (binasa), dan usianya paling lama adalah sesuai dengan usia manusia di dunia. Jika kita mengimani Tuhan dan Hari Kiamat, maka kita tidak boleh membesar-besarkan urusan duniawi di depan mata kita sehingga menyebabkan kesombongan, karena di Hari Kiamat, tidak satupun dari semua tadi yang punya nilai.

 

Dari ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:‎
1. Hasrat dan kecintaan alamiah kepada material dan kebendaan ada dalam diri manusia, yang berbahaya adalah tertipu dengan daya tarik dan hiasan dunia.
2. Memanfaatkan dunia dan anugerah-anugerahnya tidaklah buruk, yang buruk adalah ketergantungan dan keterikatan dengan dunia.
3. Untuk mengkontrol keinginan dan syahwat, maka kita harus membandingkan dunia yang fana dengan nikmat abadi akhirat.

Ayat ke 15

 

Artinya:
Katakanlah: "Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?". Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.

 

Mengusul ayat sebelumnya, yang menjelaskan sebagian perkara dunia yang diminati oleh manusia, ayat ini menyinggung tentang sebagian nikmat-nikmat surga yang abadi pada Hari Kiamat sehingga manusia dengan membandingkan keduanya, dapat memilih jalan yang benar dan tidak termakan oleh lahiriah dunia. Jika di dunia, taman dan pemandangan indah alam menarik pandangan manusia, di surga terdapat taman penuh dengan pohon dan hutan yang dari kaki pohon-pohonnya mengalir sungai dan di dahannya, terdapat berbagai jenis buah-buahan dan makanan.

 

Disamping itu, dalam ayat ini, Allah Swt memberikan khabar gembira akan isteri-isteri yang cantik menawan. Berita-berita gembira tadi menunjukkan sebagian dari nikmat material akhirat yang kecil. Ganjaran penghuni surga yang paling besar adalah keridhaan Tuhan kepada hamba-hamba mukmin-Nya yang tidak ada sesuatu apapun yang menandingi nikmat ini.

 

Dari ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:‎
1. Jalan untuk memiliki nikmat-nikmat syurga yang langgeng adalah Takwa dan menjauhi kekotoran, karena surga adalah tempat orang-orang yang bersih.
2. Kenikmatan surga tidak terbatas dengan kelezatan materi. Mendapat keridhaan Tuhan adalah kelezatan spiritual yang tertinggi bagi para penghuni surga.
3. Kesucian adalah nilai yang tertinggi bagi wanita. Allah Swt mensifati isteri-isteri di surga dengan kata suci.

Ayat ke 16-17

 

Artinya:
(Yaitu) orang-orang yang berdoa: Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka,"

 

(yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.

 

Ayat sebelumya mengenalkan orang-orang bertakwa sebagai ahli surga. Dua ayat ini menjelaskan kekhususan-kekhususan pemikiran, akhlak dan prilaku orang-orang yang bertakwa, sehingga terjelas siapakah yang berhak dan layak masuk surga.

 

Ayat pertama menjelas taubah dan inabah orang-orang yang bertakwa yang senantiasa meminta ampun dari Allah. Pada dasarnya, jalan untuk sampai kepada takwa adalah iman dan bersikap seimbang (i'tidal) kepada keberadaan Allah. Selagi manusia tidak menyakini bahwa semua perbuatannya diawasi, maka mereka tidak akan mengontrol diri.

 

Akan tetapi arti takwa bukanlah tersucikan dari dosa, melainkan dengan artian menahan diri. Orang-orang yang bertakwa mungkin saja terjatuh ke dalam perbuatan dosa, namun beda mereka dengan pendosa lain ada 2 hal; pertama dosa bukan bagian dari kebiasaan mereka, akan tetapi mereka berbuat dosa karena khilaf dan lupa. Kedua, jika mereka berdosa, langsung mereka terpikir untuk taubat sehingga dirinya bisa terlepas dari kesan-kesan dosa di dunia dan akhirat.

 

Ayat berikutnya menjelaskan 5 sifat penting dari dampak positif takwa bagi orang-orang yang bertakwa. Kesabaran dan ketabahan di jalan kebenaran dan bertahan dalam melawan bujukan-bujukan batil dan setan merupakan sifat yang paling mendasar. Kejujuran dalam akidah, perkataan dan tindakan merupakan sifat-sifat lain orang-orang yang bertakwa dan sifat-sifat ini memelihara manusia dari segala bentuk kemunafikan, riya, kebohongan dan penipuan.

 

Demikian pula ketaatan mereka dari perintah Allah disertai dengan tunduk dan kerendahan diri serta menerima hukum Allah dengan sepenuh jiwa. Di samping taat kepada Allah, mereka juga memikirkan makhluk dan menginfakkan sebagian harta mereka untuk orang-orang yang memerlukan.

 

Namun dengan melakukan perbuatan baik ini, bukan berarti mereka jadi sombong, bahkan mereka selalu merasa masih banyak kekurangan dalam mengabdi dan membantu manusia-manusia yang lemah dan mereka senantiasa beristighfar dan meminta ampunan atas segala kesalahan dan kekurangan.

 

Dari ayat ini kita petik pelajaran bahwa takwa bukan berarti mengucilkan diri, melainkan disamping menghindari dosa, kita harus menghidupkan sifat-sifat baik (hasanah) pada diri kita dan berusaha memberikan pengabdian kepada umat manusia. (IRIBIndonesia)

Tags:

Comments

Name
Mail Address
Description