Peringatan Allah dalam Al-Quran: Takut Kepada Manusia

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

 

Takut Kepada Manusia

 

Allah Swt berfirman, "... Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku ..." (QS. al-Maidah: 44)

 

Rasa takut merupakan satu hal yang alami dan ada pada setiap manusia. Kata takut dalam al-Quran sering diungkapkan dengan kata Khauf dan Khasyah. Bila rasa takut ini bersumber pada Allah atau akibat dari perbuatan dan balasan Allah atas perilaku manusia, maka rasa takut ini menjadi satu hal yang patut dipuji. Sebaliknya, bila rasa takut ini bersumber dari selain Allah atau takut kepada masyarakat yang membuat orang itu tidak melakukan perintah ilahi, maka ketakutan ini di sisi Allah merupakan sesuatu yang tidak terpuji. Allah Swt dalam al-Quran telah  memperingatkan manusia terkait masalah ini.

 

Sebagai contoh, Allah Swt dalam surat al-Maidah ayat 44, setelah menurunkan Taurat dan bagaimana para nabi sebelumnya menghukumi sesuatu berdasarkan Taurat, Allah Swt memberi kabar tentang ulama Yahudi terdahulu dan juga kepada ulama Yahudi yang semasa dengan Rasulullah Saw yang takut kepada sebagian orang kaya Yahudi berusaha untuk tidak melaksanakan perintah Taurat.[1] Al-Quran memberikan peringatan keras kepada kepada ulama Yahudi yang bersikap demikian ini dan menyebutkan, "... Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir."

 

Dalam ayat ini, Allah Swt memperingatkan ulama Yahudi (dan selanjutnya siapa saja yang bersikap seperti mereka) agar tidak takut kepada manusia, agar tidak meninggalkan perintah-perintah ilahi hanya dikarenakan takut kepada manusia.

 

Mencermati lebih jauh ayat ini dan dengan melihat penggunaan kata kafir di akhir ayat ini dapat disimpulkan bahwa takut kepada manusia menjadi sarana yang dapat mengantarkan manusia kepada kekafiran. Semangat ini pada akhirnya membuat manusia tidak mempedulikan lagi perintah-perintah Allah secara terang-terangan. Itulah mengapa, Allah Swt dalam al-Quran mengeluarkan peringatan keras agar umat Islam tidak takut kepada manusia.

 

Sebaliknya, ketika Allah Swt ingin menyebut keistimewaan perilaku dan akhlak para nabi dan orang-orang yang beriman dengan tidak takut kepada selain-Nya. Allah Swt menyifati para nabi-Nya demikian, "(yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorangpun selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan." (QS. al-Ahzab: 39)

 

Atau dalam ayat lain, al-Quran menyebut ciri khas orang-orang mukmin hakiki adalah mereka yang tidak pernah takut akan celaan orang-orang yang suka mencela.[2]

 

Tapi saat kita meyakini al-Quran sebagai penyembuh segala penyakit, terutama penyakit batin manusia yang mau menerima kebenaran, "Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman ..."[3], maka cara penyembuhan penyakit takut ini juga disebutkan. Dalam ayat 77 surat an-Nisa, setelah menjelaskan kondisi dan ucapan orang-orang yang ketika diwajibkan perang dan jihad merasa sangat takut menghadapi pasukan musuh[4] dan berkata, "... Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami sampai kepada beberapa waktu lagi?" Katakanlah, "Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun. Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh ..." (QS. An-Nisa: 77-78)

 

Dalam ayat ini, Allah Swt mengingatkan dua poin penting yang dapat menjauhkan manusia dari rasa takut kepada orang lain dan kematian:

 

1. Segala nikmat duniawi bakal hancur dan fana, sementara akhirat lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa.

 

2. Di manapun manusia berada, ia tidak dapat melarikan diri dari kematian. Bila ia lari dari perang agar tetap selamat, tapi pada akhirnya kematian akan menjemputnya dan kesempatan bernafas yang singkat baginya juga tidak dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

 

Memperhatikan dua poin ini dan senantisa memikirkannya dapat membebaskan manusia dari takut akan manusia yang lain dan takut akan perang. (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)

 

Sumber: Hoshdar-ha va Tahzir-haye Qorani, Hamid Reza Habibollahi, 1387 Hs, Markaz-e Pajuhesh-haye Seda va Sima.

 

Baca juga:

Peringatan Allah dalam Al-Quran: Mengulur Waktu Bertaubat

Peringatan Allah dalam Al-Quran: Prasangka Buruk



[1]
. Lihat Sayid Hasyim Bahrani, al-Burhan fi Tafsir al-Quran, Tehran, Bunyad Besat, 1416 Hq, cet 1, jilid 2, hal 299.

[2] . "... dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela ..." (QS. al-Maidah: 54)

[3] . QS. al-Isra: 82.

[4] . "Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka, "Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!" Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata, "Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami sampai kepada beberapa waktu lagi?" Katakanlah, "Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun."

Tags:

Comments

Name
Mail Address
Description