Tanpa Al-Quran, Akhlak Tidak Mungkin Meluas dalam Masyarakat
Pengurus Komisi Penegakan Shalat Iran, Hujjatul Islam Moshen Qaraati menyatakan, perluasan akhlak tidak akan mungkin tanpa perhatian terhadap al-Quran, jika di lingkungan universitas al-Quran dan Nahjul Balaghah tidak dijelaskan dengan baik, maka tidak dapat diharapkan akhlak dapat meluas dalam masyarakat.
IKNA News (29/1) melaporkan, hal itu dikemukakan Qaraati dalam seminar "Perluasan Akhlak Islam. Qaraati menjelaskan akhlak menurut al-Quran dan mengatakan bahwa dalam kitab suci al-Quran dijelaskan 11 pembagian akhlak pada surat al-Dhuha.
Qaraati menjelaskan bahwa akhlak islami itu tidak berhubungan dengan pendapat pribadi atau terkait dengan maslahat umum. Menurutnya, dalam beberapa hal termasuk dalam beribadah, masyarakat cenderung menistakan hak orang lain dan hanya mengacu pada kepentingan pribadi dan hal ini tidak lain adalah ibadah tidak berakhlak. Jika orang yang memimpin shalat membenahi diri maka dengan sendirinya dan secara tidak langsung para makmum akan terbimbing.
Hujjatul Islam Qaraati menyinggung fakta bahwa Iblis meyakini hari kiamat, kenabian, dan penciptanya. Satu-satunya hal yang membuatnya terusir dari sisi Allah Swt adalah ketakaburan dan kesombongannya.
Di bagian lain dijelaskannya, "Sayang sekali di masa sekarang ini, tidak banyak diperhatikan soal dampak buruk dari suapan makanan haram bagi kehidupan manusia. Dalam al-Quran disebutkan bahwa hanya ada satu ayat untuk haji dan 32 ayat untuk zakat, ini membuktikan betapa buruknya suapan makanan yang belum dikeluarkan zakatnya."
Qaraati menilai akhlak sebagai masalah fitrah dan menegaskan, "Perhatian al-Quran terhadap masalah akhlak sangat tinggi dan sumbernya dapat kita temukan dalam masalah tauhid. Sejumlah negara di kawasan cenderung mengekor Amerika Serikat dengan harapan mereka mendapat tempat dan menjadi penting, akan tetapi nasib mereka seperti Saddam dan lain-lain, menarik untuk diperhatikan karena mereka tidak berusaha mendapat kehormatan dari Allah Swt. Mereka lupa bahwa Allah Swt telah menetapkan rezeki bahkan untuk seekor semut."
Di bagian lain, Qaraati menyinggung pertumpahan darah pertama dalam sejarah umat manusia yang kembali pada pertikaian antara Habil dan Qabil.
Ditambahkannya bahwa kesombongan telah menghancurkan rasa cinta pada hati Qabil.
Shalat menurut Qaraati merupakan sarana terbaik dalam memperluas akhlak dalam masyarakat. Dalam shalat terdapat kebersihan dalam wudhu, senam dalam ruku dan sujud, kesegaran dengan tidak mengeringkan air wudhu, nilai-nilai kemanusiaan dan penepatan janji dengan menangguhkan shalat untuk membayar utang ketika ditagih, perhatian terhadap masyarakat dengan menjaga keberhasihan individu, dan masih banyak lagi.
Mohsen Qaraati menyatakan bahwa al-Quran merupakan parameter utama dan semua hal dapat ditemukan dalam al-Quran. (IRIB Indonesia/MZ)