Tafsir Rahnama: Surat Al-Ikhlas Ayat 1

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

 

Ayat 1

 

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

 

Qul Huwa Allāhu 'Aĥadun

 

Katakanlah, "Dialah Allah Yang Maha Esa."

 

Ayat pertama dari surat al-Ikhlas ini diturunkan di Madinah, sehingga tergolong ayat-ayat Madani.

 

1. Allah yang mengajarkan tauhid kepada Rasulullah Saw

 

Qul Huwa Allāhu 'Aĥadun

 

2. Nabi Muhammad Saw diperintahkan untuk mengajarkan tauhid kepada manusia.

 

Qul Huwa Allāhu 'Aĥadun

 

3. Kalimat tauhid harus diucapkan dengan lisan.

 

Qul

 

4. Zat Allah Swt berada pada puncak misteri dan tidak dapat dirasakan dengan panca indera manusia.

 

Huwa

 

Dalam kombinasi kata-kata dalam ayat pertama ayat al-Ikhlas ini, kata Huwa dapat dibaca dalam beberapa bentuk gramatikal termasuk Huwa sebagai Mubtada atau subyek dan Allah sebagai Khabar atau obyek, sementara Ahad atau esa sebagai obyek kedua. Bila dilihat dalam konteks ini, maka tempat kembali kata ganti orang ketiga Huwa tidak disebutkan, maka benak pembaca hanya akan memahami arti Huwa atau Dia kembali kepada Zat Allah Swt.

 

5. Keesan Allah, hakikat yang pasti dan tidak dapat diingkari.

 

Huwa Allāhu 'Aĥadun

 

Kalimat ini merupakan kombinasi yang diterima oleh mayoritas sastrawan dan para penafsir ayat ini bahwa adanya kata ganti orang ketiga yang menjelaskan kondisi dan kalimat Allah Esa sebagai penjelasnya yang hakikatnya menjadi tempat kembali kata ganti itu. Di sini, kata ganti orang ketiga yang menjelaskan kondisi dalam ayat ini menunjukkan keagungan dan penetapan bahwa pada hakikatnya Allah itu esa.

 

6. Tauhid sangat penting dan harus mendapat perhatian.

 

Qul Huwa

 

7. Allah adalah nama khusus dari Tuhan.

 

Allāhu

 

8. Allah satu-satunya yang layak disembah.

 

Allāhu 'Aĥadun

 

Sebagian ahli bahas menyebut kata Allah berasalah dari Ilaah. Kata kerja Alaha berarti beribadah. Bila dimaknai seperti ini maka yang dimaksud dengan keesaan yang disembah adalah seluruh apa saja yang disembah itu bohong dan khayalan serta tidak layak untuk disembah.

 

9. Zat Allah itu menakjubkan dan tidak dapat diketahui

 

Allāhu

 

Kata Allah dari asal kata Aliha berarti menakjubkan. Sebagian ahli bahasa memaknai kata Allah dengan makna ini. (Mufradat)

 

10. Allah Swt Esa dalam sifat dan zat.

 

'Aĥadun

 

Sekaitan dengan makna Ahad atau esa ada sejumlah arti yang disebutkan seperti Ahad adalah seseorang yang dalam pengaturan, zat dan sifatnya tidak ada duanya. (Taj al-Arus)

 

11. Allah Swt tidak tersusun dari dua.

 

'Aĥadun

 

Dipilihnya kata Ahad dan bukan Wahid dikarenakan Wahid dipakai dalam menghitung dan sangat mungkin ada yang bertambah, tapi tidak demikian dengan Ahad. (Majma' al-Bayan)

 

12. Allah Swt itu simpel dan sederhana, tidak memiliki bagian.

 

'Aĥadun

 

Sebagian ahli bahasa mengatakan Ahadiyah Allah atau keesaan Allah bermakna Dia tidak dapat dipisah-pisahkan. (Taj al-Arus)

 

13. Allah mustahil berbilang.

 

'Aĥadun

 

Perbedaan antara Ahad dan Wahid telah dijelaskan sebelumnya bahwa pada Wahid atau pertama masih dapat digambarkan kedua, tidak demikian dengan Ahad. Karena Ahad berarti telah meliputi segalanya. (Majma' al-Bayan)

 

14. Diriwayatkan dari Abu Jakfar as, beliau berkata, "Termasuk sifat Qadim adalah Allah Swt Wahid, Ahad dan Shamad. Sifat Allah esa dan Dia tidak terdiri dari banyak sifat."[1]

 

15. Abu Dawud bin Qasim al-Ja'fari meriwayatkan, "Saya berkata kepada Imam Jawad as, ‘Qul Huwa Allāhu 'Aĥadun,apa yang dimaksud dengan ‘'Aĥadun'.' Imam Jawad as menjawab, ‘Semua mengakui Zat-Nya adalah Esa."[2]

 

16. Dari Imam Baqir as tentang firman Allah "Qul Huwa Allāhu 'Aĥadun" diriwayatkan beliau berkata, "Qul, yakni tampakkan apa yang Kami wahyukan kepadamu. Kami telah memberimu pengetahuan lewat komposisi kata-kata yang Kami ucapkan kepadamu. Huwa, adalah nama yang dipakai untuk menunjukkan sesuatu yang gaib dengan tidak secara terang-terangan. Huruf "Ha" mengingatkan satu hakikat yang pasti dan huruf "Wau" mengisyaratkan wujud yang tidak dapat diketahui oleh panca indera."[3]

 

17. Imam Baqir as berkata, "Makna firman Allah "Allāhu 'Aĥadun" adalah Dia adalah Zat yang disembah dimana seluruh makhluk tidak dapat mengetahui hakikat-Nya dan senantiasa takjub dengan kebagaimanaan-Nya. Dia dalam ketuhanan-Nya adalah esa dan berada di atas sifat-sifat makhluk-Nya."[4]

 

18. Seseorang bertanya kepada Imam Ali as tentang tafsir surat ini. Beliau menjawab, "Qul Huwa Allāhu 'Aĥadun" tanpa ditakwilkan ke dalam bilangan.[5] (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)

 

Sumber: Ali Akbar Rafsanjani, Tafsir Rahnama, Qom, Bostan Ketab.

 

Baca juga:

Tafsir Rahnama: Surat Al-Falaq Ayat 5

Tafsir Rahnama: Surat Al-Falaq Ayat 4



[1]
. Tauhid Shaduq, hal 144, bab 11, hadis 9. Nur al-Tsaqalain, jilid 5, hal 710, hadis 62.

[2] . Al-Ihtijaj, Thabarsi, jilid 2, hal 238. Nur al-Tsaqalain, jilid 5, hal 710, hadis 64.

[3] . Tauhid Shaduq, hal 88, bab 4, hadis 1. Bihar al-Anwar, jilid 3, hal 221, hadis 12.

[4] . Tauhid Shaduq, hal 90, bab 4, hadis 2. Nur al-Tsaqalain, jilid 5, hal 708, hadis 59.

[5] . Majma' al-Bayan, jilid 10, hal 862. Nur al-Tsaqalain, jilid 5, hal 710, hadis 65 dan 85.

Tags:

Comments

Name
Mail Address
Description