Tafsir Al-Quran, Surat At-Taubah Ayat 43-47

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

Ayat ke 43

 

Artinya:

Semoga Allah memaafkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar (dalam keuzurannya) dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta? (9: 43)

 

Sebelumnya telah disinggung bahwa Nabi Muhammad Saw meminta kepada kaum Muslimin agar segera bergerak dan berangkat ke arah Tabuk yang terletak di kawasan paling utara Jazirah Arab untuk menghadapi serangan pasukan Romawi. Akan tetapi sebagian Muslimin berusaha mencari-cari berbagai alasan agar memperoleh dalil dan uzur guna bisa meninggalkan kewajiban jihad fi sabilillah. Mereka beralasan seperti jauhnya perjalanan yang harus ditempuh, sangat teriknya musim kemarau dan telah tibanya musim panen. Dengan alasan itu, mereka meminta ijin kepada Nabi agar sebagian mereka diijinkan oleh beliau tidak ikut dalam peperangan ini.

 

Ayat ini secara tersirat mengkritik Nabi dengan mengatakan, sebagian besar mereka yang meminta ijin untuk tidak mengikuti perang pada dasarnya tidak memiliki alasan dan uzur. Tapi pada hakikatnya, ayat ini tidak mencela atau mengkritik Nabi Saw. Karena ayat-ayat setelahnya dengan jelas menyebutkan bahwa Allah Swt tidak menyukai kehadiran orang-orang munafik di medan jihad ini. Justru ayat ini menjadi penyingkap orang-orang yang tidak ada uzur dan alasan tapi tetap meminta ijin kepada Nabi. Allah dalam ayat ini bahkan mengingatkan bahwa kalian jangan menyangka Kami tidak mengerti tentang kebohongan kalian. Kami telah mengetahui bahkan Kami tidak suka kalian hadir dalam perang ini.

 

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Sebenarnya celaan dan kritikan Allah, senantiasa di sisi ampunan dan rahmat-Nya, juga merupakan peringatan dan pendidikan dari-Nya.

2. Medan perang dan jihad merupakan medan untuk mengetahui, siapa gerangan orang benar-benar mengaku sebagai Islam, dan siapa pula yang bohong.

 

Ayat ke 44-45

 

Artinya:

Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk tidak ikut berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa. (9: 44)

 

Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya. (9: 45)

 

Kedua ayat ini merupakan lanjutan dari ayat sebelumnya, dimana telah dijelaskan bahwa barisan orang-orang Mukmin dipisahkan dengan barisan orang-orang munafik. Kemudian dijelaskan pula semangat kejiwaan setiap orang dari mereka, dan mengatakan, orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kiamat, ia tidak akan pernah merasa gentar dan takut terbunuh di jalan Allah ini, lalu mencari-cari alasan dan uzur untuk bisa melarikan diri dari medan jihad ini. Orang-orang semacam ini bahkan hingga saat ini belum yakin dan percaya kepada Allah Swt dan Hari Kiamat. Karena itu mereka selalu dihinggapi oleh berbagai keraguan dan persangkaan.

 

Dari dua ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Orang yang imannya mantap dan selalu bertakwa akan hadir di medan jihad dengan penuh semangat, bukan menarik diri. Karena sesungguhnya orang bertakwa akan dikenali di medan jihad, bukan yang tinggal di rumahnya.

2. Sikap ragu bagus dalam rangka meningkatkan dan mengembangkan pemikiran suatu ilmu pengetahuan. Namun keraguan akan berbahaya bila menjadi unsur yang membingungkan kepala.

 

Ayat ke 46

 

Artinya:

Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka. dan dikatakan kepada mereka: "Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu". (9: 46)

 

Ayat ini menyinggung kondisi lubuk hati orang-orang munafik yang melarikan diri dari perang Tabuk dan mengatakan, alasan yang mereka sampaikan kepada Nabi agar tidak ikut ke medan perang sebenarnya menunjukkan ketidaksiapannya untuk ikut dalam perang. Karena itu mereka juga samasekali tidak menampakkan diri mempersiapkan sarana yang diperlukan dalam perang ini. Itulah sebabnya Allah Swt pada dasarnya tidak suka atas kehadiran orang-orang semacam ini di medan jihad. Oleh karenanya, Allah menghilangkan semangat mereka dalam menyertai perang ini. Dengan demikian, Nabi Muhammad Saw memberi ijin kepada mereka untuk tidak ikut ke medan perang dan mereka menyangka setelah itu tidak ada lagi kewajiban bagi mereka.

 

Padahal Allah Swt Maha Mengetahui bahwa mereka tidak memiliki uzur syar'i yang sebenarnya. Spakah di saat Nabi secara zahir memberi ijin kepada mereka untuk tidak ikut berperang, lalu kewajiban mereka telah gugur?! Lanjutan ayat ini justru mengatakan, orang-orang itu disamakan seperti anak-anak, kaum wanita dan bahkan orang-orang sakit yang hanya bisa berbaring di atas ranjangnya saja, sehingga tidak bisa keluar dari kota.

 

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Bisa berpartisipasi dalam jihad fi sabilillah merupakan taufik Allah yang tidak akan diberikan kepada orang yang bukan ahlinya.

2. Memiliki keinginan saja tidak cukup. Harus disempurnakan dengan menyiapkan mukaddimah untuk perbuatan tersebut.

 

Ayat ke 47

 

Artinya:

Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas maju ke muka di celah-celah barisanmu, untuk mengadakan kekacauan di antara kamu; sedang di antara kamu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang zalim. (9: 47)

 

Ayat ini menjelaskan ketidaksukaan Allah Swt atas kehadiran orang-orang munafik yang imannya lemah di medan perang. Ayat ini mengatakan, Allah Swt menghilangkan taufik untuk hadir dalam peperangan atas orang-orang seperti ini. Karena bila mereka juga hadir dalam medan perang ini, mereka pasti akan menebar fitnah dan perpecahan di barisan kaum Muslimin. Sudah barang tentu orang-orang yang mudah percaya dan berpikiran sederhana, akan termakan dan mendengarkan pernyataan mereka, dan mereka juga akan menjadi lemah iman dan tidak bermotivasi. Akibatnya, kehadiran mereka akan mengakibatkan keraguan dalam pasukan Islam. Selain itu orang-orang munafik ini akan menganggap peran spionase musuh dianggap remeh dan main-main saja, apalagi bila kuping mereka berada di tengah-tengah kalian.

 

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Sedikitnya pasukan dan tentara tidaklah penting, namun yang penting adalah iman dan keyakinan yang bersih dan ikhlas menjadi sumber kemenangan.

2. Kita harus bisa meredam fitnah yang timbul di tengah kehidupan masyarakat. karena dengan tersebarnya isu dan fitnah dalam menyimpangkan opini masyarakat awam, pada gilirannya dapat menciptakan perpecahan di kalangan masyarakat. (IRIB Indonesia)

Tags:

Comments

Name
Mail Address
Description