Tafsir Al-Quran, Surat Ali Imran Ayat 35-39

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

Ayat ke 35-36

 

Artinya:

(Ingatlah), ketika isteri 'Imran berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui".  (3: 35)

 

Maka tatkala isteri 'Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: "Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk".  (3: 36)

 

Melanjuti isyarat sebelumnya tentang keluarga Imran dalam ayat 33, ayat ini menjelaskan latar belakang kelahiran Sayidah Maryam  dan Nabi Isaas. Kisah ini membuat surat ketiga dari al-Quran diberi nama Ali Imran.

 

Sebagaimana halnya dalam kitab sejarah dan tafsir disebutkan, Imran dan Zakariya dua orang Nabi dan tokoh terkemuka Bani Israil yang mengambil dua bersaudari sebagai isteri. Namun tak satupun yang melahirkan anak. Sampai  suatu ketika, istri Imran bernazar, jika Tuhan memberikan anak kepada mereka, maka ia akan menjadikannya  sebagai abdi Baitul Maqdis dan membebaskannya  beribadah  di jalan Tuhan. Permintaan dan hajatnya itu dikabulkan.  Namun ketika putranya itu lahir dan  ternyata  perempuan, ia  kemudian menjadi  khawatir.  Karena belum ada ceritanya, seorang gadis menjadi abdi Baitul Maqdis.

 

Al-Quran di sini mengingatkan, Allah Swt memberikan anak berdasarkan hikmah dan maslahat. Allah bahkan  lebih bijaksana, untuk memberikan  anak  laki-laki atau wanita. Oleh karena itu, meskipun anak perempuan, namun lebih baik dari anak laki-laki  yang diimpikan oleh ibunya dan memiliki kesempurnaan. Salah satudari perempuan sempurna itu dikemudian hari ternyata menjadi ibu Nabi Isa.

 

Dari dua ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Orang yang berpikiran jauh sebelum kelahiran anaknya, telah berpikir untuk membimbing anaknya itu ke jalan kehidupan yang benar dan mewakafkannya dalam pengabdian agama dan masyarakat.

2. Pengabdian kepada masjid begitu bernilai sehingga manusia-manusia suci dalam sejarah menazarkan anak mereka untuk mengabdikan dirinya pada cita-cita suci.

3. Pilihlah nama-nama yang baik untuk anak-anak kalian. Istri Imran menamakan anaknya dengan Maryam yang berarti manusia ahli ibadah dan pengabdi.

4. Untuk pendidikan anak, janganlah kita bersandar hanya kepada usaha kita sendiri, melainkan harus disertai dengan doa  agar  Tuhan menjaganya dari gangguan dan perangkap Setan.

 

Ayat ke 37

 

Artinya:

Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: "Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" Maryam menjawab: "Makanan itu dari sisi Allah". Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.  (3: 37)

 

Dalam tafsir ayat sebelumnya telah disebutkan bahwa ibu Sayidah Maryam bernazar anaknya itu akan diabdikan kepada Baitul Maqdis. Oleh karenanya, ia berharap anaknya itu  laki-laki, supaya nazarnya dapat diwujudkan. Namun Allah Swt mengilhamkan kepadanya bahwa anaknya  itu sekalipun  perempuan dapat diterima sebagai pengabdi Baitul Maqdis.

 

Ayah Maryam  telah meninggal dunia sebelum  kelahirannya. Oleh karena itu, setelah lahir,  ibunya  yang  membawanya ke Baitul Maqdis. Kepada orang-orang Yahudi ia berkata, "Anak ini adalah hadiah dari Baitul Maqdis. Maka pengasuhannya harus dipikul oleh salah seorang dari kalian."  Nabi  Zakariya  as  akhirnya menerima pengasuhan anak itu.

 

Maryam dibesarkan dibawah asuhan Zakariya. Namun ketekunan  ibadah Zakariya membuatnya terlupa untuk menyediakan makanan. Oleh karenanya, Tuhan mengirimkan makanan dari surga untuk Sayidah Maryam.  Setiap kali Zakariya datang ke tempat ibadah Maryam, ia menyaksikan  adanya  makanan khusus terhidang di kamarnya.

 

Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:‎

1.  Jika pekerjaan diniatkan  untuk Allah, maka Allah Swt  akan  memperluas dan mengembangkannya.

2. Wanitadapat maju mencapai kesempurnaan spiritual sehingga nabi Allah tertegun menyaksikannya.

3. Kalau kita menunaikan tugas dalam penyembahan Allah dengan baik, maka Tuhan akan melaksanakan tugas-Nya dalam menyampaikan rezeki kepada hamba-hamba-Nya dengan baik.

 

Ayat ke 38-39

 

Artinya:

Di sanalah Zakariya mendoa kepada Tuhannya seraya berkata: "Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa".  (3: 38)

 

Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): "Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh".  (3: 39)

 

Pada penjelasan sebelumnya telah dijelaskan  bagaimana  Sayidah Maryam  menjadi abdi Baitul Maqdis  sebagai konsekuensi atas nazar ibunya. Ia melewati waktu-waktunya untuk beribadah dan sedemikian tenggelam dalam munajat, sehingga ia lupa makan. Namun setiap kali  Nabi  Zakariya  as, pengasuhnya, masuk ke tempat peribadatannya, maka di sisi Maryam terdapat makanan  dari  langit.

 

Pada suatu kesempatan, ketika Zakariya melihatnya, ia begitu keheranansehingga meminta kepada Allah agar menganugerahkan kepada isterinya seorang anak yang beriman dan suci. Nabi Zakariya meminta seorang anak dari Allah seperti halnya ibu Maryam yang telah diberikan seorang anak suci, padahal ibu Maryam adalah mandul.

 

Permohonan Zakariya ini dikabulkan dan tatkala ia sibuk beribadah, malaikat turun kepadanya dan memberikan berita gembira kepadanya bahwa tak lama lagi, ia akan diberi seorang anak bernama Yahya. Seorang anak lelaki yang punya berbagai kelebihan.

 

Pertama,  Nabi  Yahya  as  akan mengimani  nabi  zamannya, padahal ia sendiri lebih tua dari  Nabi  Isa  as. Di kalangan masyarakat  Nabi Yahya as  lebih dikenal dari  Nabi  Isa dengan kezuhudan dan kesucian. Perbuatannya  mengimani Nabi Isa  ini mendorong masyarakat untuk meyakini Nabi Isa as.

 

Kedua, dari sisi akhlak dan prilaku baik, ia dipandang oleh masyarakat sebagai sesepuh.

 

Ketiga, ia jauh dari hawa nafsu dan kecenderungan duniawi dan sama sekali tidak pernah terlumuri dengan dunia. Lebih  penting dari itu  beliau  memiliki keistimewaan karena  dipilih oleh Allah sebagai nabi dan dalam golongan orang-orang saleh dan pembaharu.

 

Dari dua ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Nilai seorang anak adalah pada kesalehan dan kesuciannya, bukan kelaminnya, laki-laki atau perempuan.  

2. Tuhan semesta alam dalam kaitan ini memberikan Imran anak perempuan dan kepada Zakariya anak laki laki, namun keduanya adalah orang orang suci dalam lembaran sejarah. (IRIB Indonesia)

Tags:

Comments

Name
Mail Address
Description