Tafsir Al-Quran, Surat Al-Araf Ayat 57-62

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

Ayat ke 57

 

Artinya:

Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. (7: 57)

 

Sebelumnya telah disinggung mengenai pelbagai dimensi kekuasaan Allah Swt dalam menciptakan langit dan bumi. Ayat ini juga menyinggung rahmat Allah melalui turunnya hujan yang menjadi sumber kehidupan bumi dan makhluk-makhluk lainnya. Dalam ayat ini disebutkan bahwa tiupan angin yang berhembus ke seluruh permukaan bumi ini mengindikasikan adanya perintah dan keinginan Allah Swt. Karena itu janganlah kalian menyangka bahwa alam raya ini tidak memiliki perasaan samasekali, misalnya ia bergerak dalam bentuk kebetulan dan tidak diinginkan, sehingga menjadikan angin bergerak dan awan berpindah lalu hujan turun.

 

Allah Swt berdasarkan pengaturan yang sangat bijaksana ini, menjadi perantara dan penyebab perubahan-perubahan alam, seperti maraknya kehidupan di muka bumi, kemudian terkoordinasinya angin dan hujan. Berbagai fenomena alam ini tidak hanya merupakan sebuah dalil atas tauhid dan Kesaan Allah sebagai pencipta jagat raya ini, tetapi ia merupakan pertanda bahwa kiamat akan terjadi setelah kehidupan manusia berakhir dan setelah kematian semua makhluk di jagat raya ini.

 

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Mengenal alam dan menyingkap undang-undang yang ada padanya, tidak boleh menyebabkan seorang manusia lupa terhadap dasar-dasar alam.

2. Kematian bukan berarti musnah dan hancur, tetapi ia merupakan perubahan keadaan, sekalipun bumi mati tetapi bukan berarti bumi tersebut tidak ada.

 

Ayat ke 58

 

Artinya:

Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur. (7: 58)

 

Pada ayat sebelumnya telah disinggung bahwa turunnya hujan merupakan rahmat Allah Swt. Lalu ayat ini menyatakan, kendatipun turunnya hujan itu merupakan sumber kehidupan dan rahmat Allah, namun pemanfaatan air hujan tersebut secara baik akan semakin membantu pada kesuburan bumi. Tanah yang subur akan menjadi resapan air, sehingga akan menumbuhkan tanaman-tanaman hijau yang segar. Tetapi berbeda dengan tanah yang keras dan tandus, maka ia tidak memiliki kemampuan untuk meresap air, ia bahkan akan menjadi tanah tandus dan kering yang akan memberikan bau kurang sedap dan mengganggu orang lain. Memang dengan turunnya air hujan bisa merubah tabiat tanah tersebut, sehingga bunga-bunga tulip pun mulai bertumbuhan dan tanah kering dan tandus itu menjadi subur.

 

Ayat-ayat al-Quran juga merupakan rahmat Ilahi, yang apabila dibacakan pada hati yang telah siap, maka ia akan menumbuhkan kehidupan maknawi manusia. Namun berbeda bila al-Quran itu dibacakan kepada orang-orang yang berhati keras, maka ia semakin menimbulkan keras kepala dan acuh tak acuh dan sedikit pun tidak akan menimbulkan kesadaran terhadap kebenaran.

 

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Untuk memberikan hidayat dan petunjuk kepada manusia, turunnya rahmat tidaklah cukup, namun yang penting kemampuan dan kesiapan hati untuk menerima petunjuk tersebut.

2. Kebersihan hati meluruskan jalan menuju kebahagiaan, sedangkan kekotoran sumber kegelapan dan kesesatan.

 

Ayat ke 59-60

 

Artinya:

Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: "Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya". Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat). (7: 59)

 

Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata: "Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata". (7: 60)

 

Ayat-ayat ini merupakan salah satu contoh dari "lahan atau tanah jelek", yang telah disinggung pada ayat sebelumnya dan juga dijelaskan mengenai peristiwa Nabi Nuh dan kaumnya. Sebuah kaum yang berdasarkan ayat-ayat lainnya dalam al-Quran, sepanjang 950 tahun telah mendengar nasehat dan bimbingan Nabi Nuh as, namun mereka tidak menerima nasehat dan bimbingan tersebut, bahkan mereka bersikap dalam menghadapi beliau as. Pada akhirnya mereka menistakan dan menganiaya Nabi Nuh as, sehingga Allah Swt menurunkan azab kepada mereka. Dua ayat ini mengatakan, Nabi Nuh as mengajak umat manusia agar menyembah Tuhan yang Maha Esa. Bahkan mereka diseru untuk menuju kepada jalan Allah, namun para pembesar kaumnya yang selalu menjadi panutan justru menyebut Nuh as sebagai bodoh dan sesat. Akhirnya masyarakat tidak lagi mendengarkan nasehat dan pernyataan Nuh as. Dengan demikian beliau memperingatkan masyarakat akan azab yang diturunkan Allah di dunia dan di akhirat.

 

Dari dua ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Pernyataan dan seruan para nabi sepanjang sejarah adalah menyembah Tuhan yang Maha Esa, sejak dari Nabi Nuh hingga Nabi Muhammad Saw.

2. Sepanjang sejarah para penentang utama para nabi adalah kaum arogan dan berduit yang sombong, dimana harta dan dunia menjadi tujuan utama mereka, sehingga kekayaan dan kekuasaan sebagai alat untuk memperdaya masyarakat.

 

Ayat ke 61-62

 

Artinya:

Nuh menjawab: "Hai kaumku, tak ada padaku kesesatan sedikitpun tetapi aku adalah utusan dari Tuhan semesta alam". (7: 61)

 

"Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku memberi nasehat kepadamu. dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui". (7: 62)

 

Dalam menjawab berbagai pertanyaan kaum arogan yang sepenuhnya tidak mengindahkan penghormatan yang menyebut Nabi Nuh sebagai sesat dan menyimpang, ternyata Nabi Nuh as tidak terpancing dengan pernyataan yang keji dan jelek tersebut, bahkan beliau tidak terseret kepada kesesatan mereka. Beliau as mengatakan, tidakkah aku sudah menyatakan kepada kalian bahwa aku bukanlah orang yang tersesat, tetapi aku justru adalah utusan Tuhan yang menyampaikan pesan-pesan Allah Swt kepada kalian semua. Allah Swt bukan saja sebagai Tuhan kalian, tapi Dia adalah Tuhan semesta Alam. Aku hanya menginginkan kebaikan kalian, apa yang aku katakan bukanlah tipudaya, tetapi wahyu diturunkan kepadaku.

 

Dari dua ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Untuk menghadapi segala pelecehan kaum jahiliyah, kita harus bisa sabar dan tegar, tidak boleh kita hadapi dengan balas dendam.

2. Seorang pembimbing dan mubaligh harus mempunyai sifat ingin memperbaiki dan komitmen terhadap masyarakat, mereka harus alim dan mengerti sehingga masyarakat tidak terseret kepada kebatilan.

3. Para nabi harus menguasai berbagai ilmu pengetahuan, sehingga masyarakat juga dapat memanfaatkannya. (IRIB Indonesia)

Tags:

Comments

Name
Mail Address
Description