Tafsir Al-Quran, Surat Al-Araf Ayat 49-52

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

 

Ayat ke 49

 

Artinya:

(Orang-orang di atas A'raaf bertanya kepada penghuni neraka): "Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah?". (Kepada orang mukmin itu dikatakan): "Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati". (7: 49)

 

Pada pembahasan sebelumnya telah dipelajari percakapan Ahli A'raf dengan penghuni surga dan neraka. Pada akhir ayat ini dapat didengarkan pula seruan ahli A'raf ini yang berkata kepada orang-orang yang sombong, "Tidakkah kalian lihat betapa kekuasaan dan kekayaan kalian tidak mampu berbuat apa pun untuk menyelamatkan kalian dari api neraka?"

 

Ayat yang merupakan lanjutan dari ayat sebelumnya ini, mengatakan, "Bukankah para penghuni surga ini adalah orang-orang yang selalu kalian hina di dunia. Kepada mereka kalian mengatakan, "Kami adalah orang-orang yang dicintai oleh Allah. Oleh karena itu, Allah memberikan kedudukan dan kekayaan kepada kami dan kamilah orang-orang yang mendapatkan rahmat Allah di dunia dan di akhirat!"

 

Akan tetapi sekarang saksikanlah bahwa dengan segala ketenangan jiwa dan hati, mereka yang kalian hina itu, kini masuk ke dalam surga. Sedangkan kalian kaum penyombong dan arogan, yang merasa lebih baik daripada mereka, kini mendapat kehinaan dengan menghuni neraka jahannam.

 

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Untuk mendapatkan rahmat Allah yang diperlukan ialah iman dan amal saleh, bukan kekayaan dan kedudukan. Kemiskinan dan ketidakterkenalan di dunia bukan menandakan terjauhnya seseorang dari nikmat-nikmat surga.

2. Untuk memberikan penilaian janganlah tergesa-gesa. Karena di Hari Kiamat akan menjadi jelas, siapa yang akan menghuni surga dan siapa pula yang akan menghuni neraka. Karena pembagian surga dan neraka bukan di tangan kita, dan kita tidak berhak menyatakan sesuatu yang menurut kita tidak bernilai sebagai penghuni neraka.

 

Ayat ke 50

 

Artinya:

Dan penghuni neraka menyeru penghuni surga: "Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah direzekikan Allah kepadamu". Mereka (penghuni surga) menjawab: "Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir. (7: 50)

 

Setelah percakapan ahli A'raf dengan penghuni surga dan neraka, sebagaimana yang telah disinggung pada ayat-ayat sebelumnya, ayat ini menjelaskan kondisi penghuni neraka dan surga yang masing-masing ketika mereka masuk ke neraka atau ketika mereka meraskan nikmat, mengatakan, "Begitu dahsyatnya api neraka itu membakar, sehingga permintaan pertama para penghuni neraka adalah air. Karena mereka tidak bisa berharap kepada para penjaga neraka, maka mereka meminta kepada para penghuni surga agar memberikan sedikit air atau minuman-minuman lainnya yang mereka peroleh di surga kepada mereka untuk menghilangkan dahaga yang menyiksa mereka. Tetapi penghuni surga tidak berhak memberikan kenikmatan surga kepada penghuni neraka, meski hanya setetes air.

 

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Mereka yang hanya berpikir untuk mencari dan mengumpulkan harta dunia, kelak di akhirat akan mendapatkan kesia-siaan, bahkan kerugian besar.

2. Mereka yang di dunia tidak mengindahkan hukum-hukum Allah, dan menghalalkan hal-hal yang telah diharamkan oleh Allah Swt, tidak akan mencapai nikmat-nikmat surga. Bahkan air pun diharamkan bagi mereka.

 

Ayat ke 51

 

Artinya:

(yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka". Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami. (7: 51)

 

Pada ayat sebelumnya telah dijelaskan mengenai keluh kesah para penghuni neraka yang meminta air kepada para penghuni surga. Sedangkan ayat ini menegaskan bahwa apabila pada Hari Kiamat mereka berada dalam kondisi semacam itu di dalam neraka, maka yang demikian itu bukan berarti Kami (Allah) telah menzalimi mereka. Karena hal itu merupakan hasil perbuatan mereka sendiri di dunia. Kami telah mengirimkan para nabi yang memberikan peringatan kepada mereka. Akan tetapi, bukannya berpikir dan mencari serta menerima kebenaran, mereka justru mentertawakan dan mengejek para nabi itu, lalu tetap saja mengejar kekayaan dan kesenangan dunia, seraya mengabaikan ajaran-ajaran Ilahi. Mereka mengira tidak akan ada kiamat, tidak ada perhitungan amal dan tidak ada neraka dan surga. Semua itu mereka anggap hanya sebagai permainan dan omong kosong.

 

Sudah barang tentu mereka ini sama sekali tidak berbuat apa pun untuk  bekal akhirat. Sehingga ketika di hari itu, mereka tidak memiliki apa-apa selain kerugian dan siksa yang kekal di neraka.

 

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Orang-orang kafir menjadikan masalah agama yang merupakan perkara serius sebagai main-main dan senda gurau. Sedangkan Dunia ini tidak lebih daripada sebuah permainan yang mereka seriusi.

2. Kesenangan dan kenikmatan dunia hanyalah fatamorgana. Kecintaan kepada dunia adalah sumber kelalaian dari akhirat, bahkan keingkaran terhadapnya.

 

Ayat ke 52

 

Artinya:

Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al Quran) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (7: 52)

 

Ayat sebelum ini berbicara tentang orang-orang kafir yang mempermainkan agama. Sedangkan Ayat ini mengatakan bahwa agama tidak lain adalah jalan yang diberikan kepada manusia agar mendapat petunjuk yang diturunkan oleh Allah kepada umat manusia dalam bentuk kitab dan undang-undang. Ayat-ayat dan ajarannya selalu cocok dengan akal dan fitrah manusia yang dapat diperinci dengan logika dan ilmu pengetahuan. Akan tetapi orang-orang kafir tidak bersedia menerima hidayah Ilahi yang sebenarnya merupakan rahmat. Tanpa menggunakan logika yang lurus mereka mengingkari dan mendustakan agama Allah. Hanya ahli Imanlah yang dapat memanfaatkan petunjuk dan rahmat Allah ini.

 

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Allah Swt telah menyempurnakan hujjah-Nya atas semua manusia melalui kitab-kitab samawi, sehingga dengan demikian Allah telah menyempurnakan anugerah dan rahmat-Nya kepada umat manusia, juga tidak ada peluang lagi bagi manusia untuk membela diri dan mengatakan, "Saya tidak mengetahui dan tidak mengenal kebenaran."

2. Wahyu Allah Swt berdasarkan pengetahuan Allah akan keperluan manusia dan pengetahuan Allah akan jalan-jalan kesempurnaan dan kebahagiaan manusia. Dengan kata lain, ajaran agama atau syariat senantiasa sejalan dengan penciptaan manusia. (IRIB Indonesia)

Tags:

Comments

Name
Mail Address
Description