Tafsir Al-Quran, Surat Al-Araf Ayat 20-23

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

 

Ayat ke 20-21

 

Artinya:

Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: "Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)". (7: 20)

 

Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. "Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua". (7: 21)

 

Meskipun pada penjelasan sebelumnya telah disebutkan bahwa setelah terusirnya setan dari sisi Allah Swt, lalu dia bersumpah untuk melakukan balas dendam mengenai perkara ini kepada Adam. Karena itu, hal inilah yang menyebabkan setan terusir dari sisi Allah Swt. Dalam ayat ini disinggung awal mula bisikan dan godaan setan dan mengatakan, melalui bujukan dan bisikan setan yang menyesatkan, akhirnya Adam dan Hawa memakan buah dari pohon terlarang itu.

 

Yaitu, setan dengan menampakkan bentuk lahirnya, lalu berkata kepada keduanya, "Sesungguhnya Tuhan telah melarang kalian berdua untuk mendekat dan memakan pohon ini, dikarenakan apabila kalian memakannya, pastilah kalian akan seperti malaikat yang bisa abadi dalam umurnya. Adam dan Hawa yang sebelumnya tidak pernah mendengar kebohongan seseorang, bahkan  sebuah pengalaman pun mengenai itu tidak pernah mereka alami, maka mereka berdua termakan oleh tipuan dan bujuk rayu setan, sehingga mereka berdua lupa terhadap perintah dan larangan Allah Swt. Tujuan utama setan mengekspos malu Adam dan Hawa dengan menyingkap kain penutup mereka, sehingga dengan tanpa busana apapun akan menjadi perantara bagi keduanya untuk melakukan pelanggaran dan dosa-dosa berikutnya."

 

Dari dua ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Setan tidak mampu memaksa seseorang pun. Setan hanya mampu membisiki, merayu, meragukan dan menyesatkan, tapi kita sendiri yang menentukan pilihan.

2. Terbukanya kain penutup dan telanjang merupakan tujuan setan. Karena itu berhati-hatilah kita jangan melakukan pekerjaan apapun di saat kain penutup kita terbuka.

3. Setan memiliki kesempatan menipu manusia melalui jalur angan-angan yang panjang, seperti kesejahteraan, santai dan ketenangan abadi.

4. Kita tidak boleh percaya terhadap setiap sumpah setia, dimana setan juga disebutkan melakukan sumpah.

 

Ayat ke 22

 

Artinya:

Maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: "Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: "Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?" (7: 22)

 

Setan telah berhasil membentangkan perangkapnya, sedang Adam dan Hawa kini telah memakan buah pohon terlarang itu, sehingga aurat keduanya terbuka dengan jelas dan masing-masing dapat saling pandang. Oleh karena itu, keduanya terpaksa berusaha menutupinya dengan dedaunan yang ada disekitar kebun surga itu. Maka pada waktu itulah terdengar suara seruan Tuhana yang mengatakan, "Kenapa kalian telah melupakan perintah dan larangan Tuhan dan mengikuti tipu daya setan? Tidakkah kalian mengetahui bahwa setan telah kecewa dan terluka hatinya, dia bertekad untuk menuntut balas kepada kalian, karena itu setan adalah musuh kalian yang nyata ?"

 

Dari ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Kaum wanita dan lelaki, keduanya masuk dalam sebuah timbangan yang sama dalam bisikan dan rayuan setan. Karena tidak ada perbedaan jenis kelamin dalam melakukan dosa dan pelanggaran.

2. Telanjang dan melucuti pakaian merupakan sejenis siksaan Allah Swt. Itu bukan menujukkan kesempurnaan dan peradaban, tapi pengabaian terhadap firman-firman Allah. Memakan makanan yang haram akan memudahkan jalan terbukanya aib dan aurat yang memalukan.

3. Memakai kain penutup aurat merupakan perkara fitrah. Karena semua manusia sejak usia kanak-kanak selalu mencari kain penutup aurat, sekalipun dengan menggunakan kain yang sangat sederhana sekali

4. Kita harus mengenal musuh pribadi yang sebenarnya. Karena itu janganlah kita lupa dan lengah terhadap musuh tersebut. Untuk menghadapi musuh kita harus siap dan jangan lengah ataupun lupa.

 

Ayat ke 23

 

Artinya:

Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. (7: 23)

 

Sekalipun Nabi Adam dan Istrinya termakan tipuan dan bujuk rayu setan, namun beliau dengan cepat sadar atas kesalahan dan kekhilafan tersebut. Dengan penuh penyesalan beliau berdoa ke hadirat Allah Swt memohon ampunan, "Ya Allah, kami telah menzalimi diri kami sendiri, karena itu ampunilah segala kesalahan dan kekhilafan kami". Meski setan dan Adam masing-masing telah melanggar dan tidak patuh terhadap perintah Allah Swt, namun Adam as di samping memohon ampunan kepada Allah, beliau juga bertaubat, menyadari atas ketidak patuhannya terhadap keadilan dan hikmah Tuhannya. Nabi Adam dan Ibu Hawa terus berusaha menebus kesalahan dan kekhilafan mereka tersebut dengan taubat dan mohon ampunan. Sedang setan diusir dari sisi Allah dan terkena kutukan Tuhan. Lalu Nabi Adam dan Istrinya Hawa mendapatkan ampunan dan rahmat Allah Swt.

 

Dari ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Ketidakpatuhan kepada Tuhan merupakan perbuatan aniaya kepada diri sendiri, dan bukan Allah yang zalim dan menyiksa. Dosa manusia tidak membahayakan Allah Swt, tetapi justru akan merusak reputasi kami.

2. Adam dan Hawa, meski keduanya sama-sama berbuat dosa, namun dalam melakukan taubat dan memohon ampunan baik wanita maupun laki-laki tidak ada bedanya. Karena pada dasarnya seseorang yang ingin memperoleh kesempurnaan atau kehinaan akhlak, jenis kelamin tidak ada bedanya.

3. Hanya di sisi Allah Swt saja kita memiliki hak untuk mengaku terhadap dosa, sedang pengakuan semacam ini merupakan pengantar dari pemberian ampunan.

4. Dosa adalah nilai kerugian manusia dan semata-mata dengan taubatlah nilai rugi dan dosa tersebut dapat ditebus. (IRIB Indonesia)

Tags:

Comments

Name
Mail Address
Description