Tafsir Al-Quran, Surat Al-Araf Ayat 170-174

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

Ayat ke 170

 

Artinya:

Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan Al Kitab (Taurat) serta mendirikan shalat, (akan diberi pahala) karena sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengadakan perbaikan. (7: 170)

 

Sebelumnya telah dijelaskan bagaimana al-Quran mengkritik orang-orang Ahlul Kitab yang selalu memikirkan kepentingan materi dan dunia mereka, sehingga meninggalkan dan melupakan perintah-perintah yang dikandung dalam kitab suci mereka. Pada ayat ini al-Quran memuji kelompok Ahlul Kitab yang tetap berpegang teguh pada perintah dan ajaran-ajaran Taurat, khususnya mengenai shalat dan munajat. Di seluruh ajaran agama-agama samawi, shalat memiliki kedudukan yang penting dan tinggi, serta disebut sebagai cahaya agama.

 

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Menghafal dan membaca ayat-ayat suci kitab samawi tidaklah cukup, karena yang penting ialah melaksanakan apa yang terkandung dalam kitab suci tersebut, sehingga kita dapat memperoleh keselamatan dan kebahagiaan.

2. Pembenahan dan perbaikan pribadi dan masyarakat merupakan salah satu bentuk pelaksanaan perintah agama. Karena itu, orang-orang yang mengklaim diri sebagai reformis masyarakat tidak akan berhasil mengantarkan masyarakat ke jalan yang lurus, bila mereka tidak menghiraukan ajaran-ajaran Ilahi ini.

 

Ayat ke 171

 

Artinya:

Dan (ingatlah), ketika Kami mengangkat bukit ke atas mereka seakan-akan bukit itu naungan awan dan mereka yakin bahwa bukit itu akan jatuh menimpa mereka. (Dan Kami katakan kepada mereka): "Peganglah dengan teguh apa yang telah Kami berikan kepadamu, serta ingatlah selalu (amalkanlah) apa yang tersebut di dalamnya supaya kamu menjadi orang-orang yang bertakwa". (7: 171)

 

Ayat ini merupakan ayat terakhir dari surat al-A'raf yang berbicara mengenai Bani Israil. Ayat ini menyebutkan satu lagi mukjizat Ilahi yang dapat dilihat oleh kaum Bani Israil dengan mata kepala mereka. Pada saat itu, Nabi Musa kembali dari Bukit Thur dengan membawakan lempengan-lempengan Taurat untuk disampaikan kepada kaumnya. Namun Bani Israil menentang Nabi Musa as dan tidak menerima perintah-perintah Ilahi. Pada saat itulah, Allah Swt mengangkat Bukit Thur dari tempatnya dan dibiarkan berada di atas kepala kaum Bani Israil. Akibatnya, mereka merasa ketakutan, lalu bersujud dan berjanji untuk taat kepada ajaran agama. Namun, kemudian kaum Bani Israil tetap saja mempermainkan agama.

 

Dari ayat tadi terdapat tiga poin pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Kadang-kadang Allah Swt perlu menunjukkan kekuasaan-Nya kepada masyarakat, sehingga mereka tersadarkan dari kelalaian mereka.

2. Kitab samawi harus dipegang teguh dan diamalkan secara konsekuen.

3. Kita tidak cukup hanya mempelajarai berbagai ajaran dan perintah Ilahi, namun juga harus senantiasa memgingat-ingatnya agar tidak lupa dan tidak berbuat hal-hal yang di luar ajaran itu.

 

Ayat 172-174

 

Artinya:

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)". (7: 172)

 

Atau agar kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?" (7: 173)

 

Dan demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu, agar mereka kembali (kepada kebenaran). (7: 174)

 

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa kebutuhan umat manusia terhadap kekuasaan dan pengaturan Tuhan adalah suatu hal yang fitrah, yang telah tertanam dalam jiwa manusia sejak ia dilahirkan. Ayat ini menceritakan saat ketika Allah menerima janji-janji dari umat manusia yang berisi pengakuan di atas ketuhanan Allah Swt. Kelak di Hari Kiamat, Allah akan menanyai setiap manusia tentang pelaksanaan janji yang pernah mereka  ucapkan itu. Meskipun dalam al-Quran tidak dijelaskan bagaimana bentuk pengambilan janji tersebut, namun para mufassir telah menjelaskan masalah ini. Sebagian mufassir menyatakan bahwa ketika benih manusia keluar dari sulbi bapak dan tertanam dalam rahim ibu, Allah telah menanamkan fitrah keimanan dan keinginan untuk mencari kebenaran kepada-Nya dan fitrah ini diberikan Tuhan kepada semua manusia.

 

Oleh sebab itu, setiap orang pasti memiliki kecenderungan dalam hatinya untuk mengenal Allah Swt dan bergerak menuju ke jalan-Nya. Fitrah yang ditanamkan oleh Allah kepada seluruh manusia ini merupakan sebuah hujjah bagi semua umat manusia. Kelak pada Hari Kiamat, mereka tidak bisa lagi berkata, "Kami menjadi musyrik karena mengikuti ayah-ayah kami, sehingga tidak ada jalan lain bagi kami," atau, "Kami terlupa terhadap masalah ini dan tidak memiliki pengetahuan tentang Tuhan pencipta jagat raya ini."

 

Dari tiga ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Mencari dan mengenal Tuhan merupakan sebuah fitrah yang sebelumnya telah ditanamkan Allah kepada semua umat manusia. Fitrah itu akan tetap ada dalam jiwa manusia dan tidak akan terpengaruh oleh berbagai perubahan kehidupan manusia sepanjang sejarah, bahkan oleh majunya teknologi dan peradaban.

2. Menghormati nenek moyang tidak boleh menyebabkan manusia melakukan penyimpangan dari kebenaran. Karena itu, mengikuti jejak nenek moyang dalam hal pemikiran dan keyakinan yang batil tidak bisa dijadikan justifikasi. (IRIB Indonesia)

Tags:

Comments

Name
Mail Address
Description