Tafsir Al-Quran, Surat Al-Anam Ayat 50-52

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

 

Ayat ke 50

 

Artinya:

Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: "Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?" Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?"  (6: 50)

 

Banyak orang yang menyangka bahwa ketika seseorang menjadi  nabi, maka seluruh perkara alam akan berada di tangannya, dan dapat menyelesaikan segala urusan melalui jalan gaib. Apa saja yang ia inginkan akan terlaksana, dan siapa pun yang menentangnya akan hancur binasa. Karena itu lewat ayat ini, Nabi Muhammad Saw diperintahkan agar menjelaskan kepada umat manusia, bahwa tugas seorang nabi adalah hal-hal lain yang lebih peting. Seorang nabi bertugas menyeru umat manusia menuju kepada Tuhan dan menyampaikan pesan-pesan Allah Swt. Seorang Nabi bukan peramal, yang memberitakan masa lalu dan masa depan orang lain; bukan pula malaikat yang tidak memiliki kebutuhan jasmani, seperti makan minum dan istri.

 

Berbagai mukjizat yang keluar dari seorang nabi pun, tak lain adalah  dalam kerangka kehendak dan izin Allah; bukan terjadi dengan keinginan sekehendak hati manusia, dimana apa saja yang diinginkan oleh seseorang maka  nabi berkewajiban menunjukkan mukjizat.  

 

Akhir ayat ini meminta kepada umat manusia agar tidak bersandar kepada penglihatan dan pendengaran saja, serta mengharap menyaksikan perbuatan-perbuatan ajaib dan luar biasa. Hendaknya mereka juga mengerahkan daya pikir, dan menerima kebenaran dengan pikiran. Karena tanpa pemahaman akal, maka seorang yang keras kepala, tetap saja akan mengingkari segala sesuatu yang dilihatnya, dan keadaannya tidak beada dengan orang yang buta dan tuli.

 

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:‎

1.  Sikap para nabi terhadap masyarakat selalu berdasarkan kejujuran. Jika mereka tidak memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu, maka mereka akan mengatakan yang demikian itu kepada masyarakat.

2.  Memberantas kesewenang-wenangan dan khurafat merupakan salah satu dari program-program para  nabi.

 

Ayat ke 51

 

Artinya:

Dan berilah peringatan dengan apa yang diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dihimpunkan kepada Tuhannya (pada hari kiamat), sedang bagi mereka tidak ada seorang pelindung dan pemberi syafa'atpun selain daripada Allah, agar mereka bertakwa.  (6: 51)

 

Ayat sebelumnya yang mengatakan bahwa orang yang bisa melihat dengan orang yang tidak bisa melihat tidaklah sama, dan menerima kebenaran diperlukan pemikiran dan penelitian. Ayat ini mengatakan, meskipun Nabi Muhammad Saw telah menyeru semua orang kepada kebenaran dan mengingatkan mereka tentang akibat-akibat perbuatan buruk mereka, namun tidak semua orang menerima dan memperhatikan seruan  beliau.  Hanyasejumlah orang yang menerima peringatan, lalu jiwa mereka siap menerimanya, atau minimal mereka menerima kemungkinan adanya perhitungan amal perbuatan, dimana setiap orang harus bertanggung jawab atassemua perbuatannya.  

 

Lanjutan ayat ini mengatakan, satu-satunya sandaran manusia pada Hari Kiamat adalah Allah Swt, dan tak seorangpun atau suatu apapun yang dapat menyelamatkan manusia. Pandangan ini dapat menjadikan manusia bertakwa dan menjauhkan diri dari perbuatan dosa.

 

Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:‎

1.  Adanya para pembimbing yang lembut dan tabah, serta program pendidikan yang sesuai tidaklah cukup. Diperlukan juga adanya keseiapan untuk menerima kebenaran di pihak manusia yang menjadi sasaran dakwah.

2.  Keyakinan kepada Hari Kebangkitan dan adanya pengadilan di Hari Kiamat adalah faktor pendorong untuk menerima takwa, dan menjadikan takwa sebagai pijakan dalam setiap amal perbuatan.

 

Ayat ke 52

 

Artinya:

Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaan-Nya. Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka dan merekapun tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, (sehingga kamu termasuk orang-orang yang zalim).  (6: 52)

 

Dalam beberapa riwayat sejarah disebutkan bahwa sebagian orang kaya Musyrikin Mekah mengusulkan kepada Nabi Muhammad Saw, bahwa orang-orang miskin seperti Amar bin Yasir dan Bilal, hendaknya dijauhkan dari  beliau  agar orang-orang kaya ini bersedia menerima Islam dan datang kepada Nabi. Sebagian Muslimin juga berkata kepada Nabi Saw, kita terima saja usul mereka itu. Karena kekayaan mereka itu akan menjadi penopang perekonomian muslimin yang lainnya.

 

Dalam keadaan seperti itu, turun ayat yang berbicara kepada Nabi  Saw, sebagai berikut, jangan sekali-kali engkau menjauhkan mukminin yang sesungguhnya dari dirimu, karena yang demikian itu adalah kezaliman yang besar. Sesungguhnya Ayat ini menolak segala bentuk rasialisme, dan menganggapnya bertentangan dengan ajaran agama yang menyeru kepada persaudaraan serta persatuan. Seseorang tidak memiliki kelebihan daripada orang lain, dan tidak mungkin sekelompok orang diperlakukan secara khusus karena kemampuan harta dan kekayaannya. Perhitungan bagi setiap orang berada di tangan Allah Swt. Dan Allah berbuat sesuai dengan pengetahuan-Nya. Sedangkan dasar pemberian pahala dan balasan adalah iman dan amal saleh, bukan status ekonomi dan sosial.

 

Dari ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Mempertahankan manusia mukhlis dan mujahid, sekalipun mereka miskin, lebih penting dari menarik investasi orang kafir.

2.  Islam adalah ajaran yang memberantas segala bentuk rasialisme dan diskriminasi.

3.  Perhitungan amal perbuatan setiap orang hanya di tangan Allah, bahkan Nabi Saw pun tidak bertanggung jawab terhadap perbuatan orang lain. Karena itu kita juga tidak berhak menyatakan orang-orang itu masuk ke surga atau neraka.

4.  Doa dan munajat akan memiliki arti besar jika dilakukan dengan niat mendekatkan diri kepada Allah serta mencari keridhaan-Nya. Amal perbuatan semata-mata tidaklah cukup, tetapi motivasi amal tersebut adalah hal yang penting. (IRIB Indonesia)

Tags:


1Comments

Comments

Name
Mail Address
Description