Tafsir Al-Quran, Surat Al-Anam Ayat 141-144

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

Ayat ke 141

 

Artinya:

Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. (6: 141)

 

Pada penejelasan sebelumnya telah disinggung mengenai orang-orang Musyrik Mekah yang telah menazarkan sebagian dari peternakan mereka untuk berhala-berhala sesembahan mereka. Sementara sebagian lainnya mereka serahkan untuk Allah Swt. Disebutkan juga bahwa perbuatan mereka ini merupakan penyelewengan dan bidah. Pada ayat ini disebutkan bahwa bagian Allah harus diberikan kepada kaum fakir miskin dan anak-anak yatim. Bagian ini tidak dibatasi hanya pada binatang ternak saja, tapi mencakup produksi pertanian dan perkebunan.

 

Berbeda dengan orang-orang yang telah mengambil seluruh hasil untuk diri mereka sendiri dan tidak memisahkan bagian untuk kaum fakir miskin. Sementara sebagian orang justru menyerahkan seluruh penghasilan mereka kepada kaum fakir miskin. Al-Quran menyinggung dua perbuatan ekstrim ini.Disebutkan bahwa sekalipun mereka telah menginfakkan semua hasil-hasil mereka dijalan Tuhan, namun hal ini dianggap pemborosandan hal itu sangat dilarang. Karena Islam merupakan jalan yang lurus dan adildanbukan jalan ekstrim terkaitkaum fakir miskin.Bukan pula keterlaluan serta tidak memperhatikan kebutuhan diri sendiri dan keluarga.

 

Karena itulah dalam ayat 67 surat al-Furqan juga disebutkan yang artinya,"Dan orang-orangyang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) ditengah-tengah antara yang demikian."

 

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Bentuk, jenis dan rasa beraneka macam buah, serta tumbuh-tumbuhan yang tumbuh diatas tanah dengan disirami air yang sama, menunjukkan tanda-tanda kebesaran Allah Swt.

2. Air, tanah, cahaya dan oksigen merupakan dasar tumbuhnya tanaman-tanaman tersebut dengan kekuasaan Allah.Sebenarnya seluruh hasil-hasil tanaman tersebut ditentukan oleh Allah Swt.Karena itu berinfaklah dijalan Tuhan dan janganlah kita pelit, karena jika tidak berarti sebagai tanda ketidaktahuan terhadap kebenaran.

 

Ayat ke 142

 

Artinya:

Dan di antara hewan ternak itu ada yang dijadikan untuk pengangkutan dan ada yang untuk disembelih. Makanlah dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.(6: 142)

 

Ayat ini menekankan satu poin bahwa segala suatu adalah ciptaan Allah Swt, baik itu pepohonan maupun rumput-rumputan yang tumbuh diatas tanah tanpa nyawa, ataupun binatang-bintang kecil dan besar yang kalian bisa memanfaatkannya. Semua itu adalah makhluk Allah yang tentunya untuk memanfaatkannya harus dengan ijin Allah Swt. Sedang berhala-behala atau yang lainnya tidak memiliki peranan apapun,karena itu mereka tidak berhak untuk mendapatkan bagian. Allah menciptakan hewan-hewan seperti kuda, onta dan lain sebagainya bisa kalian ajari dan jinak, sehingga dapat membawakan barang-barang kalian.Sedang binatang-binatang kecil seperti kambing dan lainnya sebagainya dapat kalian kuasai, sehingga kalian bisa menyembelihnya dan memanfaatkan daging dan kulitnya.

 

Namun, ayat ini juga melarang segala bentuk penggunaan yang berlebih-lebihan terhadap binatang-binatang tersebutdanmengatakan,janganlah kalian seperti orang-orang Musyrik, yang telah membiarkan binatang-binatang tersebut setelah disembelih dan tidak memanfaatkannya, bahkan mengharamkan daging binatang itu. Janganjugakalian seperti orang-orang yang tidak mengikuti undang-undang Tuhan, yakni tidak memperhatikan halal dan haram, bahkan menetapkan halal memakan binatang-binatang yang telah diharamkan oleh Allah.

 

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Memakan bangkai dewasa ini sudah umum dilakukan oleh sebagian kelompok dan aliran agama dan hal ini bukanlah pesan agama Islam.

2. Kita harus teliti terhadap makanan yang akan kita makan, salah satu tipu daya setan untuk menyesatkan Nabi Adam as melalui makanan.

 

Ayat ke 143-144

 

Artinya:

(yaitu) delapan binatang yang berpasangan, sepasang domba, sepasang dari kambing. Katakanlah: "Apakah dua yang jantan yang diharamkan Allah ataukah dua yang betina, ataukah yang ada dalam kandungan dua betinanya?" Terangkanlah kepadaku dengan berdasar pengetahuan jika kamu memang orang-orang yang benar. (6: 143)

 

Dan sepasang dari unta dan sepasang dari lembu. Katakanlah: "Apakah dua yang jantan yang diharamkan ataukah dua yang betina, ataukah yang ada dalam kandungan dua betinanya? Apakah kamu menyaksikan di waktu Allah menetapkan ini bagimu? Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan?" Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.(6: 144)

 

Pada ayat sebelumnya telah dijelaskan bahwa Allah Swt telah menekankan agar memanfaatkan daging dan kulit binatang-binatang yang halal. Bahkan Allah melarang segala bentuk penyelewengan terhadap binatang-binatang tersebut. Ayat-ayat ini menjelaskan secara terperinci mengenai nama binatang-binatang, serta keyakinan orang-orang Musyrik dan mengatakan, Allah Swt telah menetapkan pasangan delapan binatang-binatang untuk kalian,yaitu kambing, biri-biri, unta dan sapi yang masing-masing jantan dengan jenis betinanya secara keseluruhan menjadi delapan.

 

Padahal dalam ayat-ayat sebelumnya telah disebutkan bahwa kaum Musyrikin dalam berbagai kondisi telah mengharamkan binatang jantandanbetinanya.Bahkan kadang-kadang janin yang masih berada dalam perut induknya telah mereka haramkan, padahal Allah Swt telah memesankan bahwa semua itu halal dan dapat dimanfaatkan. Lanjutan ayat ini menyatakan,segala bentuk penyelewengan dan bidah ini adalah suatu kezaliman besar terhadap kebenaran agama Allah yang menyebabkan tersesatnya masyarakat berdasarkan kejahilan dan ketidaktahuan mereka. Sedang mereka harus mempertanggung jawabkan segala tradisi salah yang telah mereka lakukan ini.

 

Dari dua ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Dasar segala jenis makanan yang dikonsumsi adalah halal selama Allah tidak menjelaskan haramnya makanan tersebut.

2. Paraulama Islam dituntut untuk memberantas berbagai penyelewengan dan menjelaskan dengan gamblang kebenaran agama.

3. Berbagai keyakinan dan akidah harus berdasarkan ilmu pengetahuan. (IRIB Indonesia)

Tags:

Comments

Name
Mail Address
Description