Seri Kisah Al-Quran: Kesucian Maryam Ibunda Nabi Isa as (Bagian Kedua, Habis)

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

 

Isa as merupakan salah seorang nabi besar, utusan ilahi. Beliau dilahirkan secara luar biasa. sebagaimana nabi-nabi lainnya, beliau diutus untuk mengajak umat manusia menuju pada kebahagiaan. Al-Quran mengenalkan Nabi Isa as melalui kesucian dan keagungannya, memuji Maryam ibunya yang mulia dan menceritakan hidupnya yang menarik berupa kisah yang indah.

 

Kemuliaan dan kesucian Maryam membuat masyarakat terkesima. Karena kemulian dan kesuciannya inilah masyarakat yang memiliki hajat mendatangi Maryam agar mendoakannya.

 

Pada suatu hari Maryam mendoakan masyarakat, setelah itu beliau pergi ke bagian timur tempat peribadatan di perbukitan dekat kota. Beliau menyukai pemandangan alam daerah itu. Setiap saat ada kesempatan, beliau senantiasa mendatangi tempat itu. Belum seberapa lama, Maryam merasakan ada seseorang (malaikat yang berujud manusia) berdiri di depannya. Dengan penuh rasa khawatir beliau bangkit dan berkata:

 

"Aku berlindung kepada Allah darimu. Bertakwalah!"

 

Seseorang itu berkata, "Aku adalah utusan Tuhanmu. Datang untuk memberikan seorang putra suci kepadamu."

 

Maryam sedih dan takjub seraya berkata, "Bagaimana mungkin aku bisa punya anak sementara tidak seorang laki-laki pun menyentuhku. Sedangkan aku sendiri bukan perempuan pezina?!"

 

Seseorang itu tersenyum dan berkata, "Masalahnya adalah demikian, Tuhanmu berkata, "Perkara ini mudah bagi-Ku. Kami menginginkan putra ini sebagai tanda dan rahmat dari Allah untuk masyarakat."

 

Berselang dari kejadian itu, sedikit demi sedikit sikap dan perilaku Maryam menjadi aneh di mata Zakaria dan istrinya. Dengan beragam alasan ia berusaha menyembunyikan dirinya dari semua orang. Kesedihan telah menghinggapi wajahnya. Orang-orang tidak lagi melihat senyuman manisnya.

 

Suatu hari Zakaria tergesa-gesa datang ke rumah dan kepada istrinya ia bertanya:

 

"Apakah Maryam datang ke sini?"

 

Istri Zakaria menjawab, "Tidak. Hari ini bukan waktunya dia untuk datang ke rumah."

 

Zakaria berkata, "Tapi sejak pagi ia pergi dari tempat peribadatan dan sampai saat ini belum kembali. Sebaiknya kita pergi mencarinya."

 

Malampun berlalu. Zakaria merasa lelah dan putus asa kembali ke rumahnya. Matanya yang sayu menunjukkan bahwa ia tidak berhasil menemukan Maryam.

 

***

 

Maryam telah menjalani bulan terakhir kehamilannya. Sambil menahan rasa sakit, ia berlindung di bawah sebuah pohon kurma yang sudah kering dan berdoa:

 

"Ya Allah! Kasihanilah aku. Keluargaku adalah keluarga yang suci dan bertakwa. Tolonglah aku, supaya aku bisa bersabar di hadapan fitnah yang dituduhkan kepadaku! Seandainya saja aku telah mati dan terlupakan!"

 

Seketika itu sambil menahan rasa sakit, ia mendengar suara dari bawah kakinya berkata:

 

"Ibu, jangan bersedih. Allah telah mengalirkan sungai untukmu di bawah kakimu."

 

Saat itu Maryam belum tersadar, kembali ada suara mengatakan:

 

"Goyangkan  pohon kurma ini ke arahmu, maka akan jatuh kurma-kurma segar. Makanlah kurma ini dan minumlah air itu, bergembiralah dan tenanglah. Bila kau melihat seseorang maka jangan berbicara, dan beri isyarat bahwa hari ini adalah hari diam."

 

Awalnya Maryam tercengang, namun ketika dia teringat bahwa kehamilannya juga terjadi karena kehendak ilahi secara tidak alami, akhirnya dia merasa tenang. Dia mengambil beberapa kurma dan memakannya serta meminum sedikit air kemudian istirahat. Setelah itu dia mengendong bayinya dan berjalan menuju kepada kaumnya.

 

Zakaria sedang sibuk mengerjakan kerajinan kayunya, tiba-tiba Yusuf datang dan berkata:

 

"Zakaria! Maryam datang. Namun..."

 

"Namun apa?"

 

Dia tidak sendirian. Dia membawa seorang anak.

 

Zakaria sebagai seorang nabi dan utusan Allah yang selama ini menunggu kehadiran Isa memahami bahwa kehendak ilahi telah terwujud. Dengan segera ia menemui Maryam dan mendapatinya dikerubuti banyak orang. Masyarakat menghinanya seraya berkata:

 

"Hai saudara perempuan Harun! Ayahmu bukan orang bejat. Ibumu juga bukan perempuan pezina. Bagaimana kau melahirkan anak ini tanpa suami?"

 

Tanpa bicara, Maryam mengisyaratkan mereka agar bertanya kepada anaknya. Serentak muncul gelak tawa dan ejekan dari mereka.

 

Kami harus bertanya kepadanya? Bayi yang baru besusia satu hari? Rupanya kau sedang mempermainkan kami? Bagaimana mungkin bisa berbicara dengan bayi yang masih harus tinggal di dalam ayunan?

 

Tiba-tiba dengan kehendak ilahi anak itu membuka mulutnya dan berkata:

 

"Aku adalah hamba Allah. Dia memberiku al-Kitab dan menjadikan aku seorang nabi. Dia telah menjadikan aku diberkahi di mana saja aku berada dan memerintahkan aku untuk mendirikan shalat dan membayar zakat selama aku hidup, berbakti kepada ibuku dan Dia tidak menjadikan aku orang yang sombong lagi celaka.

 

Salam sejahreta untukku di hari ketika aku dilahirkan dan ketika aku meninggal dan pada hari ketika aku dibangkitkan."

 

Kemudian Isa mengingatkan, "Inilah Isa bin Maryam, ucapan yang benar namun mereka meragukannya."  (IRIB Indonesia / Emi Nur Hayati)

 

Sumber: Surat Maryam

 

Baca juga:

Seri Kisah Al-Quran: Kesucian Maryam Ibunda Nabi Isa as (Bagian Pertama) 

Tags:


1Comments

Comments

Name
Mail Address
Description