Seri Kisah Al-Quran: Burung Kecil Ababil yang Menghancurkan Kesombongan Pasukan Gajah Abrahah

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

 

Raja Negus berhasil menguasai Yaman dan Abrahah, salah satu menterinya kepada salah satu bawahannya berkata, "Kini Yaman telah aku kuasai. Agama Kristen harus aku sebarkan. Para pengikutnya juga harus aku perkuat."

 

Bawahannya berkata, "Wahai Tuanku! Tapi masyarakat setiap tahun pada umumnya pergi ke Mekah untuk menziarahi Kabah. Pertama anda harus melakukan sesuatu sehingga perhatian masyarakat tidak tertuju ke Mekah tapi ke tempat lain!"

 

Abrahah berkata, "Kau betul! Jalan keluarnya mudah. Akan kita bangun gereja mewah dan besar yang bisa menarik perhatian masyarakat. Dari saat itu mereka akan menuju pada gereja itu."

 

Di Sana ada keramaian. Masyarakat dengan takjub melihat gereja besar yang berdiri di kota. Hiasannya membuat setiap orang yang melihatnya terperangah. Kain-kain kordennya menarik perhatian semua orang. Abrahah tahu dengan tipu daya ini ia telah bangkit melawan Kabah. Namun tidak lama kemudian, tibalah musim haji. Masyarakat tidak lagi tertarik dengan gereja buatan Abrah. Mereka berangkat menuju Mekah dengan penuh kecintaan.

 

Abrahah marah ketika melihat bahwa gerejanya tidak mampu menarik perhatian masyarakat. Ia bersumpah akan merusak dan menghancurkan Kabah yang dibangun oleh Ibrahim dan Ismail as. Ia menyiapkan pasukan besar untuk menyerang Kabah.

 

Kabilah-kabilah Arab berkumpul bersama dengan perasaan galau dan khawatir. Salah seorang dari mereka berkata, "Sebuah beban berat bila seorang Habasyah merusak Kabah dan kita hanya diam menyaksikan."

 

Yang lainnya belum apa-apa sudah menyerah seraya berkata, "Bagaimana mungkin kita bisa menghadapi Abrahah? Dia telah bergerak menuju Mekah dengan pasukan berkendaraan kuda dan gajah. Ada juga pasukan yang berjalan. Sikap arogannya telah membuat masyarakat ketakutan. Dzunafar salah seorang bangsawan Yaman telah bangkit melawan pasukan Abrahah, tapi begitu cepat ia mengalami kekalahan. Kini Dzunafar sebagai tawanan Abrahah. Sebaiknya kita menyerah saja kepada Abrahah!"

 

Abrahah dengan sombongnya duduknya di dalam tenda. Penjaganya datang dan berkata, "Abdul Mutthalib, pemimpin Mekah dan pembesar Quraisy sedang berada di luar tenda. Ia mau masuk dan bertemu dengan anda. Abrahah mengizinkan masuk. Begitu Abdul Mutthalib masuk tenda, karena kewibawaan dan kemuliaan Abdul Mutthalib, Abrahah berdiri menyambut dan menghormatinya dan berkata, "Apa yang engkau maukan?".

 

Abdul Mutthalib berkata, "Dikabarkan kepadaku bahwa pasukanmu telah mengambil onta-ontaku. Aku datang untuk mengambilnya kembali."

 

Abrahah berkata, "Aneh! Aku datang untuk menghancurkan Kabah dan merusak pondasi keagunganmu, malah engkau memikirkan onta-ontamu?!"

 

Kemudian Abrahah menghadap kepada para komandan pasukannya seraya berkata, "Bila orang ini memintaku agar aku kembali, maka aku pasti kembali."

 

Dengan tenang Abdul Mutthalib berkata, "Aku adalah pemilik onta-ontaku. Kabah juga memiliki Tuhan yang akan menjaganya."

 

Abrahah tertawa terbahak-bahak dan berkata, "Dengan segera engkau akan melihat kabah hanya tinggal puing-puingnya saja." Abrahah memerintahkan pasukannya untuk mengembalikan onta-onta milik Abdul Mutthalib. Kemudian ia bersama pasukan pengendara gajahnya melanjutkan perjalanannya.

 

Saat itu pasukan Abrahah belum memasuki kota Mekah. Tiba-tiba langit menjadi hitam dan gelap. Burung-burung kecil muncul dan terbang di langit Mekah dan mendekati pasukan Abrahah. Di paruh-paruh mereka terdapat batu-batu kerikil dan menjatuhkannya satu persatu ke atas kepala pasukan Abrahah. Setiap batu menghancurkan setiap orang dari pasukan Abrahah. Mereka ketakutan dan dan melarikan diri. Namun burung-burung itu tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk melarikan diri.

 

Dalam waktu yang singkat, seluruh pasukan Abrahah musnah dan lenyap, termasuk Abrahah, kecuali hanya seorang. Orang itu dengan segera kembali ke Habasyah menghadap Najasyi, Raja Habasyah dan menceritakan peristiwa yang terjadi.

 

Dengan takjub Najasyi berkata, "Bagaimana bentuk burung-burung itu sehingga bisa memusnahkan pasukan yang besar itu? Seketika itu juga muncul seekor burung di langit. Orang itu menunjukkan burung itu kepada Najasyi seraya berkata, "Ini juga termasuk burung yang berbahaya itu. Ucapan orang itu belum selesai, namun saat itu juga burung itu menjatuhkan batu ke atas kepalanya. Ia mati di hadapan mata Najasyi yang sedang keheranan.

 

Dengan cara inilah Allah menunjukkan bahwa Dia adalah pemilik Kabah dan dengan kebijakannya Dia akan senantiasa menjaganya. (IRIB Indonesia / Emi Nur Hayati)

Tags:

Comments

Name
Mail Address
Description