Peringatan Allah dalam Al-Quran: Mengingkari Sebagian Ayat dan Mengimani Lainnya

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

 

Mengingkari Sebagian Ayat dan Mengimani Lainnya

 

"Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud membedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: "Kami beriman kepada yang sebagian dan kami kafir terhadap sebagian (yang lain)", serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan." (QS. an-Nisa: 150-151)

 

Termasuk pengertian yang diperingatkan secara serius oleh al-Quran adalah menolak sebagian tanda-tanda dan perintah ilahi dan hanya mengimani sebagiannya. Naluri manusia selalu mencari cara beragama yang lebih mudah. Manusia menginginkan agama yang tidak membahayakan kepentingannya. Ketika terjadi konflik kepentingan antara keinginannya dan perintah ilahi, di sini setan dengan tipuannya memanfaatkan kesempatan ini untuk menyesatkan manusia. Setan berusaha menjustifikasi dengan pelbagai alasan agar manusia meninggalkan agama yang merugikannya, sementara yang tidak, maka ajaran itu harus dihormati dan diimani. Perilaku ini sudah ada sepanjang sejarah manusia, begitu pula di masa Nabi Muhammad Saw, bahkan sebelum itu, para pengikut Yahudi telah terperangkap dalam masalah ini dan al-Quran mengisyaratkan sikap mereka dalam dua tempat.

 

Dalam ayat 84 surat al-Baqarah, setelah Allah Swt menjelaskan sejumlah janji Bani Israil yang harus dilakukan, selanjutnya Allah menyebutkan bahwa kalian telah melanggar janji yang ada dan saling membunuh satu dengan yang lainnya serta sebagian mengusir yang lain dari tanah airnya. Setelah itu Allah Swt berfirman, "... Apakah kamu beriman kepada sebagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada Hari Kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat." (QS. al-Baqarah: 85)

 

Dalam ayat ini secara transparan telah diperingatkan yang disebutkan dengan akibat buruk dari perbuatan ini.

 

Pada awalnya, Allah Swt dalam ayat ini menyebut kafir hakiki bagi mereka yang mengatakan hanya mengimani sebagian tanda-tanda kebesaran Allah dan mengingkari sebagian lainnya lalu mempersiapkan azab yang menghinakan mereka. Peringatan serius ini ditujukan kepada mereka yang menganggap dapat memilih perintah-perintah ilahi sesuai dengan keinginannya dan meninggalkan apa yang tidak diinginkannya.

 

Melampaui Batas dalam Agama

 

"Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar." (QS. an-Nisa: 171)

 

"Ghuluw" berarti melampaui batas disertai berlebih-lebihan(1) dan ini merupakan masalah yang mungkin terjadi bagi para tokoh agama. Masalah ini merupakan satu sumber kesesatan dalam setiap agama. Semuanya bermula dari manusia yang mencintai dirinya. Cinta ini berkembang kepada para tokoh agama yang dipilihnya dan menuntut mereka lebih dari apa yang ada. Dengan cara ini ia berharap dapat menambah kebesaran diri dan agama yang dipilihnya.

 

Terkadang sifat berlebih-lebihan dalam mempercayai tokoh agama dilakukan dengan motifasi bahwa sikap melampaui batas pribadi tokoh agama berarti telah menunjukkan keimanan dan kecintaannya kepada tokoh itu. Padahal, dalam sikap berlebih-lebihan dan melampaui batas ini selalu ada problem besar yang kembali pada inti agama itu sendiri yaitu penyembahan kepada Allah Swt dan tauhid. Sikap melampaui batas pasti merusak inti agama ini. Karena siapa yang berlebih-lebihan dalam agama berarti menurunkan kesucian dan posisi Allah Swt ke tempat yang rendah.(2) Dengan demikian, Islam sangat ketat mengenai masalah ini(3), dan di dalam al-Quran juga banyak peringatan tentang sikap berlebih-lebihan dalam agama.

 

Selain ayat 171 surat an-Nisa yang secara transparan memperingatkan masalah melampaui batas, banyak ayat lainnya dalam al-Quran yang secara tersirat memperingatkan masalah ini, termasuk ayat-ayat yang menegur orang-orang Yahudi dan Kristen, mengapa mereka menganggap Uzair atau Isa sebagai anak Allah. Karena dengan perbuatan ini mereka lebih mirip dengan orang-orang Kafir dan berpaling dari kebenaran.

 

Dari sekian ayat-ayat yang membicarakan masalah melampaui batas dalam agama dapat disimpulkan bahwa al-Quran juga memperingatkan umat Islam agar tidak bersikap ghuluw. Kesamaannya adalah bila Ahli Kitab dengan ucapan berlebih-lebihan dalam agama diserupakan dengan orang-orang Kafir(4), maka umat Islam juga diperingatkan untuk tidak bersikap melampaui batas. Peringatan ini juga disebutkan dalam hadis Rasulullah Saw  dengan ungkapan yang lebih gamblang, seperti hadis berikut, "Hati-hati kalian dengan sikap melampaui batas dalam agama!"(5)

 

Para Imam Maksum as dengan ucapan dan penjelasan poin-poin yang jelas menyampaikan ketidaksukaannya kepada orang-orang yang bersikap ghuluw. Orang-orang ini beranggapan Allah Swt telah menyerahkan segala urusan dunia, seperti penciptaan, rezeki(6), kematian dan kehidupan kepada para Imam Maksum as, atau para Imam adalah ilmu Allah itu sendiri.(7) Para Imam as sendiri menyatakan berlepas tangan dari orang-orang seperti ini baik secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi. Bukan saja mereka memperingatkan pengikut Syiah terkait akidah seperti ini, tapi lebih jauh, mereka memperingatkan pengikut Syiah untuk tidak duduk dengan orang-orang ghuluw.(8)

 

Catatan:

1. Lisan al-Arab, jilid 9, hal 113.

2. Pentakbiran ini berasal dari Imam Ridha as yang menolak orang-orang ghuluw. Muhammad Baqir al-Majlisi, Bihar al-Anwaar, al-Jamiah Lidurar al-Akhbar Aimmah al-Athar, Muassah al-Wafa, 1403 Hq, cet 1, jilid 25, hal 275.

3. Naser Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh, Tehran, Dar al-Kitab al-Islamiyah, 1373 Hs, cet 17, jilid 4, hal 221.

4. Begitu juga dalam surat at-Taubah, Allah Swt setelah menyebutkan ucapan tidak benar orang-orang Yahudi dan Kristen tentang Uzair dan Isa sebagai anak Tuhan, berfirman, "Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putera Allah" dan orang-orang Nasrani berkata: "Al Masih itu putera Allah". Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling?"

5. Muhammad bin Yazid Qazvini, Sunan Ibnu Majah, Beirut, Dar al-Fikr, jilid 2, hal 1008.

6. Bihar al-Anwar, jilid 25, hal 301.

7. Ibid, hal 294.

8. Ibid, hal 273 dan 261-349, Allamah Majlisi dalam jilid 25 Bihar al-Anwar menukil sekitar seratus riwayat tentang penafian keyakinan ghuluw dari pribadi Imam Maksum as. (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)

 

Sumber: Hoshdar-ha va Tahzir-haye Qorani, Hamid Reza Habibollahi, 1387 Hs, Markaz-e Pajuhesh-haye Seda va Sima.

Tags:


1Comments

Comments

Name
Mail Address
Description