Kemukjizatan Al-Quran (2)
Pada abad kedua Hijriah, muncul berbagai syubhah dan kerancuan tentang kemukjizatan al-Quran. Dalam mengingkari kenabian Rasulullah, sebagian orang menilai al-Quran sebagai ucapan manusia dan berusaha menciptakan ayat-ayat serupa seperti yang dilakukan oleh Ibnu Muqfa. Ia bahkan menulis kitab anti-Islam dan al-Quran. Kitab tersebut kemudian dijawab dan ditepis oleh Qasem bin Ibrahim Razi dalam kitabnya
«الرد علی الزندیق العین ابن المقفع» (الحمصی، 46)
Seluruh syubhah dijawab dalam kitab tersebut. Akan tetapi upaya mereka belum selesai karena Ibnu Muqfa bersama tiga kawannya sepakat untuk berkumpul di Masjidul Haram dan seraya mengolok keyakinan umat Islam mereka berencana untuk mengerjakan seperempat dari ayat-ayat tandingan al-Quran dan mengumpulkannya setahun kemudian. Tiba saatnya mereka berkumpul, masing-masing menyatakan tidak mampu dan gagal. Akan tetapi setahun kemudian, mereka putus asa dan tidak mampu. Imam Ja'far Shadiq as, melintas di depan pertempuan empat orang itu di Masjidul Haram seraya mengungkap rahasia mereka berempat dan ketidakmampuan mereka dengan membacakan ayat:
«قُل لَّئِنِ اجْتَمَعَتِ الإِنسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَن یَأْتُواْ بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآنِ لاَ یَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ کَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِیرًا» (الاسراء، 88)
Termasuk orang pertama yang mengingkari al-Quran dan berusaha menciptakan ayat-ayat tandingan al-Quran adalah Ja'ad bin Dirham. Ia beranggapan bahwa kefasihan al-Quran tidak ada kaitannya dengan kemukjizatan al-Quran dan setiap orang mampu menciptakan ayat seperti yang ada dalam al-Quran atau bahkan lebih baik (الحمصی، 35).
Bin Dirham mengungkapkan pernyataannya secara lantang tanpa rasa takut di Damaskus karena ia dilindungi oleh Dinasti Umayah, yang kala itu kekuasaan dipegang oleh Marwan bin Muhammad dari Bani Umayah. Bahkan sebagian kelompok menyebut khalifah Bani Umayah itu dengan julukan "Marwan Ja'di". Karena Ja'ad bin Dirham bukan saja termasuk orang dekat Marwan melainkan juga gurunya.
Menyusul munculnya keraguan dan shubhah tersebut, sejumlah ulama Islam pada akhir abad kedua terjun ke medan dan menulis banyak kitab dalam membuktikan kemukjizatan al-Quran. Dari telaah kitab-kitab pertama dalam hal ini terbukti bahwa pembahasannya lebih mengacu pada epistemologi bukan pada sastra. Karena tujuan dari penulisan kitab-kitab tersebut adalah penafian terhadap klaim-klaim para penentang al-Quran seperti kalimat-kalimat sulit dalam al-Quran atau kontradiksi yang ada dalam kitab suri tersebut. Oleh karena itu, hingga abad ketiga belum ditulis kitab tentang kemukjizatan al-Quran, akan tetapi lebih banyak ke arah pembuktian keotentikan al-Quran dan kenabian Rasulullah. Di antara kitab-kitab tersebut adalah:
«معانی القرآن»
«مجاز قرآن»
«الحجة فی تثبیت النبوه»
«تأویل مشکل قرآن»
«والدین والدوله»
Perlu ditekankan pula bahwa meski kitab-kitab tersebut lebih epistemologis namun pada hakikatnya kitab-kitab itu dapat dikategorikan sebagai kitab-kitab awal tafsir al-Quran. Para pengarangnya menggunakan banyak sekali istilah-istilah sastra. Dapat dikatakan bahwa kitab-kitab tersebut merupakan perintis pembahasan balaghah dalam membuktikan kemukjizatan al-Quran.
Upaya para ulama pada masa itu dapat disimpulkan dalam beberapa poin:
1- Menguak keindahan kata dan makna dalam al-Quran dengan bersandarkan pada kefasihan dan metode penjelasan dalam kitab langit itu. Meski indah dan fasih, akan tetapi tidak rumit.
2- Menjawab kritikan yang dilakukan orang-orang yang berupaya menciptakan ayat tandingan al-Quran, dan juga adanya kontradiksi dalam al-Quran.
Munculnya Kritikan Baru
Setelah itu muncul masalah baru tentang al-Quran dalam dua kelompok Ahlussunnah, meski tidak secara langsung berhubungan dengan kemukjizatan al-Quran, akan tetapi masalah tersebut sangat mempengaruhi munculnya pandangan para pakar epistemologi dari mazhab Mu'tazilah termasuk Nezam Neyshabouri, terkait kemukjizatan al-Quran.
Masalah tersebut berkenaan dengan qadim dan hadits al-Quran. Oleh karena itu para pakar hadis seperti Ahmad bin Hanbal meyakini ke-hadits-an al-Quran, sementara Mu'tazilah meyakini ke-huduts-an al-Aquran dan pada akhirnya mereka membela unsur kemakhlukan al-Quran. Pada hakikatnya, masalah ini merupakan salah satu pembahasan ilmiah pada masa itu dan bahkan berubah menjadi parameter kekufuran dan iman. Akibatnya terjadi aksi pengkafiran antara pakar hadis dan Mu'tazilah.
Pada awal abad ketiga, salah seorang pakar epistemologi Mu'tazilah bernama Abu Ishaq Ibrahim Nezam Neyshabouri, mengemukakan pendapat baru tentang kemukjizatan al-Quran yang disebutkan dalam kitab tafsir dan ulumul Quran berjudul «نظریه صرفه». Inti dari pandangan tersebut adalah bahwa al-Quran dari sisi kefasihan dan balaghah, dan metodenya tidak memiliki kriteria khusus, melainkan setara dengan ungkapan manusia. Oleh karena itu, manusia dapat menciptakan ayat yang sama seperti al-Quran, akan tetapi sebab ketidakmampuan manusia dalam melawan al-Quran adan ketakutan hebat yang Allah Swt tanamkan pada hati pengingkar al-Quran yang pada akhirnya membuat mereka mengurungkan niat. Nezam Neyshabouri pada saat yang sama berpendapat bahwa al-Quran menyimpan mukjizat karena mencakup ilmu-ilmu dan masalah-masalah ghaib, akan tetapi dari sisi metode, dapat ditiru.
Perlu ditekankan pula bahwa saat ini tidak ada lagi jejak dari pemikiran Nezam Neyshabouri. Akan tetapi pandangannya dijelaskan oleh banyak ulama, epistemolog, penafsir, dan penulis sejarah seperti Abul Hasan Asy'ari, Abdul Karim Shahrestani, Abu Bakr Baqillani, dan lain-lain.
Poin yang perlu diperhatikan adalah bahwa munculnya pandangan Neyshabouri itu menciptakan gelombang pembahasan baru. Pertanyaan utama para ahli epistemologi, sastra, dan penafsir al-Quran adalah apakah benar bahwa kefasihan, balaghah, dan metode dalam al-Quran, tidak berbeda dengan metode dan kefasihan yang digunakan manusia? Jika seandainya berbeda, lalu parameter dan ketentuan apa yang dapat membedakan ungkapan al-Quran dan selainnya?
Banyak ulama dan cendikiawan Muslim mulai dari pakar epistemologi, sastra, dan penafsir, berusaha membuktikan perbedaan unsur balaghah al-Quran dengan selain al-Quran. Sejak itulah, ilmu balaghah lahir, meluas dan sempurna. Termasuk ulama pertama yang menentang Nezam Neyshabouri, adalah muridnya sendiri yaitu Amr bin Bahr.
Salah satu pendapat menarik dalam masalah balaghah adalah milik Abu Sulaiman Ahmad bin Muhammad Khitabi. Ia merupakan ulama teoritis ternama dalam kemukjizatan al-Quran. Meski pembahasan ini termasuk pembahasan ilmiah sulit, namun Khitabi menjelaskannya dengan gamblang mengenai kemukjizatan al-Quran dari sisi balaghah.
Pertama ia menjelaskan tentang sejarah munculnya pembahasan tentang kemukjizatan al-Quran dan kesulitan pembahasan dalam masalah tersebut. Dalam hal ini ia mengatakan, "Pada masa lalu, banyak pembahasan dan pendapat yang berbeda dalam masalah ini. Namun saya tidak melihat mereka semua dapat memperjelas masalah karena makrifat dan sisi kemukjizatan al-Quran serta pengetahuan terhadap hakikat dan kualitasdari masalah tersebut, adalah masalah yang sangat sulit."
Khitabi mengkritik pendapat para ulama sebelumnya dengan:
1- Sejumlah ulama meyakini pendapat Neyshabouri dalam masalah kemukjizatan al-Quran. Pendapat tersebut tidak benar
2- Sebagian orang berpendapat bahwa kemukjizatan al-Quran terletak pada berita-berita tentang peristiwa di masa depan, dan pandangan tersebut dapat dibenarkan akan tetapi tidak berlaku untuk semua ayat.
3- Sebagian besar ulama berpendapat bahwa balaghah merupakan letak kemukjizatan al-Quran, pendapat ini benar.
Khitabi menyatakan bahwa balaghah merupakan tingkat teratas kemukjizatan al-Quran dan ia menjelaskan pula ketidakmampuan manusia untuk menyusun ucapan dan ungkapan seperti ayat-ayat al-Quran dalam beberapa alasan:
- Manusia tidak menguasai seluruh kata dan kalimat yang mencakup seluruh maknanya.
- Manusia tidak mengetahui seluruh makna yang terkandung dalam setiap kata.
- Berkaitan dengan peran pengetahuan manusia terhadap prioritas urutan, penggabungan, dan keterikatan antarmasing-masing kata. Bahwa manusia tidak mampu memilih susunan terbaik.
Lebih lanjut Khitabi menjelaskan bahwa:
1- Setiap kata bermakna.
2- Makna bergantung pada kata.
3- Robit (penghubung), yakni unsur yang mengatur susunan antara kata dan makna. Dan menurut Khitabi, ketiga unsur tersebut dalam sebuah ungkapan, memberikan poin unggul ungkapan tersebut dibanding ungkapan lain. Akan tetapi ketiga unsur tersebut dalam al-Quran mencapai tingkat yang paling tinggi dan sempurna. Oleh karena itu, kefasihan dan balaghah dalam al-Quran merupakan mukjizat.
Akan tetapi di samping argumentasinya tersebut, Khitabi juga menjelaskan dalih lain yaitu bahwa salah kemukjizatan paling penting al-Quran adalah pengaruhnya pada jiwa dan hati manusia.
* Penulis: Doktor Majid Maaref, seorang dosen Universitas Tehran.
(IRIB Indonesia/MZ)